
3 hari kemudian...
Denny datang menemui Santana. Ada yang membuat hati Denny tak lega selama ini. Hari ini ia akan menyampaikan hal itu pada Santana.
"Denny, ada apa? Tumben pagi-pagi sekali," ujar Santana menyambut Denny yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya.
"Boleh aku masuk dulu, Mas?" tutur Denny. Ekspresi wajahnya begitu datar. Seperti memendam emosi yang tidak bisa ia sampaikan.
Santana langsung mempersilakan Denny untuk masuk dan duduk di ruang tamu. Kemudian ia mulai bertanya pada Denny, tentang maksud kedatangannya. Walau Santana dibuat canggung oleh sikap Denny yang tak seperti biasanya.
"Den, ada apa? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Santana hati-hati. Ia tak ingin bahasa atau kalimatnya memicu keributan. Meski tak dipungkiri, kedatangan tamu berwajah masam bukanlah hal yang diharapkan.
"Iya, Mas. Lebih dari sekedar mengganggu pikiran. Tapi, hal itu juga mengganggu ketentraman jiwaku," tutur Denny penuh penekanan.
"Apa aku penyebabnya? Hingga dirimu datang dengan wajah masam dan muram?" imbuh Santana. Ia mencoba mencari tahu. Apa kiranya yang membuat Denny demikan terganngu.
"Maaf, jika aku membuatmu tersinggung, Mas. Tapi, bolehkah aku bertanya apa maksudmu?," ujar Denny. Ia mengajukan pertanyaan yang membuat Santana semakin kebingungan.
__ADS_1
"Maksud yang mana, Den? Bisakah kamu tidak berblit-belit agar aku lebih muda memahami arah pembicaraanmu?" tegas Santana.
"Baiklah, karena Mas yang meminta, maka aku akan menjelaskannya secara gamblang," kata Denny tak kalah tegas.
"Apa maksudmu? Menyuruh seseorang memesan kue-kue dan makanan ringan dari istriku? Apa Mas meragukan kemampuanku untuk menfkahi Mariam, dan Shaka? Mengapa kamu melakukan hal itu Mas? Tidakkah kamu menyadari bahwa hal itu membuatku merasa diremehkan?" Berondong Denny membuat bibir Santana tercekat.
"Iya ... T-Tapi, kamu tahu dari mana semua itu? Sungguh aku tidak bermaksud seperti itu. Kamu jangan salah paham dulu padaku, Den," gagap Santana.
"Kalau begitu, katakan sebuah alasan. Agar aku tidak salah paham padamu, Mas. Aku akan menerimanya jika itu masuk di akal," tantang Denny.
"Lalu, mengapa Mas melakukan hal itu dengan sembunyi-sembunyi? Apa Mas takut aku akan melarangnya? Apa menurutmu itu masuk akal, Mas?" cecar Denny.
Santana hanya diam. Tidak ada kata lagi untuk dirinya mengelak dari pertanyaan Denny. Wajah Santana mulai terlihat gusar.
"Kalau niatmu memang murni demi memikirkan Shaka. Kamu bisa datang ke rumahku lewat pintu mana saja, Mas. Aku tidak akan mencegah apa lagi melarangmu," tandas Denny.
"Maafkan aku, Den. Tadinya aku pikir tindakanku ini sudah benar. Dengan membantu Mariam mendapatkan uang tambaha agar ia tak merasa canggung padamu karena ada Shaka yang bukan anak kandungmu tapi, harus kamu nafkahi," ucap Santana membela diri.
__ADS_1
"Hey ... Mas, tolong jaga ucapanmu. Shaka memang bukan anak kandungku. Tapi, aku betanggung jawab atasnya dimulai sejak detik saat aku mengikrarkan janji suci pernikahanku dengan Mariam. Segala yang bersangkutan dengan Mariam, sudah menjadi urusanku termasuk memberikan yang terbaik bagi Shaka," Denny semakin meradang.
"Kamu pikir aku bodoh, Mas? Aku tahu kalau sebenarnya kamu sedang mengkhawatirkan perasaanmu sendiri. Bukan perasaan Mariam, atau pun Shaka. Caramu ini sungguh membuatku tersinggung, Mas," lanjut Denny.
"Padahal jika Mas mau. Mas boleh datang kapan saja menemui Shaka dan memberikan hak-haknya. Tidak perlu sembunyi-sembunyi di balik perasaan tak enak hatimu. Karena yang sebenarnya, kamu masih mencintai Mariam, bukankah begitu?" Mata Denny memerah menahan gejolak amarah.
Sementara Santana tidak bisa beralasan lagi. Memang benar, semua yang dikatakan Denny, adalah benar. Tentang dirinya yang masih mencintai Mariam adalah kebnaran yang tidak bisa dipungkiri.
"Baiklah, Den. Sekali lagi aku minta maaf! Aku berjanji mulai sekarang tidak akan ada sembunyi-sembunyi lagi. Tapi, bolehkah aku bertanya, dari mana kamu mengetahui semua ini?" ucap Santana penasaran.
"Itu tidaklah lebih penting, Mas. Dari siapa dan dari mana aku mengetahuinya, itu tidak akan merubah keadaan. Aku hanya bisa meminta padamu dengan sangat. Sadarilah Mas, Mariam kini istriku. Dia Milikku dan aku tidak akan pernah melepaskannya lagi. Sampai kapan pun!" Denny bergegas meninggalkan rumah Santana.
Santana memejamkan matanya. Meresapi semua kata-kata Denny. Sungguh ia merasa kali ini hatinya lebih lemah dari sebelumnya.
Sementara Denny, kini sudah merasa lega. Apa yang membuat hatinya bimbang kini sudah sirna. Rupanya ketika itu, di mana ia berpamitan untuk mengurus pekerjaan tempo hari, adalah hari di mana Denny menyelidiki semuanya dan mendapatkan kenyataan ini. Kenyataan tentang Santana yang diam-diam masih memikirkan Mariam. Hal itu membuat Denny tidak terima.
Bersambung....
__ADS_1