
Keesokan harinya!
Denny, dan Santana pergi menemui Arifin. Mereka membawa serta Dicky ke sana agar tak menyita banyak waktu untuk mondar-mandir. Lupakan sejenak masalah hati yang sedang saling berjaga menahan rasa ingin bertemu dan rasa cemburu di dada Santana, dan Denny.
Beberapa jam perjalanan mereka tempuh. Kini mereka sampai di depan rumah Arifin. Layaknya bertamu mereka mengetuk pintu dan mengucap salam.
Sebuah jawaban terdengar dari dalam rumah Arifin. Seperti sebelumnya, saat itu istri Arifinlah yang membukakan pintu dan mempersilakan mereka untuk masuk. Kini mereka semua sudah duduk di ruang tamu dan menunggu Arifin keluar.
Tak berselang lama Arifin keluar dari kamarnya untuk menemui mereka. Kali ini ia mengajak serta istrinya untuk duduk bersama mereka. Pembicaraan pun dimulai sesuai rencana awal Santana, dan juga Denny.
Denny menjelaskan semua yang terjadi. Mulai dari awal diketahuinya bahwa Asih mengalami depresi. Berlanjut pada Dicky yang juga mengalami gangguan perilaku. Semuanya ia sampaikan pada Arifin berikut istrinya.
Ada wajah yang tertunduk sendu di sana. Ya, tentu saja wajah istri Arifin. Bisa dibayangkan, semua pengkhianatan Arifin terhadapnya baru diketahuinya seusai rentetan badai menerpa hidupnya.
__ADS_1
Mulai dari kehilangan anaknya karena kecelakaan. Menerima kenyataan pahit bahwa Arifin berselingkuh. Yang sedang berlangsung kini adalah sebuah tanggung jawab yang mau tak mau ia harus ikut serta karena itu adalah perangai buruk suaminya terdahulu.
Hancur rasa hatinya. Air mata pun sudah tak mampu lagi keluar dari sumerbernya. Mata itu tetap kering meski mungkin hatinya menjerit menembus hingga ke pintu-pintu langit.
Kini mata Arifin terbuka. Bahwa tindakan dirinya yang semena-mena membuat banyak orang terluka. Terguncang jiwanya. Tersayat hatinya dan terkoyak perasaannya.
Beragam keluh yang disampaikan tak dapat mewakili apa pun pada akhirnya. Kecuali, sisa-sisa dosa yang harus ia tebus dengan lapang dada. Ingin rasanya Arifin menjerit mengingat semuanya tapi, ia malu bahkan pada dirinya sendiri.
Santana, dan Denny memberi pengertian pada bocah itu agar ia terbiasa dengan Arifin juga ibu tirinya. Tak lupa mereka memohon dengan sangat pada istri Arifin untuk menyayangi Dicky. Meski sepertinya terdengar tidak adil bagi istri Arifin yang notabene sebagai korban Arifin juga.
"Mbak, maafkan kami atas semua ini. Tapi, kami pun tidak bisa beruat banyak" ucap Denny di akhir percakapan.
"Tidak apa, Mas. Memang sudah nasibku untuk menjalani belenggu kehidupan yang diciptakan suamiku sendiri!" ucapnya seraya menoleh dengan sorot mata penuh luka pada Arifin. Sedang Arifin hanya bisa menunduk dan tak banyak bicara.
__ADS_1
"Tentu saja, di sini yang paling terluka adalah istri Arifin. Sebab ia harus rela menanggung dosa yang tidak ia lakukan. Seperti keadaan serupa yang pernah dialami Santana.
Santana, dan juga Denny akhirnya pamit. Mereka menyerahkan segala tanggung jawab Dicky pada Arifin. Ada perasaan lega pada diri mereka.
Sepanjang perjalanan pulang. Baik Denny maupun Santana tak bangak bicara. Hanya sesekali saling bertanya jawab.
***
"Mas, bagaimana Dicky sekarang?" tanya Mariam di lain waktu dan kesempatan. Wanita berparas ayu itu membuatkan secangkir teh manis hangat untuk suaminya. Dengan seri wajah yang menawan, ia bahkan tetap terlihat cantik meski hanya memakai baju rumahan yang sederhana.
"Alhamdulillah, Sayang. Sekarang Dicky sudah diurus oleh orang yang lebih berhak mengurus dan merawatnya. Semoga saja ia mendapatkan hak-haknya," jawab Denny sembari menyeruput teh buatan istri tercintanya itu.
Bersambung....
__ADS_1