Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
Bab 99 Pelukan Terakhir


__ADS_3

Tidak lama setelah bersiap. Mereka berangkat menuju rumah Irwan. Firasat hati Dicky nampak tak tenang. Bocah itu diam seribu bahasa di sepanjang jalan menuju ke tempat di mana ibunya berada. Bibirnya bungkam seperti terkunci, tidak ada suara dari mulut mungil itu, kecuali hanya sedikit isakan dan lelehan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Ia terus teringat pada Asih, ibu yang sudah melahirkannya ke dunia. Ibu yang dalam darahnya mengalir air susu dan untaian kasih sayang, meski tak sesempurna yang ia harapkan.


"Sayang, apa Dicky tahu, Ibu Davina rasa, Ibu Asih tidak akan senang jika melihat Dicky terus menangis seperti ini," bujuk Asih.


Bocah itu merangkulkan tangannya pada tubuh Davina. Kala itu mereka duduk di kursi mobil bagian belakang atas perintah Santana, agar Davina menemani Dicky. Davina membalas pelukan bocah laki-laki yang terus menangis itu.


"Sudah, Sayang, sebentar lagi kita akan sampai. Pastikan ibumu tidak melihat air matamu itu, oke!" tutur Davina, lagi-lagi ia berusaha membujuk Dicky agar tidak menangis lagi.


Mereka pun kini telah sampai. Di halaman yang membentang luas dan sangat terbuka. Mereka langsung menuju ke rumah Irwan yang merupakan tetangga Arifin itu.


Layaknya orang yang sedang bertamu. Santana, dan Davina, mengetuk dan mengucap salam ketika sudah berada tepat di depan pintu rumah Irwan. Samar-samar terdengar, suara Irwan menyahut dari dalam.


"Silakan masuk, Pak, Bu," ucap Irwan seraya menyambut Dicky dan menuntunnya.


"Bu, Pak, mohon tunggu sebentar! Ibu Asih sedang digantikn pakaian oleh istri saya," tutur Irwan pada Santana, dan Davina.


"Separah itukah keadaan Asih, hingga mengganti pakaian saja ia tak bisa melakukannya sendiri?" bayin Santana betanya-tanya.


"Baik, Pak Irwan, kami menunggu," jawab Santana akhirnya, sementara Davina, hanya mengangguk dan tersenyum.


5 menit kemudian. Terlihat seorang wanita memapah tubuh Asih. Ia adalah Ira, istrinya Irwan. Wanita itu dengan sabar terus membimbing Asih hingga sampai di ruang tamu di mana mereka semua berkumpul.


"Ibu ...," lirih Dicky yang tidak tahan melihat Asih dengan keadaannya sekarang. Badan Asih nampak sangat kurus tak berdaging. Wajahnya pucat pasih, tidak ada lagi cahaya di sana.


"Dicky ...," panggil Asih, sembari melambaikan tangannya yang lemas bagai tak bertenaga.


Dicky menghambur memeluk Asih. Air matanya tumpah ruah. Isakan tangis mendominasi dalam ruang itu. Semua orang di sana hanya bisa tertunduk diam dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Dicky, Ibu minta maaf," bisik Asih lirih di telinga Dicky. Suara yang biasanya terdengar lantang. Kini lirih berbisik begitu halus bahkan nyaris tak dapat di dengar dengan jelas.


Suara tangis Dicky kian mengeras mana kala Asih berbisik di telinganya. Bocah itu seperti tidak mau menerima keadaan ibunya seperti yang ia lihat saat ini. "Bu, bicaralah lebih keras! Ayo marahi Dicky lagi, Bu. Jangan seperti ini, Bu," racau Dicky dalam sedu sedannya.


Terlihat buli-bulir bening mulai menggenangi ceruk mata Asih. "Tidak, Nak, jangan menangis! Ibu sayang Dicky," ucap Asih, masih dengan suara yang nyaris hilang.


Davina, juga Ira, tidak kuasa menahan matanya untuk tidak menangis. Pemandangan itu sungguh menyayat hati dan mengoyak perasaan mereka. Dapat dibayangkan, bagaimana pedihnya melihat orang yang dicintai dalam keadaan seperti itu.


Cukup lama Asih, dan Dicky saling memeluk. Seolah keduanya tidak ingin saling melepaskan. Sisa-sisa tangis masih merundungi Dicky dengan napas yang tersendat-sendat ketika akhirnya mereka saling melepas peluk.


"Mas Santana," ucap Asih lirih. Suara menyebalkan yang biasa membuat kegaduhan itu kini tidak ada pada Asih.


Santana menatap Davina. Ia mengisyaratkan Davina, agar memberikan kesempatan bagi dirinya, dan Asih untuk berbicara. Davina memahami hal itu, ia pun mengangguk tanda bahwa dirinya memberikan izinnya.


"Mas Santana," ucap Asih lagi.


"Aku minta maaf, Mas. Tolong jaga Dicky! Arifin tidak bisa," papar Asih sembari mengisyaratkan kata 'tidak bisa' dengan gerakan tangannya.


"Kamu tenang saja, Asih. Aku, dan juga istriku, Davina, akan menjaga Dicky dengan baik. Kami menyayangi Dicky seperti putra kami sendiri.


Asih menganggukkan kepalanya. Ia tersenyum tipis di bibir yang tak lagi segar itu. Kemudian, ia mengisyaratkan tangan ke arah Davina. Asih meminta sebuah pelukan dari Davina. Tanpa menolak, Davina langsung memeluk Asih yang bagai tulang berbungkus kulit, nyaris seperti tidak ada daging yang menempel di tubuh Asih yang semula padat dan sintal itu.


"Maafkan aku, Davina. Mungkin, aku akan lebih merepotkanmu lagi setelah ini," bisik Asih sembari menepuk-nepukkan tangan dengan sisa tenaganya di punggung Davina.


"Dicky, jangan nakal, ya! Jangan buat Ayah Santana, dan juga Ibu Davina marah. Ibu sudah harus pulang, Nak, Ibu sudah selesai," ucap Asih.


Ucapan itu sama sekali tidak dimengerti, baik oleh Dicky atau yang lainnya. Karena mereka masih berharap, Asih masih bisa sehat dan pulih seperti sedia kala. Tidak terlintas sedikit pun di dalam benak mereka, akan sesuatu hal yang buruk.

__ADS_1


Asih memohon pada Ira, untuk mengambilkan susu, gelas dan juga air hangat. Dengan cekatan, istri dari Irwan itu mengambilkan apa yang Asih minta. Kemudian memeberikannya.


"Ibu Asih, ini susu, dan air hangatnya," seloroh Ira, yang tak lupa memberikan gelas kosong dan juga sendok.


Dengan tangan gemetar, Asih meracik susu itu. Ia bahkan menolak bantuan dari semua orang yang ada, ketika dirinya menuangkan air panas yang telah dicampur dengan sedikit air dingin itu, sehingga menjadi hangat. Setelah selesai, Asih mengaduk pelan susu itu, kemudian memberikannya pada Dicky. "Minumlah, Nak," pinta Asih.


"Dicky, ambilah, Nak, Ibumu membuatkan susu," titah Santana.


Dicky pun mengambil dan meneguk susu buatan Asih itu sampai habis tak tersisa. Asih tersenyum kala melihatnya. Sorot matanya seperti kosong dan jauh dari tempatnya berada. Tubuh Asih melemah. Napasnya berhenti seiring dengan tangan Dicky yang menarus gelas susu yang sudah kosong itu di meja.


"Ibu Asih," kata Ira sembari mengguncangkan pelan tubuh Asih. Ira memanggilnya berkali-kali namun, tidak ada respon dari Asih. Tubuhnya kini terbujur kaku.


Irwan mengecek denyut nadi di tangan dan leher Asih. Napas Irwan terpekik tatkala mendapati Asih sudah tiada. Denyut nadinya berhenti, begitu juga dengan napasnya. Asih pergi setelah memberikan pelukan terakhirnya, dan membuatkan susu untuk Dicky.


"Ibu ...," jeritan itu keluar dengan nyaring dari mulut Dicky. Suaranya pilu dan begitu mengiris hati.


"Mas Santana, cepat tenangkan Dicky," pinta Davina, dengan suara parau karena tangis yang tak kuasa ia bendung.


"Innalillahi wa innailaihi roji'un," ucap semua orang.


Asih kini telah tiada. Di pangkuan sang malam, di tengah hangatnya dekapan, dalam teduhnya sebuah maaf, Asih kini pergi meninggalkan terjalnya jalan takdir yang telah ia lalui semasa hidup.


Bersambung ....


Detik-detik menju tamat ya, guys. Mungkin ada 1 atau 2 bab lagi. Biar gak rindu sama othor, baca juga karya othor yang lainnya, ya. Mohon dukungannya. Love you all .... ❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_1


Jangan lupa mampir, ya!


__ADS_2