Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 22. Tempat Menakjubkan


__ADS_3

Denny Melajukan sepeda motor ke tempat yang menjadi tujuannya bersama dengan Mariam, dan Shaka. Tampaknya ia masih asik merahasiakan tempat tersebut meski Mariam terus bertanya. "Kita mau kemana sih, Mas?" tanya Mariam berulang kali.


"Bersabarlah sedikit lagi, Mariam" jawab Denny. "Tenanglah, Ibu... Ayah pasti memberi kita kejutan yang menyenangkan," timpal Shaka. "Ya, baiklah terserah kalian saja" Mariam membuang napas pasrah.


Jalan yang dilalui begitu asing bagi Mariam, dan juga Shaka. Seperti hening dan cukup jauh dari pemukiman warga. Ada rasa takut dan terkadang khawatir di hati Mariam.


"Mas, kita mau kemana? Kenapa semua jalanan hanya terlihat seperti hutan? " tanya Mariam. "Apakah ketakutanmu lebih besar, Mariam? Aku kira rasa nyamanmu melebihi ketakutanmu!" ujar Denny seperti menyesalkan sikap Mariam.


"Bukan begitu, Mas ... Aku hanya merasa asing dengan tempat ini" tandas Mariam. "Maaf jika aku membuat Mas tersinggung," lanjut Mariam merasa tidak enak. Denny hanya diam tak menanggapi.


Tiba-tiba Denny menepikan sepeda motornya lalu mengajak Mariam, dan juga Shaka untuk turun. Mariam menyembunyikan keraguan di setiap langkah kakinya. Khawatir suaminya itu akan merasa tersinggung lagi jika ia mengatakannya.


"Shaka, kemarilah ayah akan menggendongmu" titah Denny. "Baik, Ayah " bocah itu langsung menghambur ke dalam gendongan Denny. Mariam tersenyum melihat itu, hatinya merasa tersanjung dan terbuai oleh perlakuan Denny terhadap Shaka.


"Sayang, kemarilah dan gandeng tanganku" pinta Denny pada Mariam. Mariam pun menurut kemudian menautkan jari jemarinya pada Denny. Sungguh ajaib, kekhawatiran dan rasa takut Mariam kini berubah menjadi perasaan senang.


Sentuhan dan perhatian Denny meruntuhkan dinding-dinding keraguan di ruang hati Mariam. Betapa angannya melambung dan melayang tinggi di awang-awang. Itu baru permulaan saja tentang sebuah kesungguhan dari seorang Denny.


"Nah ini dia tempatnya, masuklah kita sudah sampai" ucap Denny. Sebuah taman bunga dengan saung sederhana di tengahnya. Di dalam hutan rindang yang menakjubkan.


Lagi-lagi Mariam di buat terkesima olehnya. Tanpa aba-aba ia langsung menghampiri bunga-bunga yang menghampar bermekaran. Aroma wangi yang khas dan segar semerbak memanjakan indra penciumannya.

__ADS_1


Mariam seolah lupa dirinya di sana sedang bersama Shaka, dan juga Denny. Ia asik mengitari bunga yang tumbuh dengan berbagai warna dan bentuk yang berbeda. Ia memutarkan badan menyunggingkan senyuman seraya menghirup segarnya.


Tangan Denny, dan juga Shaka tetap bergandengan. Dua pria itu nampaknya tidak sedang takjub pada pemandangan dan bunga-bunga. Melainkan terpesona melihat wajah Mariam yang begitu menawan dengan rona kebahagiaan yang memancar melalui sorot mata dan senyuman.


"Terima kasih, Ayah " ucap Shaka lirih sembari mendongakan wajahnya memandang Denny. "Apa Shaka merasa senang sayang?" tanya Denny yang menatap sedikit munduk ke arah Shaka. "Lebih dari itu, Ayah. Sudah lama Shaka tidak melihat Ibu sesenang ini" jawab Shaka.


Beberapa menit berselang, sepertinya kesadaran Mariam telah kembali. Ia tersentak lalu melangkah ke arah di mana Shaka, dan Denny berdiri. Namun, langkah kakinya terhenti saat Denny berteriak.


"Tidak, Mariam! Tetaplah di situ kami yang akan menyusulmu" ucap Denny. Mariam lalu tersenyum menyambut dua laki-laki yang sedang berlari ke arahnya. Lalu Shaka berada di tengah dengan kedua tangan yang di gandeng satu oleh Denny dan satunya lagi oleh Mariam.


"Ceritakan pada kami, Ayah. Mengapa ada tempat sesurgawi ini di tengah hutan," tutur Mariam yang membuat jantung Denny berdebar kencang karena di panggil 'Ayah'. "Ehem... tentu saja semua ini karena ada dirimu yang seanggun bidadari di sini, Ibu" jawab Denny memanggil Mariam dengan sebutan 'Ibu'.


Kini keadaan berbalik, jantung Mariam yang justru berdegup kencang mendengar kata-kata Denny. Mereka lupa ada anak di bawah umur yang mau tak mau mendengar pembicaraan mereka. "Apakah Ayah dan Ibu sedang berbalas puisi?" gumam Shaka polos.


"Saat kamu memutuskan untuk menikah dengan Santana. Aku merasa patah hati dan frustasi lalu aku pergi ke tempat ini. Niatku ingin meluruhkan keterpurukanku dengan menjauh dari keramaian."


"Kemudian aku melihat beberapa bunga yang berceceran dengan jenis yang berbeda-beda. Lalu aku mengumpulkan mereka dan hal itu membuatku merasa dekat denganmu" kenang Denny sembari tersenyum lalu menoleh pada Mariam.


"Lalu? apa seteh itu Ayah ke sini setiap hari dan membuat saung seindah istana ini?" tanya Mariam sekali lagi memanggil Denny 'Ayah. "Tepat sekali, Bu ...Aku di bantu Umar saat mendirikan saung ini," jawab Denny tidak kalah membuat wajah Mariam bersemu.


"Jadi, ternyata kami bukan orang pertama yang di bawa ke sini?" tutur Mariam. "Memang benar, tapi kamulah wanita pertama dan satu-satunya yang aku bawa ke sini" jawab Denny mematahkan prasangka Mariam. Dua insan yang sedang bermain dengan kata-kata puitis bak syair seorang pujangga.

__ADS_1


Tak terasa matahari mulai condong ke arah barat. Mereka sadar ada kewajiban yang harus mereka tunaikan. Denny kemudian mengajak Mariam, dan juga Shaka untuk pulang dan menunaikan bentuk penghambaan terhadap Tuhan.


"Ayo sayang, di sini tidak ada sajadah dan perlengkapan sholat lainnya" papar Denny. "Mungkin lain kali kita bisa membawanya, Ayah" timpal Shaka. "Ide bagus, Shaka" jawab Denny singkat.


Mereka pulang dengan sejuta rasa bahagia. Meski tak di pungkiri, Mariam sebenarnya masih betah berlama-lama di sana. Semua kesedihan hati dan kemuraman jiwa terbayarkan oleh perasaan berbunga-bunga.


***


"Bagaimana hari kalian? apakah sangat menyenangkan? " tanya Ibu Denny setelah mereka sampai ke rumah. "Tentu saja, Nek! Ayah dan Ibu sampai tak berhenti saling berbalas puisi," tutur Shaka mengundang gelak tawa. "Diamlah anak muda," canda Denny seraya mencubit gemas pipi Shaka.


"Syukurlah kalau begitu, segera tunaikan sholat setelah itu kalian makanlah," perintah Ibu. "Terima kasih, Ibu" ucap Denny dan Mariam. "Sama-sama, Nak" balas Ibu.


Semua aktifitas pun mereka jalankan dengan hati dan perasaan senang. Nyaris tak ada cacat yang menorehkan duka dan nestapa di hari itu. Hanya secercah harapan yang mulai tumbuh dan memekar dalam hati yang bersemayam.


Di bilik rumah Santana....


Hari ini Asih diam tak banyak bicara, bicara pun hanya seperlunya saja. Dicky sibuk bermain dengan bola dan beberapa mobil-mobilannya. Entah apa yang ada di dalam pikiran bocah itu, setiap kali ia merasa kesal maka ia akan membanting mainannya sampai hancur.


Santana merasa risau akan hal itu. Ada rasa iba pada bocah laki-laki itu meski kepalnya terasa nyeri menghadapi ulahnya. "Asih! perhatikan Dicky bermain jangan hanya mementingkan egomu saja," ujar Santana yang melihat Asih sedang asik mengukir kuku tangannya sendiri.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya! Like, komen, favorit, vote dan juga hadiah. 🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2