
Seminggu sudah waktu berlalu, sejak pertemuan Shaka, dan Davina. Shaka banyak bercerita pada Mariam. Tentang sosok Davina yang begitu ramah dan menyenangkan.
Meski Mariam senang dengan kabar baik itu. Namun, dalam hati kecilnya tidak bisa ia pungkiri masih ada setitik rasa yang menyergah di dalam sanubarinya. Walau kini bukan hal berat bagi Mariam untuk melepaskan kepergian Santana, yang sedari awal memang sudah jauh meninggalkan dirinya.
"Sayang, bolehkah aku minta sesuatu?" ucap Denny membuyarkan gundukan lamunan yang semakin tinggi mengawang. "Mariam ...," ulang Denny, berusaha mendapatkan jawaban dari bibir manis istrinya itu.
"I-Iya, Mas ... Aku akan segera membuatkan teh untuk Mas," gagap Mariam hendak bangkit dari duduknya. Dengan perasaan tak menentu dan tidak mendengarkan dengan seksama.
"Hey ... Sayang! Siapa yang memintamu membuat teh, huh?" sergah Denny sembari memegangi tangan Mariam, hingga Mariam tidak bisa bergerak maju.
"Bukankah tadi Mas, meminta sesuatu?" tandas Mariam. Denny lalu tersenyum menahan perasaan yang memenuhi dadanya. Denny menyadari bahwa Mariam tak mendengarkan ucapannya dengan baik.
"Ya, aku memang meminta sesuatu darimu tapi, bukan secangkir teh! Aku minta senyuman yang terbiasa membias di bibirmu itu di kembalikan. Sudah lama senyuman itu menghilang dari bibirmu, Mariam," terang Denny dengan tatapan mata penuh kesedihan.
__ADS_1
Mariam memejamkan matanya seraya menghela napas kasar. Ia lupa bahwa pikiran dan sikapnya yang belakangan ini terus mengingat Santana itu, ternyata melukai perasaan Denny. Mariam memutar badannya menghadap Denny, lalu memeluk Denny dengan erat.
"Maafkan aku, Mas, tidak seharusnya aku begini," ucap Mariam. Ia merasakan kesedihan yang menyeruak di dalam dada Denny. Kentara dari detak jantung yang tidak lagi menggebu, melainkan tarikan napas yang sedikit tersendat seolah sedang merasakan perih.
"Tidak apa, Mariam. Sedari awal akulah yang mencintaimu. Sedari awal akulah yang mengejar dan menunggumu. Kini sudah nasibku, bila ternyata hatimu belum bisa jatuh sejatuh-jatuhnya untuk mencintaiku," lirih Denny dengan air mata yang tertahan di bibir matanya.
"Jangan bicara seperti itu, Mas. Aku mohon maafkan aku, maafkan sikapku yang telah membuatmu bimbang dan ragu. Tolong beri aku waktu untuk membiasakan hatiku lagi," pinta Mariam.
Denny tersenyum getir mendengar kata-kata Mariam. Tarikan napasnya semakin perih mengiris perasaannya. Sakit rasanya, mengetahui orang yang dicintainya ternyata sedang memikirkan hati yang lain.
Denny pamit untuk pergi ke luar. Entah apa yang akan dirinya lakukan. Yang penting saat ini hatinya bisa sedikit tenang setelah sikap Mariam yang membuat perasaannya tak terluka.
"Ayaaah!" Shaka berlari memanggil Denny, dari arah kamarnya. Bocah itu menghamburkan pelukan pada Denny. Seperti biasa ia memang selalu bermanja dengan Denny.
__ADS_1
"Ayah akan pergi?" tanya Shaka seraya menatap wajah Denny. Untuk beberapa saat bocah laki-laki itu terus memandangi wajah Denny tanpa berkedip. Seolah ia membaca rona kesedihan pada diri Denny.
"Ayah, bolehkah Shaka ikut dengan Ayah?" tanya Shaka lirih. Ia Masih belum berpaling dari tatapan mata yang terus memandangi wajah Denny.
"Tidak boleh dulu, Sayang. Ayah harus mengurus sesuatu hari ini," tutur Denny. Ia mencoba memaksakan senyumnya pada Shaka.
"Kenapa tidak boleh, Ayah? Apa Shaka akan mengganggu Ayah?" Bocah itu belum puas pada rasa penasaran dan berusaha untuk menyelidiki penyebabnya.
"Bukan begitu, Shaka! Sebaiknya menurut saja pada ayah. Nanti kalau sudah tidak sibuk, Ayah pasti mengajak Shaka," potong Mariam.
Shaka menunduk sedih sembari berlalu dari hadapan Mariam, dan Denny. Ia tidak menyahut sedikit pun pada Mariam. Entah apa yang dipikirkan olehnya.
Denny pergi membawa sepeda motor dan juga kesedihannya. Terus melaju tanpa tahu akan kemana. Berharap sakit di hatinya akan mereda.
__ADS_1
Bersambung....