
Dicky berjalan sembari menggigit kuku jarinya. Memperhatikan benar wajah Arifin dengan seksama. Arifin menangis tersedu mengingat dosa-dosanya dan menyadari bayi mungil itu kini telah tumbuh jadi kanak-kanak.
"Kau adalah Ayahku?" cetus Dicky polos. Arifin bergetar hendak mengatakan sesuatu namun, bibirnya tercekat, lidahnya kelu. Arifin teringat akan Ari, anaknya bersama istri sahnya yang meninggal dalam kecelakaan yang ia alami.
Kalau diperhatikan dengan jeli, wajah Dicky memang ada kemiripan dengan wajah Ari. Mungkin karena keduanya berasal dari darah seorang ayah yang sama. Arifin mengangkat tangannya hendak menyentuh pipi bocah laki-laki itu.
Asih terus menatap sinis Arifin dengan mata membulat seolah mau keluar. Tinggal beberapa centi lagi tangan Arifin akan mendarat di wajah Dicky. Namun, Asih segera menarik tangan Dicky dan menyembunyikannya di belakang badannya.
"Jangan sentuh anakku!" tegas Asih masih dengan nada penuh amarah. Kemarahan berkobar di dada Asih. Andai amarah itu berwujud api, pastilah panasnya sudah membakar wajah dan tubuh Arifin karena besar dan kuatnya amarah itu. Arifin gemetar seraya menarik lagi tangan hampanya.
__ADS_1
"Kamu, yang sudah membuat hidupku bagai sampah yang tidak berguna. Semua penderitaan yang aku alami adalah karena ulahmu. Bodohnya diriku yang begitu percaya dan menurut saja pada kata-kata bualanmu!" Asih berteriak memaki Arifin lagi hingga Dicky ketakutan karena jeritan Asih yang dahsyat.
Arifin bagai laki-laki dungu yang hanya bisa diam tanpa perlawanan. Bahkan mengucap sepatah kata pun tidak. "Kemarilah Nak, Ayah merindukanmu" sayangnya kata-kata itu hanya terucap dalam hatinya saja.
Asih mengambil vas bunga di atas meja kemudian hendak ia pukulkan ke kepala Arifin. Namun, Santana mencegah dan menampar Asih. Plak! Bunyi tamparan itu sangat keras hingga meninggalkan bekas tangan Santana di pipi Asih.
"Jangan sampai amarahmu menjadi bumerang untuk dirimu sendiri, Asih!" Sergah Santana. Santana menyeret tangan Asih dan memasukannya ke dalam kamar. "Ingat Asih, aku memiliki kepentingan lain dengan Arifin, jangan sampai sikap gegabahmu menggagalkan misiku," tutur Santana lalu membanting pegangan tangannya.
Entah bagaimana konsep hidup Asih. Dirinya sendiri bahkan bingung tak tentu Arah, apa lagi author lebih bingung bukan kepalang. Perasaan Asih bertambah kacau setelah melihat Arifin yang dulu gagah perkasa, kini berubah jadi jelek dan tak rupawan lagi. Dasar Asih, dalam kondisi yang sebegini membingungkan saja, ia masih sempat memandang fisik seseorang.
__ADS_1
Kembali pada Arifin dan Santana....
"Dicky, kemarilah" bujuk Santana memanggil Dicky yang tadi berlari ke arah dapur karena takut melihat Asih mengamuk. Bocah itu berlari ke arah Santana dan bersembunyi di punggung Santana. "Dicky, dengar! Ini adalah Pak Arifin, Ayahnya Dicky" papar Santana memperkenalkan Arifin pada Dicky.
Dicky menatap lekat wajah Santana lalu bergantian menatap wajah Arifin. Nampaknya bocah itu sedang membandingkan dua wajah laki-laki dewasa yang berada di hadapannya. Dicky melangkah ke arah Arifin yang tak berdaya untuk membendung tangisannya sendiri.
"Ayah?" lirih Dicky semakin mendekat ke arah Arifin. Arifin langsung memeluk Dicky sembari tersedu. Namun, bocah itu tampak biasa saja.
Santana lalu menyuruh Dicky untuk masuk kamarnya dahulu. Dengan sebuah mainan baru, Santana merayu agar Dicky menurut padanya. Tentu saja, dengan senang hati dan girang juga Dicky langsung masuk ke kamar membawa mainan barunya.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like ( setelah membaca ), komen, gift, vote dan juga favorifkan, luv u all. 💖💖💖💖💖💖