Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 11. Fitnah


__ADS_3

Segarnya semilir angin yang meniup manja, bergandengan mesra dengan sorot kemayu sinar mentari pagi. Begitu merdu suara kicauan burung-burung bak sebuah lagu yang mengalun indah. Namun, Ratap di hati masih berdenyut nyeri.


Shaka membawa bolanya keluar rumah, sembari melempar kemudian mengambilnya lagi. Datanglah Dicky membawa selembar uang. Kemudian ia memanggil Shaka dan mengajaknya bermain di tempat biasa. Shaka yang senang mendapat teman langsung mengiyakan ajakan Dicky tersebut.


"Ayo Shaka cepat kesini," ucap Dicky sembari berlari mendahului Shaka. "Tunggu Dicky, jangan cepat-cepat larinya...," pinta Shaka. Suara tawa menggemaskan terdengar dari kedua bocah laki-laki itu.


Awalnya semua biasa saja, bermain seperti layaknya anak kecil. Sampai Dicky dengan sengaja menjatuhkan uangnya dan menyuruh Shaka untuk mengambilnya. "Dicky... uang kamu jatuh," ucap Shaka sembari menunjuk pada selembar uang itu.


"Wah, iya! tolong ambilkan ya Shaka," kata Dicky. Shaka yang tidak tahu Dicky sengaja melakukannya, menurut saja pada perkataan Dicky yang memintai tolong untuk mengambilkan uangnya. Shaka berlari menuju uang yang hampir terbang tertiup angin.


Tanpa diduga, setelah uang itu berada di tangan Shaka, tiba-tiba Dicky menangis. "Huwaaa... Ibu, Shaka mengambil uang ku, Bu" tuduh Dicky sambil berlari ke arah rumahnya yang tidak jauh dari situ.


Shaka yang kebingungan hanya berdiri termangu dengan uang Dicky di tangannya. Ia bingung hendak bertanya tapi, Dicky sudah lebih dulu pergi sambil menangis ke arah rumahnya. Tidak lama kemudian, Ibu Dicky mendatangi rumah Mariam dan memaki Mariam dengan kata-kata yang sama sekali tidak ramah di telinga.


"Mariam... Mariam! keluar kamu, lihat dan perhatikanlah anakmu itu. Apa kamu tidak mengajarinya untuk bersikap baik?" hina Ibu Dicky berteriak di depan pintu rumah Mariam.


Mariam yang kala itu sedang membuat keripik untuk dijual, kaget mendengar suara yang begitu keras memekik telinganya. Mariam mematikan kompornya dan segera bergegas ke luar. Di lihatnya sudah ada yang berdiri dengan mata yang menatap sinis ke arahnya.


"Maaf Bu, ada apa ya?" tanya Mariam kebingungan.


"Kamu ini tidak becus mendidik anak, pantas saja Santana meninggalkn kamu," hardik Ibu Dicky menorehkan luka pada perasaan Mariam.


Mariam memegangi dadanya dengan mata yang berkaca-kaca. Mengapa orang ini datang dan menyiram kembali luka hati Mariam dengan kata-katanya. Apa sebenarnya salah dan dosa Mariam padanya?


"Bu, maaf kalau saya ada salah, barangkali kita bisa berbicara baik-baik di dalam rumah. Silakan masuk, Bu," kata Mariam sembari menahan rasa sakit yang berdenyit nyeri di dadanya.


"Tidak perlu dibicarakan baik-baik segala, apa kamu tidak mampu memberi uang jajan pada Putramu? lihat dia sudah mencuri uang Dicky."


Wanita itu terus memaki dan menunjuk-nunjuk Shaka yang sudah berada di sana, dengan bola dan uang di tangannya. Kedua teman baik Shaka, yaitu Reyhan dan Ali juga ada di sana. Mereka tidak yakin bahwa Shaka melakukan itu.

__ADS_1


Telinga tetangga dan mata tajamnya telah siap menguping dan mengintai apa yang sedang terjadi pada Mariam. Ada yang merasa iba, tapi ada juga yang menjadikannya sebuah hiburan gratis. Sementara Ibu Dicky terus memojokkan Mariam dan Shaka tanpa mencari tahu kebenarannya.


Shaka berdiri dan menatap bingung dengan apa yang sedang terjadi di hadapannya. Bocah polos itu tak sedikitpun berpikiran macam-macam karena memang dirinya tak melakukan hal yang dituduhkan. Perlahan Mariam mendekati Shaka kemudian bertanya dengan suara lirih seakan ada pilu yang sedang mendera.


"Putra Ibu, Ananda Shaka sayang... apa benar, Nak? Shaka mencuri uang Dicky?" tanya Mariam demgan bibir bergetar sambil berjongkok memegangi bahu Shaka dan menatap matanya.


"Jangan menangis, Ibu. Shaka tidak mencuri, saat bermain tadi uang Dicky jatuh dan Dicky meminta tolong pada Shaka untuk mengambilnya" papar Shaka dengan jujur.


"Kalau begitu katakan dengan sopan pada Ibunya Dicky, dengan sebenar-benarnya" pinta Mariam dengan air mata yang tertahan dan membuat dadanya sesak.


"Ibu Dicky, ini uang Dicky... tadi Shaka mengambilkannya saat uang Dicky jatuh, karena Dicky menyuruh Shaka," tutur bocah itu seraya memberikan uang yang ada di tangannya.


Ibu Dicky mengambil dengan kasar uang tersebut, dengan tatapan sinis dan mulut tajamnya. Ibu Dicky tetap menuduh Shaka malakukannya. Reyhan dan Ali yang sudah tahu karakter Dicky, merasa geram pada Dicky.


Sementara Dicky tersenyum jahat melihat Shaka dan Mariam dipermalukan. Entah bocah seperti apa Dicky ini? mengapa dia punya pikiran yang jahat dan sangat merugikan orang lain. Sungguh sikap Dicky ini tidak bisa ditolerir.


"Dasar tidak tahu malu, sudah miskin, anaknya jadi pencuri, di tinggalkan pula oleh suaminya," hardik Ibu Dicky lagi.


"Cukup!" Mariam menjerit dengan kencang seolah meluapkan semua emosi dan rasa sakitnya.


"Saya sudah sabar menerima perlakuan dan fitnah dari Anda, dan Kamu Dicky... pikiran jahat macam apa yang merasuki otakmu, hingga kamu tega memfitnah Shaka?"


"Dia Shaka, putraku... aku yang mendidiknya, aku yang mengajarinya, aku yang mengurusnya sendiri. Bahkan aku tahu kapan dia jujur dan berbohong hanya dengan menatap matanya."


Batas kesabaran Mariam benar-benar sudah habis. Sampai Ibu Dicky yang semula bertengger dengan percaya diri, kini diam dan tampak ketakutan. Semua orang yang ada di sana bahkan tak percaya kalau Mariam bisa menyanggah fitnah yang di tuduhkan pada Shaka.


"Reyhan, Ali. Apa Shaka terlihat seperti pencuri?" tanya Shaka pada kedua teman yang sedang menggenggam erat tangan Shaka.


"Tidak, Shaka. Kamu kan anak baik-baik, kamu tidak terlihat seperti itu," ujar Reyhan.

__ADS_1


"Iya, Shaka. Reyhan benar, kami percaya padamu, Shaka" timpal Ali.


Ketiga bocah itupun saling berpelukan. Dicky yang kesal karena tidak ada yang memihaknya, pergi sembari menghentakkan kaki. Ibu Dicky menyusul anaknya dan pergi dengan wajah bersemu malu.


Sebagian tetangga Mariam turut menangis menyaksikan hal itu, sebagian yang lain justru merasa tak puas karena tontonan gratis itu telah selesai. Mariam merangkulkan tangannya pada ketiga bocah yang sedang berpelukan di hadapannya itu.


"Ibu Mariam, percayalah Shaka tidak mungkin mencuri uang Dicky," tutur Reyhan.


"Iya, Ibunya Shaka... Dicky memang sering berbuat tidak baik pada Shaka," imbuh Ali.


"Reyhan, Ali, Ibu dan Shaka sangat berterim kasih pada kalian. Terima kasih ya anak-anak baik, karena kalian sudah menyayangi Shaka dan percaya pada Shaka," sahut Mariam dengan tangis haru yang membias di wajahnya.


"Teman-teman terima kasih ya, sudah mau berteman dengan Shaka," ucap Shaka penuh kesungguhan.


Kedua bocah itu mengangguk dan tersenyum pada Shaka juga Mariam. Shaka merasa lega karena Ibu dan juga teman-temannya percaya pada dirinya. Meski Dicky telah memfitnahnya namun, Shaka tidak marah pada Dicky, hanya saja Shaka merasa sangat sedih.


Bersambung....


Hai readers tersayang, baca juga ya karya dari teman ku yang pastinya seru dan dijamin bikin kalian penasaran...👇👇👇


Judul : Dendam


Karya : nazwa talita


Setelah disiksa, dikhianati, dan dibuang di suatu tempat dalam keadaan tak bernyawa, Gendis bertekad mengubah takdir demi membalas dendam pada Arga Demian, pria tampan berhati iblis yang pernah menjadi kekasih rahasianya.


Akankah Gendis berhasil membalaskan dendam dan sakit hati pada pria yang selama ini terus bersemayam di hatinya? Ataukah dia justru kembali terjebak dan terjerat pada pesona Arga Demian dan kembali menjatuhkan hatinya pada pria itu?


__ADS_1


__ADS_2