
"Mariam, bolehkah aku bertanya sesuatu?" ucap Denny seketika menghentikan gelak tawa Mariam.
"Apa harus mendapat izin dulu untuk bertanya, Mas?" Mariam menaikkan alisnya.
"Apa kamu tidak bosan hidup denganku? Dalam kesederhanaan dan jauh dari kemewahan ...," Denny menarik napasnya berat.
"Apalah arti kemewahan bila hatiku diselimuti derita, Mas. Mendiang ibu dan ayahku sudah memupuk hidupku dengan nilai-nilai kesederhanaan sejak dulu. Aku nyaman dengan semua itu, asalkan hati dan dadaku lapang. Ketenangan hidup dan juga keberkahannya lebih penting, Mas."
"Benarkah? Apa itu artinya kamu tidak menginginkan untuk mempunyai harta yang banyak?" imbuh Santana.
"Bukan tidak ingin, Mas. Selama manusia masih hidup dan memijakkan kaki di bumi ini, tentu memerlukan harta sebagai bekal. Namun, harta bukanlah tujuan utama kita 'kan?"
"Ya, kamu benar .... Mariam. Lalu, apa harta itu menurutmu?" tanya Denny lagi.
"Sederhana saja, Mas. Harta adalah sesuatu yang harus didapatkan dengan ikhtiar yang baik lalu, disyukuri dengan doa-doa."
Denny tersenyum dan merasa terkesan. " Andai kamu tahu, Sayang. Jika apa yang kamu katakan itu benar, maka akulah orang yang paling berharta saat ini," ucap Denny.
"Kenapa begitu?" Mariam menatap penuh tanya.
"Sebab, apa yang aku ihktiarkan sudah aku dapat, dan apa yang aku dapat sangatlah aku syukuri. Harta itu bahkan mampu membuatku berhenti mencari dermaga lain, untuk melabuhkan hatiku."
Mariam tersipu malu. Wajahnya merah padam oleh rona kebahagiaan. Bagaimana mungkin Denny memancing Mariam untuk berkata banyak, hanya untuk membuat dirinya berhasil menggombal.
"Mas, ada sesuatu di matamu," ujar Mariam mengalihkan tatapan Denny yang seolah merayunya.
"Mana? Aku tidak melihat apa pun di mataku kecuali hanya bayanganmu saja," goda Denny.
__ADS_1
"Mas, berhentilah membuat kata-kata rayuan." Putus Mariam sembari beranjak lalu, pergi meninggalkan Denny di dalam Kamar.
Denny menyeringai senang dengan deretan gigi putihnya. Ia menghempaskan tubuhnya ke kasur sembari menatap langit-langit kamar berwarna putih tulang itu. Hatinya dipenuhi kebahagiaan saat berhasil membuat wanitanya itu salah tingkah.
***
Hanif datang mengunjungi rumah Arifin. Ia ingin memastikan apakah Raya sudah sembuh atau belum? Ia juga ingin tahu apakah Arifin merawat Raya dengan baik atau tidak?.
"Untuk apa kamu kemari?" tutur Arifin dengan wajah tak senang.
"Tentu saja untuk melihat keadaan Raya!" jawab Hanif singkat.
"Apa kamu sadar apa yang kamu lakukan ini, Hanif?" tanya Arifin sembari tersenyum bengis.
"Tentu saja, apa kamu tidak mau bertanya pada dirimu sendiri, Arifin? Sadarkah kalau banyak tindakanmu yang semena-mena dan menyakiti hati Raya?"
"Tutup mulutmu! Raya istriku, dia tanggung jawabku. Berhenti mengurusi hidup dan rumah tanggaku."
"Hanif!!" Arifin melayangkan tangannya ke wajah Hanif. Namun, Hanif berhasil menghalaunya dengan menangkis pergelangan tangan Arifin.
"Ingatlah Arifin! Aku sudah lebih dulu mencintai Raya sebelum kamu, dan akulah yang sampai sekarang masih mempertahankan perasaan cintaku untuknya. Dulu, aku merelakan dia untukmu karena aku kira kamu akan membahagiakannya tapi, kamu malah membuatnya berulang kali menderita." Hanif melepaskan tangan Arifin dengan sedikit menghepaskannya.
"Kamu tetap tidak berhak mencampuri rumah tanggaku, Hanif," geram Arifin.
"Aku tidak perduli lagi apakah aku berhak atau tidak! Ingatlah, bahwa kamu juga tidak berhak membuat hidup Raya terus menderita."
Kedua laki-laki itu saling menatap dengan dada bergemuruh penuh amarah. Hanif yang semula ingin menemui Raya dan melihat keadaannya pun kini merubah niatnya. Ia berlalu pergi meninggalkan Arifin, yang masih tidak mau mengiyakan bahwa dirinya adalah biang keladi dari semua penderitaan yang dialami oleh Raya.
__ADS_1
Raya yang saat itu tengah beristirahat di kamarnya. Tidak mengetahui sama sekali tentang perdebatan sengit yang terjadi antara Arifin, dan juga Hanif. Ia juga tidak pernah berpikir bahwa Hanif akan menemui dirinya lagi.
"Bedebah kamu, Hanif!" Arifin membanting asbak berbahan kaca yang terletak di mejanya, ke lantai. Suara pecahan yang cukup nyaring membuat Raya kaget dan terbangun. Ia melangkahkan kakinya perlahan menuju sumber suara.
"Mas, ada apa?" tanya Raya yang memang tidak mengetahui apa pun.
Arifin hanya diam tak menjawab. Ia meremas rambutnya frustasi. Membuat Raya mengernyitkan dahinya merasa heran.
Bersambung ....
Hallo readers tersayang, sembari menunggu kelanjutan ceritanya .... kita mampir dulu, yuk! Ke karya milik author keren yang satu ini :
Judul : Aku Bukan Pelakor
Author : Ara Utara
Salahkah aku apabila jatuh cinta pada gadis yang usianya sebaya dengan anakku ?
Dia bernama Karin Shalina, pesona lugunya membuatku jatuh kedalam pesonanya.
Rumah tanggaku yang sudah berada diujung tanduk membuat ku berani bermain api dibelakang istriku.. Aku tak takut di cap pengkhianat atau pria bajingan, nyatanya Istriku yang telah membuat aku bertindak mengkhianati nya. Dialah yang membuatku dari setia menjadi pria pengkhianat...
* Antoni Conte..
Salahkah aku bila mencintai dia yang ternyata suami orang ?
Cap pelakor melekat padaku, bukankah hati tak bisa dipaksa kepada siapa akan berlabuh. Aku yang tak pernah jatuh cinta, tak ku sangka sekali jatuh cinta langsung pada suami orang..
__ADS_1
* Karin Shalina.