Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 29. Suasana Menegangkan


__ADS_3

Santana sampai di sebuah pemukiman, ia berhenti di sebuah warung sekaligus beristirahat. Satu gelas wedang jahe pun ia pesan untuk menghangatkan tubuh serta mengusir rasa lelahnya setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang.


"Pak, mohon maaf saya sedang mencari alamat ini, apa Bapak tahu?" tanya Santana pada si pemilik warung tersebut. "Ini sudah sangat dekat dari sini, Pak. Mungkin kalau naik ojek paling 7 menit sudah sampai," jawab si pemilik warung itu.


"Terima kasih, Pak" Santana tersenyum lega lalu kembali menyeruput wedang jahe yang ia pesan. Udara malam kala itu memang sangat dingin. Wedang jahe sangat cocok dijadikan teman untuk menghangatkan tubuh yang tersapu dinginnya udara. Santana menikmati tegukan demi tegukan wedang jahe itu lalu sesekali menghirup aroma segar yang berasal dari minuman berbahan utama jahe tersebut.


Setelah tubuhnya kembali segar dan mendapat kehangatan, Santana melanjutkan perjalanannya dengan jasa seorang ojek. Sampailah ia pada alamat yang di tuju. Santana berjalan perlahan dan sedikit mengendap-endap.


Sebuah rumah dengan nyala lampu yang sedikir meremang. Santana mengangkat tangannya dan hendak mengetuk pintu rumah tersebut. Namun, pintu itu sudah terbuka sebelum ketukan Santana mendarat di pintu itu.


"Maaf, Mas sedang mencari siapa ya?" tanya seorang wanita sebaya Asih. "Apa benar ini rumah Arifin, Mbak?" tanya Santana sopan. "Betul, ada perlu apa ya?" tanya wanita itu sedikit mengintrogasi.


"Saya temannya, Mbak," jawab Santana asal. "Oh temannya... silakan masuk! Suami saya ada di dalam," ujar wanita yang ternyata adalah istri sah Arifin. Santana pun melangkahkan kakinya dan masuk menuju ruang tamu rumah tersebut.


Selagi menunggu Arifin menemuinya, Santana menyapukan pandangan ke sekitar ruangan. Tampak beberapa foto Arifin bersama istrinya. Dalam hati Santana mengumpat "si*l, dia enak-enakan hidup dengan istrinya sementara keluargaku hancur," gerundal Santana.


Wanita itu kembali dengan memapah seorang laki-laki yang setelah dilihat dengan mata jeli, tak lain laki-laki itu adalah Arifin. Santana cukup terkejut dengan keadaan Arifin yang memprihatinkan. Bagian kepala terbalut perban dengan wajah biru memar dan juga kaki yang tidak dapat berjalan dengan normal.


Arifin duduk berhadap-hadapan dengan Santana setelah sebelumnya menyuruh istrinya untuk masuk ke dalam kamar. Dari sorot matanya terlihat bahwa ada penyesalan pada diri Arifin. "Maafkan aku," kata Arifin dengan bibir tercekat.


"Apa yang terjadi?" tanya Santana. "Tuhan telah menghukumku, Santana. satu bulan yang lalu, aku kecelakaan bersama putraku dan aku kehilangan dia karena itu," air mata Arifin mulai terurai membasahi pipi memarnya saat mengenang kejadian yang menimpanya.


"Lihat keadaanku sekarang, Santana. Bahkan aku malu untuk melihat bayanganku sendiri di cermin," lanjut Arifin. "Aku turut prihatin dan berduka cita atas apa yang menimpamu, Arifin," timpal Santana dengan ekspresi datar.

__ADS_1


"Namun, ketahuilah olehmu, Arifin. Sebuah maaf saja tidak cukup untuk mengembalikan keadaan rumah tanggaku yang telah rusak. Tidak akan pernah bisa memperbaiki masa depanku yang sudah kau hancurkan, begitu juga dengan keadaan hati anak dan isriku yang menderita karena ulahmu."


Santana meluapkan segala uneg-uneg yang sudah sangat lama terpendam. Andai tak melihat keadaan Arifin yang begitu memprihatinkan, mungkin Santana sudah mendaratkan bogem mentah di wajah Arifin. Arifin hanya tertunduk lesu menyadari kesalahannya yang sudah terlambat dan tak akan pernah bisa mengembalikan Mariam pada Santana.


Santana lalu mengambil belati dari dalam tas ranselnya. Santana menggenggam erat belati itu dan mengangkatnya tepat di hadapan wajah Arifin. Arifin tersentak hingga membelalakan matanya ketakutan.


"Kenapa, Arifin? Tentu kamu masih ingat bukan? Benda inilah yang kamu gunakan untuk mengancamku dulu," tutur Santana menyeringai. Arifin menangis gemetar dengan bibir terkatup menjaga agar suara tangisannya tidak keluar. Sepertinya, dengan keadaannya sekarang Arifin sudah pasrah andai Santana menghujamkan belati itu padanya.


Arifin menunduk sambil memejamkan matanya, seoalah enggan melihat benda yang ia pikir akan dijadikan alat untuk menyerang dirinya oleh Santana. "Terlalu banyak hati yang kau hancurkan, Arifin," tutur Santana dengan nada pelan namun, penuh penekanan. Santana menjerit lalu menghujamkan benda tajam itu.


Dalam waktu bersamaan, Arifin pun turut menjerit. Keadaan menjadi hening beberapa saat, lalu Santana berkata "aku bukan dirimu yang menindas orang lain dalam keadaan lemah," Santana menarik kembali belati yang ia tusukkan ke sofa tempat duduknya. Arifin tidak berdaya menghadapi hal itu.


"Ampuni aku, Santana," mohon Arifin dengan wajah memelas. "Semuanya sudah terlambat, Arifin. Cintaku telah pergi dan menjadi milik orang lain, dia bahkan enggan untuk sekedar berbicara dan memandang wajahku!" raung Santana sembari menggemeratak.


Santana menyeringai sinis mendengar kata-kata Arifin. " Ada satu hal yang mungkin bisa kamu lakukan untukku, Arifin. Meski hal itu tidak akan mengembalikan semuanya tapi, setidaknya aku tidak terbebani dengan perasaan bersalah," tutur Santana.


"Katakan saja apa yang harus aku lakukan?" imbuh Arifin. "Katakan semua hal yang kamu dan Asih lakukan terhadapku dulu dengan sejujurnya pada Mariam. Semua hal yang memaksaku untuk melepaskan belahan jiwaku itu demi menjamin keselamatannya," pinta Santana.


Arifin sedikir kebingungan bagaimana cara ia menyampaikan hal itu pada Mariam. Mengingat keadaannya yang sangat parah saat ini. Santana pun menangkap gelagat bingung yang ada pada diri Arifin.


"Jangan khawatir, akan aku tunggu hingga keadaanmu membaik. Jika setelah itu kamu tidak datang untuk melakukannya. Maka, jangan salahkan aku bila belati ini mungkin akan menembus jantungmu!" tegas Santana.


Sebuah kesepakatan pun akhirnya terjadi di antara mereka. Arifin menyetujui syarat yang diberikan Santana. Malam itu menjadi teramat menegangkan bagi Arifin yang dalam kondisi tidak ada daya dan upaya.

__ADS_1


Santana terpaksa bersikap tegas meski sebenarnya ia tak tega melihat kondisi Arifin. Semuanya harus Santana lakukan demi menuntaskan masalah yang selama ini sangat membebani hidupnya. Setelah pembicaraannya dengan Arifin selesai, ia pun bertolak dari rumah Arifin menuju pulang.


Dikarenakan malam semakin larut dan hampir tidak ada kendaraan yang bisa ia tumpangi. Santana mencari sebuah penginapan untuk bermalam di sana. Setelah cukup lama ia tak juga menemukan apa yang dicari.


Akhirnya Santana kembali ke warung wedang jahe yang kebetulan buka hingga 24 jam. Santana meminta izin untuk beristirahat di sana dengan memberi sejumlah uang sebagai imbalan. Namun, sang pemilik warung menolak uang yang diberikan Santana, dan malah berterima kasih jika Santana mau bermalam di sana, 'hitung-hitung menemaninya berdagang'.


Bersambung....


Si Ateng suka merayu... Thank you ya, readers setiaku. Sambil mengatur napas menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya, author mau ajak kalian buat mampir di karya temanku yang sangat luar biasa...👇👇👇


Judul : Gadis Pemimpi


By: Bhebz


Terlahir miskin dengan penampilan yang jauh dari kata cantik membuatnya rendah diri. Dia membatasi pergaulan dengan orang-orang di sekitarnya walaupun dia mempunyai banyak mimpi.


Perasaan takut dicemooh dan dirundung membuatnya menjadi anak rumahan. Hanya ibu dan ayah yang menjadi teman sekaligus sahabatnya, tempat berbagi cerita dan mimpi.


Hingga suatu peristiwa menyedihkan membuatnya meninggalkan istana dan sarangnya. Cangkang yang paling nyaman yang dia rasakan. Apakah mimpi-mimpinya akan menjadi nyata di luar sana?


Akankah dia berhasil mengubah takdirnya?


__ADS_1


__ADS_2