
"Maafkan aku yang masih tak pandai menyikapi hatiku sendiri. Aku tahu bahwa memilikimu lagi adalah hal yang tidak akan mungkin. Namun, izinkan aku tetap mencintai meski tidak dicintai kembali," ucap Santana berbicara pada potret usang Mariam.
Santana menyadari betapa luka Mariam, dan Shaka masih menganga karena dirinya. Luka yang disebabkan perginya yang begitu lama tanpa pesan. Luka yang kembali ditorehkan di atas luka yang masih basah terkena luruhan air mata.
Setidaknya Santana kini bisa memastikan bahwa tanpa dirinya Mariam, dan juga Shaka sudah baik-baik saja. Tinggalah dirinya yang kembali disiksa rindu. Tinggalah sepinya yang kembli menemani pagi dan malamnya.
"Selamat malam, jagoan Ayah," ujar Santana lalu mengecup potret wajah Shaka. Santana menggelepak bersama rasa rindu dan patahnya yang tak kunjung berganti. Harapan kini tinggal harapan, menyesal pun tiada berguna.
***
Keesokan paginya....
Keluarga bahagia Denny, dan juga Mariam sedang hangat bercengkerama bersama Ibu, dan juga Shaka. Sesekali terdengar renyah suara tawa di antara mereka. Benar-benar kebahagaiaan yang tiada tara.
Tok tok tok!
Suara ketukan pintu terdengar pelan. Ibu Denny bangkit dari duduknya dan hendak membukakan pintu. Namun, Mariam mendahuluinya. "Biar Mariam saja, Bu, yang membukakan pintu" ucap Mariam lalu bergegas.
Mariam sampai di depan pintu dan memegang handle pintu lalu memutarnya. Klek... reettt! Pintu itu akhirnya terbuka dan Mariam benar-benar terkejut melihat siapa yang datang. Cukup lama Mariam mematung dengan tatapan tak percaya.
"M-Mas Santana," gagap Mariam yang merasa terkejut. "Iya, Mariam ... Aku hanya ingin menemui Shaka, bolehkah?" ucap Santana. Mariam mengangguk lalu memutar badan untuk memanggil Shaka tapi, ternyata Shaka, dan Denny sudah berdiri di belakang Mariam.
"M-Mas ... Dia ingin bertemu Shaka," tutur Asih pada Denny. "Biarkan saja, Sayang!" jawab Denny singkat. "Ayaaaaaah...," Shaka berlari menghambur pada pelukan santana.
Santana langsung menyambutnya dengan membungkuk sembari merentangkan kedua tangannya. "Putra Ayah," ucap Santana lalu melayangkan tubuh Shaka di udara dan menangkapnya kembali. Terlihat wajah ceria yang memancar dari bocah laki-laki itu.
Santana menurunkan Shaka, lalu kembali bicara pada Mariam, dan Denny yang sedari tadi menyaksikan tingkahnya bersama Shaka. "Mariam ... Denny, bolehkah hari ini aku mengajak Shaka bermain?" tutur Santana. Saat Mariam membuka mulutnya dan hendak berkata 'tidak' Denny mendahului Mariam. "Tentu saja, Mas ... Shaka sudah menantikan hal itu sangat lama," sindiran yang sekaligus menjadi jawaban persetujuan untuk Santana.
__ADS_1
Santana merasa diri saat Denny melontarkan kalimat itu. Ia menunduk meneguk saliva lalu berterima kasih atas izin yang diberikan. Santana pun mengajak Shaka pergi.
"Ayah Denny, Ibu ... Shaka pergi bersama Ayah dulu, ya" pamit Shaka sembari menyalami dan mencium tangan keduanya. "Baiklah jagoan, bersenang-senanglah," tutur Denny sembari mencubit gemas pipi Shaka. Mariam hanya diam dan memaksakan senyum di bibirnya.
Langkah kaki Santana semakin jauh membawa Shaka. Hingga saat mereka sudah tidak terlihat lagi dari pandangan Mariam, juga Denny. Mereka pun kembali melanjutkan aktifitas yang tadi sempat tertunda karena kedatangan Santana.
"Mas, apa Shaka akan baik-baik saja? tanya Mariam khawatir. "Tentu saja, Sayang. Santana tidak akan berani macam-macam pada anaknya sendiri," jawab Denny mencoba menenangkan Mariam.
***
"Shaka, apa Ayah Denny memperlakukan Shaka, dan Ibu dengan baik?" tanya Santana sembari menikmati ek krim yang dia belinya bersama Shaka. "Tentu saja, Ayah ... Ayah Denny adalah malaikat pelindung bagi Shaka, dan Ibu. Ayah Denny membuat Ibu tersenyum sepanjang hari " tutur Shaka polos.
Ada yang berdenyut nyeri di dada Santana saat mendengar kalimat itu. Ada sedikit kecemburuan dan sesal karena bukan dirinya yang membuat Mariam, juga Shaka bahagia. Namun, Santana kembali diingatkan pada dosa-dosa masa lalu yang sudah ia lakukan terhadap anak dan istrinya.
"Ayah, apa ayah sekarang sudah menyayangi Shaka?" tanya Shaka dengan wajah polosnya. Santana semakin ngilu mendengar pertanyaan semacam itu dari Shaka. Pertanyaan yang seakan menunjukkan bahwa selama ini dirinya tidak ada dalam daftar orang yang harusnya menghadirkan kasih sayang untuk Shaka.
Santana baru mengerti mengapa Shaka tidak membemci dirinya. Ternyata Mariam selalu mengatakan hal-hal yang baik tentang Santana. Entah mengapa bukannya merasa bahagia justru denyutan nyeri itu semakin terasa di dalam dadanya.
"Mariam, Shaka memang benar! Aku adalah ayah kandungnya tapi, aku tidak layak menjadi suamimu" batin Santana mengenang kata-kata Shaka tempo hari. Santana kembali diam tertunduk lesu menyadari segala hal yang mengingatkan dirinya pada rasa bersalah dan sesal.
"Shaka, ada yang ingin Shaka beli lagi, Nak?" tanya Santana saat melihat es krim Shaka yang sudah hampir habis. "Apa boleh, Yah?" ucapnya. "Tentu saja, katakan Shaka mau beli apa lagi sekarang?" kata Santana antusias.
"Ibu suka ayam bakar, Ayah. Bolehkah kita membelinya untuk Ibu dan juga Nenek di rumah? ujar Shaka. "Seperti yang Shaka mau, Sayang!" Santana menggendong Shaka menuju sebuah warung ayam bakar.
Sampailah di warung ayam bakar yang di tuju. Tercium harum dari aroma ayam bakar yang menggugah selera. Santana memesan 3 posi untuk di bawa Shaka pulang, dan 2 porsi untuk mereka makan di tempat.
"Apa Shaka sudah lapar? tanya Santana seraya mengusap lembut pucuk kepala Shaka. "Sebenarnya tidak, Ayah, tapi, karena baunya sangat enak Shaka menjadi lapar" jawab Shaka. Santana tertawa mendengar jawaban Shaka yang menurutnya lucu.
__ADS_1
Sakit memang, karena saat ini ia hanya bisa mengajak Shaka tanpa Mariam dan itu saja sudah syukur karena Mariam, dan juga Denny memberikan izin. Mau bagaimana lagi semuanya sudah menjadi jalan takdir yang harus ditempuh oleh Santana. Meski sesak dan perih di dalam dadanya namun, Santana senang karena masih ada yang tersisa.
Santana berusaha menyembunyikan kesakitannya itu dan menelannya bersama ayam bakar yang sedang disantapnya. "Bagaimana rasanya, Nak?" tanya Santana di sela-sela makannya. "Enak sekali, Ayah" jawab Shaka sembari tetap sibuk dengan makanannya.
Ada senyum yang mengembang di bibir Santana. Akhirnya ia bisa memanjakan Shaka setelah bertahun-tahun ditelantarkan meski bukan atas kemauannya. Santana kerap menghentikan suapannya demi memperhatikan rona bahagia dari wajah Shaka yang sedang lahap makan ayam bakar.
Sebenarnya Santana belum puas mengajak Shaka bermain. Namun, khawatir akan membuat Mariam cemas menunggu Shaka pulang dan malah akan mempersulit dirinya kalau nanti ingin mengajak Shaka lagi di hari yang lain. Jadi, Santana terpaksa mengembalikan Shaka pulang sesaat setelah ritual isi perutnya usai.
Bersambung....
Hai kesayangan yang selalu setia membaca karya author... terima kasih ya luv💖. Sembari menanti update selanjutnya kita mampir dulu ke karya temanku yang pastinya seru dan juga bikin penasaran...👇👇👇
Karya : yanktie ino
Bulrb _kesandung cinta anak bau kencur_
Steve pemuda ganteng yang telah dua kali di sakiti karena pengkhianatan. Dia lalu menjauh dari lawan jenis.
Namun siapa sangka dia malah tertarik pada gadis kecil adik temannya.
Gadis kecil yang sulit dia dapat karena mengira Steve beda keyakinan, sebab sejak ibunya meninggal memang steve ikut omanya.
Saat mereka mulai dekat, ada saja batu sandungan dari pemuja Steve
Mampukah Steve memiliki cinta anak bau kencur itu?
Mampukah si kecil bertahan terhadap badai kiriman pemuja Steve?
__ADS_1