Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 87 Menjemput Dicky


__ADS_3

"Mas, boleh aku bertanya?" ujar Davina seraya menautkan jari jemarinya.


"Ada apa? Katakan saja, Sayang," jawab Santana.


"Ini mengenai Dicky, Mas. Kalau kekhawatiran Shaka pada Dicky benar terjadi, bagaimana kalau dia kita ajak tinggal di sini saja ...," tutur Davina dengan sedikit ragu-ragu.


"Sebenarnya aku juga memikirkan hal yang sama tapi Vin, apa kamu yakin tentang hal ini?"


"Bismillah saja, Mas. Niat kita baik, hanya ingin menyelamatkan Dicky dari ketidak adilan yang dia terima. Aku tidak tega, Mas, mendengar kisahnya yang begitu memperihatinkan."


"Baiklah Davinaku, Sayang. Kalau begitu kita akan menjemput Dicky ke sana." Tutup Santana.


Pasangan suami istri itu pun bersiap untuk menjemput Dicky ke rumah Arifin. Dengan hati yang bertumpu pada doa-doa. Mereka meminta restu pada ayah Davina. Lalu, dengan lega mereka pun tersenyum setelah mendapat restu dari sang ayah.


"Jadi, kita akan ke sana dengan sepeda motor, Sayang?" tanya Santana.


"Tidak usah, Mas. Kita bawa mobil saja. Lagi pula, sudah lama mobilku itu tidak dipanaskan. Kita juga harus membawa Dicky, paling tidak dengan barang-barangnya juga 'kan."


Santana tersenyum tanda setuju. Sembari merangkul mesra Davina. Santana mengambil kunci mobil yang Davina berikan padanya.


"Aku harap, Arifin mau menerima keputusan kita ini, Mas," ucap Davina saat dalam perjalanan menuju ke sana.


"Aku juga berharap begitu. Semoga saja ini menjadi hal baik untuk Dicky," sahut. Santana sembari terus fokus pada kemudinya.

__ADS_1


Dalam perjalanan itu, mereka terus mengobrol kesana kemari. Sampai tidak terasa kini mereka sudah berada di halaman rumah Santana. Dengan perlahan keduanya turun dari mobil dan berjalan menuju rumah Arifin.


Davina mengetuk pintu yang entah mengapa nyaris selalu tertutup rapat itu. Tak lama seseorang membukanya. Handle pintu itu bergerak seperti susah hendak dibuka. Benar saja, yang membukanya adalah tangan mungil Dicky. Bocah itu terperangah ketika melihat Santana di hadapannya. "Ayaaaaah!!" teriak Dicky dengan mata berkaca-kaca.


Santana memeluk bocah itu. Terdengar isakan yang sangat menyayat hati dari bocah itu. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang telah lama ia pendam.


"Sudahlah, Nak. Semuanya akan baik-baik saja," ucap Santana menenangkan Dicky.


"Tidak, semuanya tidak akan baik-baik saja, Ayah. Bawa Dicky pergi dari sini. Dicky tidak mau tinggal di sini lagi, Yah, Dicky mohon bawa Dicky pergi," raung bocah itu penuh kecemasan.


"Tenanglah .... Dicky. Sekarang, biarkan kami bicara dulu pada ayahmu, hmm," Davina turut membujuk Dicky agar tak menangis lagi.


Singkat cerita, Santana bicara pada Arifin, dan juga Raya, istrinya. Dengan segala pertimbangan mengenai baik dan buruknya. Keputusan pun jatuh dan sesuai pada harapan Santana, juga Davina. Arifin menyadari dirinya tak menyanggupi untuk mengurus Dicky dengan baik. Apa lagi, hubungannya dengan Raya sedang tidak baik-baik saja. Maka, Arifin mengikhlaskan Dicky, untuk diurus dan dirawat oleh Santana dan istrinya. "Sekali lagi aku minta maaf padamu, karena terlalu banyak mebuatmu kerepotan," ujar Arifin.


Sementara, kedua wanita yang ada di samping mereka hanya menjadi penyimak saja. Sesekali mereka saling memandang dan melemparkan senyuman. Raya masih tampak sedikit memar meski kini perbannya sudah dilepas.


Keputusan sudah diambil dan disepakati. Dicky kini ikut tinggal bersama Santana, dan juga Davina. Binar kebahagiaan dan kelegaan hati nampak padanya.


"Dicky, berikan pelukan pada Ayahmu dan juga ibu Raya," titah Santan.


Arifin menitikkan air mata. Tangannya bergetar saat mendekap tubuh Dicky. Matanya menatap pasrah pada wajah bocah mungil itu.


"Ayah, berbaikanlah dengan Ibu Raya. Dicky akan baik-baik saja bersama Ayah Santana, dan juga Ibu Davina. Ibu Raya, tolong maafkanlah ayah, Dicky sayang Ibu Raya."

__ADS_1


Raya tak menjawab dengan sepatah kata pun. Bibirnya tak mampu mengucapkannya. Hanya air mata bersama peluk yang mendekap untuk melepaskan kepergian Dicky.


Kini Dicky pergi bersama Santana, dan juga Davina. Dengan tatapan sendu Dicky menoleh untuk terakhir kalinya pada Arifin, dan juga Raya. Senyuman getir dari bibir Arifin tampak mengantarkan kepergian Dicky.


"Orang yang sudah aku hancurkan rumah hidupnya, ternyata kini jadi dewa penolong bagiku dan juga anakku." Ratap Arifin menyesali perbuatannya. Mobil yang dikemudikan Santana pun kini sudah tak nampak lagi, menghilang dari pandangan Arifin.


Bersambung ....


Holla kesayangan othor. Selain jangan lupa untuk terus mendukung othor. Mampir juga ke karya keren milik teman othor ini, ya! Sebuah karya yang pastinya sayang untuk dilewatkan ....


Judul : Cinta Sendiri


Author : Ayi


Cinta Sendiri


Blurb :


Mencintai tanpa dicintai... Kedekatannya selama ini dengan sahabat abangnya hanya dianggap sebagai adik, tidak lebih.


Anggita Nur Anggraini, biasa disapa Gita telah jatuh cinta pada sahabat almarhum abangnya. Akan tetapi, cintanya bertepuk sebelah tangan. Bahkan dia sampai merelakan kehormatannya, sayangnya lelaki itu tetap tidak melihatnya.


Apakah cintanya akan berbalas?

__ADS_1



__ADS_2