
Memiliki raga yang tak selaras dengan hatinya, memanglah sangat menyesaakan jiwa. Seperti jasad tanpa nyawa. Bagai pelita tanpa sumbu, gelap tak bisa menyala. Itulah yang menggambarkan perasaan Davina, saat Santana masih saja menautkan hati pada masa lalunya.
Davina membenamkan tubuh polosnya di dalam selimut. Sementara, Santana duduk bersandar di kepala ranjang. Ia menoleh ke arah Davina, kemudian memberi kecupan di kening istrinya yang sudah reda dengan emosinya.
"Mas, apa yang harus aku lakukan agar hatimu tidak lagi condong pada masa lalumu?" tutur Davina lirih dengan mata yang sesekali terpejam.
"Sayang, biar aku jelaskan dan tolong untuk menerimanya! Aku bisa saja lepas dari masa laluku dengan Mariam, tapi aku tidak bisa jika harus benar-benar lepas dan melupakan tanggung jawabku pada Shaka. Kamu juga tahu 'kan? Shaka sudah banyak menderita karena kegagalanku," jelas Santana.
"Jadi, yang kamu galaukan tadi adalah Shaka?" tanya Davina lagi.
"Apa aku terlihat memikirkan wanita lain selain istriku yang cantik paripurna ini," rayu Santana.
"Maafkan aku, Mas, aku terlalu cemburu pada Mariam. Hingga aku menuduhmu macam-macam." Davina bangkit dan merengkuhkan peluknya pada Santana.
Santana tersenyum sembari membelai lembut rambut istrinya yang sedikit kusut dan berantakan karena ulahnya tadi. Meski kecemburuan Davina tidak sepenuhnya salah, tapi Santana tidak ingin berlarut-larut dalam pertengkaran itu. Biarlah ia sendiri yang meredam secuil ingatan yang masih membekas tentang Mariam, wanita hebat yang telah menjadi ibu dari anaknya, Shaka.
"Ayo, Sayang, kita harus mandi ...," Santana menggendong istrinya itu menuju kamar mandi.
Menjadi laki-laki memanglah harus pandai mehami dan mengerti perasaan wanitanya. Tidak perduli meski harus sedikit berbohong dan menyembunyikan yang sebenarnya. Asal senyuman dari bibir wanita yang menjadi tanggung jawabnya, tidak sirna dan berubah menjadi air mata kesedihan.
__ADS_1
Di dalam kamar mandi itu. Sesuatu yang menyenangkan sedang berlangsung. Merontokkan sisa-sisa kesedihan yang sebelumnya merundungi perasaan Davina. Sampai mereka memutuskan untuk menyudahi dan keluar untuk berganti pakaian. Harum semerbak dari tubuh keduanya pun tercium. Bersih, segar , mewangi memanjakan indera penciuman.
Santana memperlakukan Davina penuh manja. Membuat Davina berbunga seolah tuan putri yang paling bahagia. "Maafkan aku, Davina. Maafkan aku yang sudah membuatmu menangis." Batin Santana.
***
"Ibu, Shaka ingin main bersama Dicky, tapi ayah tidak menjemput Shaka ke sini," tutur Shaka sembari mengerucutkan bibirnya.
"Ayah yang akan mengantarkan Shaka ke sana," ucap Denny yang datang secara tiba-tiba.
"Mas, apa tidak akan mengganggu mereka nantinya?" tutur Mariam dengan tatapan penuh keraguan.
"Kalau mereka merasa terganggu dengan kehadiran Shakaku, aku pastikan mereka tidak akan bisa menemui Shaka lagi!" tegas Denny.
"Jangan menggumam di dalam hati! Aku bisa mendengarnya," ucap Denny sembari tertawa.
"Mas ini, membuat aku kaget saja ...," kata Mariam seraya membuang napas kasar.
"Tidak, Sayang, aku hanya bergurau. Ayo, Jagoan Ayah .... bersiaplah untuk pergi ke sana!" Denny mengacak pelan rambut Shaka sembari mengedipkan sebelah matanya pada Mariam.
__ADS_1
"Dasar nakal ...," ucap Mariam lirih.
Shaka pun bersiap. Bocah itu berjingkrak senang saat dirinya mendapatkan apa yang diinginkan. Segera saja Denny mengantarnya menuju rumah Santana, setelah berpamitan pada Ibu dan juga Mariam. Sepeda motor Denny, dengan setia menjadi pengganti kaki mereka untuk menempuh perjalanan.
"Ayah, kalau Shaka sudah dewasa nanti, Shaka ingin jadi seperti Ayah," celotehnya.
"Kenapa harus seperti Ayah? Jadilah seseorang yang lebih hebat dari ayahmu ini," jawab Denny.
"Tidak, Ayah ... tidak ada yang lebih hebat dibanding Ayah. Ayah selalu membuat Ibu tersenyum, Ayah juga menyayangi Shaka. Padahal, Shaka terkadang nakal," tutur bocah itu selama dalam perjalanan.
"Kamu ini padai sekali memuji, Sayang," sahut. Denny lalu tersenyum.
"Itu bukan sebuah pujian, Ayah. Itu hanya sebuah penilaian!" imbuh Shaka dengan sedikit penekanan.
"Baiklah, siapa yang mengajari Jagoan Ayah hingga begitu pandai seperti ini?"
"Tentu saja, Ibu guru di sekolah tapi, kalau di rumah, Shaka diajari Ibu, dan juga Nenek." Tandasnya.
Denny tertawa mendengar penuturan Shaka, yang sangat menggemaskan itu.
__ADS_1
Bersambung ....
Hayo, nungguin ya? Sama, author juga selalu nungguin dukungan dari readers semua. 😊🥰