
Hati Mariam mendadak membeku bak terkunci di dalam kutub es. "Ah, perasaan macam apa ini?" batin Mariam menepis keadaan hatinya. Wajah Denny melesu pasrah "Akankah kebenaran ini membuat Mariam kembali pada Santana?" batin Denny bergejolak antara menerima dan khawatir akan kehilangan Mariam untuk kedua kalinya.
Santana lega setelah semuanya diketahui oleh Mariam. Setidaknya ia bisa tenang karena predikat raja tega pada dirinya telah hilang. Sebutan ayah yang baik mungkin kini bisa ia dapatkan kembali.
"Satu hal lagi, Mariam. Dicky adalah anak kandung Arifin yang karenanya aku diperalat untuk memberi tanggung jawab atas kesalahan yang tidak pernah aku lakukan. Arifin tidak mau bertanggung jawab atas anak yang dilahirkan Asih, karena Arifin sendiri sudah memiliki keluarga," imbuh Santana.
Semuanya terbongkar sudah. Baik Asih, maupun Arifin sudah tidak bisa mengelak lagi atas perbuatannya di masa silam. Kini keduanya bagai berada di dalam sebuah perangkap yang dibuat oleh mereka sendiri.
Mariam diam tanpa ekspresi. Ada perasaan nyeri yang menyengat dari kebekuan hati yang baru saja melandanya. Terlintas dalam pikiran Mariam betapa berat penderitaan mantan suaminya itu.
__ADS_1
Pada kesempatan itu juga, Santana menalak Asih. Segala urusannya dengan Asih kini telah sampai pada sebuah akhir. Santana juga meminta agar Arifin bertanggung jawab atas Dicky yang adalah anak kandung Arifin sendiri.
Asih meraung, memaki dan mengucap sumpah serapah sebab ia tak mau berpisah dengan Santana. Namun, perasaan dan hati seseorang tidak bisa dipaksakan bukan? Santana tetap teguh pada pendiriannya dan yakin dengan keputusannya. Tinggal Arifin yang terlihat begitu lemah tak berdaya dan harus tetap menerima semuanya.
Hari itu menjadi hari di mana semua rasa hadir dalam satu ruangan. Ada yang lebih ketakutan di antara mereka saat itu. Dia adalah Denny, dengan sejuta kekhawatirannya akan keilangan Mariam, Ia menitikkan air mata tanpa disadari.
Setelah semua maksudnya tersampaikan. Kini Santana, Asih, dan juga Arifin pergi meninggalkan rumah Denny dengah perasaan yang entah berantah. Menyisakan dua insan yang merasuki keheningan.
"Mas!" panggil Mariam lirih lagi dalam. Denny mengangkat pandangannya dan kembali meneteskan bulir bening dari sudut matanya. Di genggamnya tangan Denny oleh Mariam lalu, Denny merangkul dan memeluk erat Mariam.
__ADS_1
"Jangan tinggalkan aku, Sayang" mohon Denny dengan tangis yang tertahan hingga membuat suaranya gemetar. Mariam turut menangis di dalam pelukan Denny saat itu. Cukup lama mereka saling berdekapan dan menghangatkan meluruhkan segala rasa yang ada.
"Apa yang membuatmu sebegitu khawatir, Mas?" tanya Mariam setelah mereka saling melepas pelukannya. "Aku hanya takut dirimu tinggalkan, Mariam. Setelah kebenaran tentang Santana kamu ketahui, tidakkah kamu berpikir untuk kembali padanya?" papar Denny mengungkapkan kekhawatirannya.
"Mas, hatiku bukanlah seutas tali yang bisa ditarik ulur semena-mena. Hatiku mungkin menerima kebenaran yang kiranya membuat nama mas Santana bersih kembali. Namun, ketahuilah bahwa perasaanku tidak lantas lupa pada siapa dan di mana letak hatiku berada," terang Mariam sembari memegangi dada Denny.
"Benarkah begitu? Jadi hati itu sudah di sini sekarang?" tanya Denny seraya mempertahankan sentuhan tangan Mariam di dadanya. "Tentu saja, Mas. Terkadang aku berpikir, mungkin doamu terlalu kuat hingga mampu melepaskan tali yang sudah mengikatku dengan mas Santana" Mariam tersenyum.
Hari mulai sore, matahari memerah meredupkan sinarnya. Semilir angin bertiup mesra. Membisikkan sebuah berita yang tak dinantikan namun, cukuplah menjadi alasan untuk sebuah harapan yang baru.
__ADS_1
Bersambung....
Hello sayang-sayangnya author, jangan lupa tinggalkan jejak dan dukungan kalian ya. Tekan love dan favoritkan lalu, like (setelah membaca) komen dan juga vote serta hadiah. A lotta love buat kalianπππππππππππππππππ