
Satu minggu berselang....
Santana menantikan kesegeraan Arifin untuk datang dan memberikan penjelasan sejelas jelasnya kepada Mariam. Tentang perginya yang begitu lama dan tanpa kabar. Tentang sikapnya yang berubah dari penyayang menjadi raja tega yang tak punya perasaa.
Meski Santana tahu pada akhirnya, ia tetap tidak bisa membuat Mariam kembali padanya. Meski dirinya terpaksa harus melepaskan Mariam dan merelakan Mariam bahagia dengan hidup barunya. Namun, sejujurnya untuk melupakan setiap kenangan bersamanya, Santana masih tertatih.
Santana tetap siaga berharap, menanti-nanti Arifin akan menepati janjinya. "Cepatlah datang Arifin, aku sudah lama menunggu kebenaran itu akan diketahui. Biar hatiku remuk terkoyak sebab cintaku yang kini telah pergi, asalkan Mereka menyimpanku dalam memori yang indah."
Santana tak tenang dalam bangun dan tidurnya. Namun, ia tetap berusaha menguasai diri dan mengendalikan keadaannya. Kini hatinya sudah menolak dengan tegas untuk dihancurkan lagi oleh Arifin, semua kepahitan yang berasal dari orang itu telah Santana cukupkan.
***
Lita dan Umar berkunjung ke rumah Denny. Mereka bermaksud menawarkan kerja sama dengan Mariam. Rencananya, Lita dan Umar akan memberi wadah bagi Mariam untuk menjual kue-kue buatannya di toko milik mereka. Kebetulan Umar dan Lita memiliki sebuah toko kelontong yang selama ini menjadi mata pencaharian mereka.
"Mas, Den... aku mau bicara pada Mbak, tolong bantu" bisik Umar di telinga Denny. "Suruh Lita saja, kan biasanya nyambung kalau sesama wanita," usul Denny. "Bisa habis aku sampai di rumah nanti, soalnya Lita sudah wanti-wanti sejak dari rumah, supaya aku yang bicara pada Mbak," sanggah Umar tetap meminta agar Denny yang bicara pada Mariam.
"Ah, dasar kamu, sama istri saja takut" olok Denny. Umar menutup mulut Denny dengan tangan kanannya agar tak mengeluarkan ejekan di depan Mariam, dan juga Lita. Mariam yang melihat dua laki-laki itu terus berbisik-bisik pun merasa penasaran. Sementara Lita sudah mengetahui apa yang sedang Umar, dan juga Denny bicarakan.
"Ada apa? Sepertinya kalian membicarakan sesuatu," terka Mariam. "Tidak baik berbisik-bisik di depan orang," sindir Mariam sembari menambahkan teh ke gelas Umar, dan juga Denny. Umar pun jadi salah tingkah mendengar penuturan kakak sepupu iparnya.
__ADS_1
"Sayang, maafkan adik sepupuku yang pemalu ini. Dia ingin menawarkan kerja sama dengan mu," papar Denny. "Kerja sama apa, Mas?" tanya Mariam dengan antusias.
"Begini, Mbak. Kue-kue dan keripik buatan mbak itu sangat enak. Aku dan Lita bermaksud menawarkan pada mbak Mariam, untuk menaruh jajanan buatan Mbak itu di toko kami," ujar Umar yang akhirnya memberanikan diri mengutarakan maksudnya.
Mariam tertawa lepas hingga nampak barisan gigi putihnya. "Jadi, dari tadi bisik-bisik soal itu?" tanya Mariam. Wajah Umar memerah "pasti mbak Mariam tidak mau" batinnya.
"Serius, kalian tidak keberatan kalau aku menaruh daganganku di sana?" tanya Mariam memastikan. "Jelas tidak, Mbak" kata Umar dan Lita berbarengan. Mariam semakin terkekeh melihat ekspresi Umar, dan juga Lita.
"Jujur aku sangat senang tapi, aku butuh izin dari Mas Denny," ucap Mariam memandang ke arah Denny. "Terserah padamu saja, Sayang, aku tidak mau memaksamu," ujar Denny sembari mengedipkan sebelah matanya. Ingin rasanya Mariam mencubit Denny karena terus menggodanya bahkan di depan adik-adik sepupunya.
"Baiklah, kalau begitu kerja sama kita deal," jawab Mariam senang. "Alhamdulillah," ucap Umar dan Lita. "Mengapa kalian harus merasa tidak enak? Padahal kalian sedang melakukan hal yang baik," tandas Mariam merasa heran.
"Aku justru senang kalau suamiku yang baik hati itu mau mengizinkan aku. Karena aku juga tidak betah kalau hanya berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa," tutur Mariam. Denny langsung membusungkan dadanya merasa bangga.
Umar tersenyum tidak simetris sebagai tanda tak setuju pada kata-kata Mariam tentang 'suamiku yang baik hati' itu. Lita menggelengkan kepalanya melihat dua laki-laki yang selalu bersikap kekanak-kanakan setiap kali berkumpul. "Mbak Mariam, lihatlah mereka sedang bersaing," celetuk Lita sembari mengecilkan bola matanya dan memandang ke arah Umar, dan Denny.
Mariam semakin tertawa dibuatnya. "Mengapa kalian lucu sekali?" Mariam sudah tidak bisa menahan tawanya lagi. Dalam hati Denny, ia merasa bahagia melihat tawa tulus dari Mariam. Sebuah pemandangan yang jarang terjadi.
Hari itu sebuah kesepakatan kerja sama antara Mariam, dan adik sepupu Denny terjadi. Mariam tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Walau Denny mampu memberikan nafkah dan kecukupan padanya tapi, Mariam tetap ingin mengembangkan bakatnya dalam usaha makanan yang sudah ia geluti sejak lama.
__ADS_1
Meski berawal dari sebuah keharusan yang memaksa Mariam untuk melakukannya. Namun, kini Mariam jatuh cinta pada hal itu. Mariam senang membuat makanan yang ternyata banyak digemari dan mendapat respon positif dari para pembelinya.
Bersambung...
Hayoo... kita napas dulu ya readers, jadi kali ini gak perlu siapin tisu cukup siapin waktunya saja buat baca karya kesayangan kita ini... Luv u allππππ
Oh iya... ada karya keren milik teman author, jangan lupa mampir ya...πππ
Judul : the Day i become a God
Napen: haoyi
Menceritakan Perjalanan seorang anak tanpa bakat bernama Arjuna Daniswara.
Tepat di umurnya yang ke sepuluh tahun Juna mendapatkan sebuah system yang dapat mengetahui segala hal di dunia.
Dan dengan bantuan system yang dia beri nama Eva itu Juna mulai bertambah kuat dan bertemu dengan banyak teman dan musuh.
Akankah juna bisa bertahan melawan musuh musuhnya dan siapakah Eva yang sebenarnya ?....
__ADS_1