
Tak butuh waktu lama hanya beberapa hari saja kesepakatan kerja antara Mariam, Umar, dan juga Lita sudah berjalan sebagaimana mestinya. Mereka semua senang dengan hasil baik dari usaha tersebut. Terlebih Mariam, dirinya merasa bahwa keahliannya menjadi berguna dan tidak sia-sia.
"Ibu, apa Ayah Santana sudah melupakan Shaka, lagi?" celetuk Shaka saat Mariam sedang mengemas kue-kue dan keripik yang ia buat untuk di setorkan ke toko Umar, dan Lita. Mariam mematung sesaat ketika mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Shaka. "Shaka, mungkin Ayah Santana masih sibuk jadi, belum bisa menemui Shaka" jawab Mariam.
Bocah itu menunduk kecewa lalu ia bergegas meninggalkan Mariam. Mariam hanya bisa menarik napas perih yang terasa menyayat di dalam dadanya. "Mengapa ketika aku sedang belajar untuk menyingkirkan mas Santana dari pikiranku, Shaka justru membuatku mengingatnya kembali?" batin Mariam.
"Sayang, bisakah aku minta bantuanmu sebentar?" tanya Denny sembari menghampiri Mariam yang kala itu masih termangu. Denny mengulangi pertanyaannya hingga beberapa kali namun, Mariam masih tetap bengong. Sampai Denny menempelkan bisikan di telinga Mariam barulah Mariam meresponnya.
"Eh, iya Mas, tentu saja boleh" jawab Mariam setelah Denny mebisikinya. "Apa yang sedang kamu pikirkan, hum? Jika lelah istirahatlah dulu jangan memaksakan diri!" ungkap Denny. "Tidak apa-apa, Mas" kilah Mariam lalu memaksakan senyuman di bibirnya.
"Baiklah, tolong bantu aku membuka ini?" Denny membawa sebuah kardus yang terekat kuat oleh lakban. Mariam mengambil sebuah gunting untuk membuka kardus yang entah berisi apa itu. Dengan hati-hati ia membuka lakban-lakban yang merekat di kardus satu persatu.
Mariam berhasil membuka kardus itu dan betapa tercengannya ia saat melihat isi di dalam kardus itu. "Mas, ini apa?" gagap Mariam menatap Denny lalu berganti memandangi benda-benda di dalam kardus tersebut.
"Apa kamu senang?" tanya Denny seraya tersenyum. Mariam hanya mengangguk dengan senyuman yang membias tak henti di bibir indahnya. Rupanya Denny membelikan peralatan sebagai perlengkapan Mariam untuk membuat makanan yang akan ia jual.
Ada sebuah Mixer, loyang-loyang bolu dengan bentuk persegi panjang maupun lingkaran. Denny tak tega melihat Mariam yang selama ini harus mengocok telur-telur untuk membuat bolu dengan menggunakan whisk atau kocokan telur manual. Tentu Mariam akan lebih terbantu jika ia menggunakan mixer.
Cup!
Sebuah kecupan mendarat di pipi Denny membuatnya tak berhenti tersenyum. "Tumben sekali dia peka," batin Denny mendapati Mariam yang memberikan ciuman di pipinya tanpa di minta. "Sesederhana itu membuat istriku senang," lanjut Denny bicara dalam hati.
__ADS_1
"Terima kasih, Mas... ini semua membuatku lebih semangat," tutur Mariam sembari memegangi benda-benda itu satu persatu. Itu adalah sebuah kejutan yang manis bagi Mariam sebagai dukungan dari Denny. "Sama-sama, Sayang, buatlah kue bolu yang lebih enak" Denny tersenyum seraya mengusap pucuk kepala Mariam.
"Tentu saja , Mas! Aku terpikir untuk membuat brownies juga" sahut Mariam dengan rekahan senyum yang belum usai. Usaha Denny untuk mengukir sebuah senyuman di bibir istri tercintanya kala itu berhasil. Sampai-sampai mereka lupa, mungkin saja Ibu, dan Shaka sedang menunggu mereka di meja makan.
***
Hari yang dinanti Santana telah tiba. Arifin datang ke rumahnya. Dengan sisa perban yang masih menempel di kepalanya dan juga kakinya yang harus berjalan menggunakan tongkat penyangga.
Dalam keadaan yang belum sepenuhnya baik itu, Arifin menepati janjinya. Dengan langkah pincang dan ketiak yang disangga oleh tongkat. Arifin sudah berada di dalam rumah Santana.
Arifin tertunduk malu dengan keadaannya ketika Asih menatap tajam mata Arifin. "Asih, tinggalkan kami! Ada hal yang harus aku bicarakan dengannya," perintah Santana. "Tidak, Mas! Aku juga perlu bicara pada laki-laki biad*b ini," tolak Asih bicara penuh penekanan.
Arifin tidak percaya Asih kini membencinya. Wanita yang dulu selalu menurut pada apapun yang dikatakan olehnya. Bahkan ketika Arifin dengan terang-terangan menolak untuk bertanggung jawab pun Asih masih bersikap patuh padanya.
"Apa kamu ingat padaku?" tanya Asih dengan nada pelan namun penuh penekanan. "Asih, aku minta maaf" ucap Arifin yang tak berani menatap mata Asih. "Hahahah! Maaf? Apa menurutmu perbuatan kejammu itu akan selesai dengan sebuah maaf?" Asih meraung dengan nada Marah.
Arifin sudah tidak tahu harus melakukan apa. Di ruangan itu ia merasa terpojok oleh dosa-dosa yang pernah ia lakukan sendiri. Tak ada satu kalimat pun yang tersisa untuk membela dirinya.
Asih berteriak memaki Arifin, hingga tak sadar Dicky menyaksikan dan mendengar semua itu dan kini ia mengetahui bahwa Arifin adalah ayah kadungnya. Dicky berjalan perlahan ke arah mereka.
Bersambung....
__ADS_1
Stttt... jangan lupa tinggalkan jejak ya setelah membaca βΊ Luv sekebon buat kalianππππ
Jangan lupa mampir juga ke karya keyen milik temen author, yang pastinya seru dan bikin penasaran samapai ke ubun-ubun...πππ
Judul : Petaka Karena Perjodohan
Karya : Penulis RatCheh
Pernikahan yang Airin Pranata jalani tak pernah membuatnya bahagia. Sifat Julian yang dingin, angkuh, bahkan acuh tak acuh kerap kali membawa kepedihan, keretakan, dan kesakitan bagi benak Airin.
Di tengah keterpurukan yang tidak ada jalan keluarnya, Airin hanya bisa mengatakan kalimat, "aku baik-baik saja," untuk menguatkan hati wanita malang tersebut.
Hingga Airin mendengar percakapan Julian yang mengatakan, "Buat rongsokan itu jatuh cinta dalam waktu 30 hari. Jika kau berhasil, aku akan menceraikannya dan memberikannya padamu."
Bagai dihujam ribuan pisau tak kasat mata, rasa sakit langsung menyerang dada Airin.
Apakah Airin mampu membisikkan kalimat "aku baik-baik saja" pada dirinya sendiri?
Jika Julian memintanya mencintai laki-laki lain, apa Airin akan memilih mempertahankan rumah tangganya? Atau
Melangkah untuk menempuh kehidupan baru?
__ADS_1