
Seperginya Denny dari rumahnya. Santana terus memutar ulang kata-kata Denny dalam benaknya. Membuat ruang hampa di hatinya menjadi gaduh. Tapi sayang, gaduhnya bukan sebab kata-kata indah atau melodi cinta yang mengalun dengan merdu. Melainkan ultimatum yang mengingatkan dengan lantang, bahwa Mariam bukan lagi miliknya. Mariam tak lagi untuknya.
"Semua ini salahku. Dulu aku selalu ingin dia menjagamu. Menitipkanmu dan mempercayakan Shaka padanya," Gumam Santana merutuki sikap dirinya pada Mariam, di masa lalu.
"Sekarang aku baru menyadari. Sekarang aku baru merasa tak rela kau dimiliki dia. Aku terhempas karena ulahku sendiri," Santana mencengkram rambutnya geram.
"Ahh ... si*l! Seharusnya aku lebih berani. Benar kata orang. Aku terlalu takut pada Arifin, padahal tentu ada hukum yang berlaku andai dulu aku membela diri," Penyesalan terus saja menyudutkan Santana.
***
Denny sampai di rumahnya. Ia melihat Mariam sedang sibuk menata pesanan kue-kue dan makanan ringan yang sudah menumpuk. Sampai tak menyadari bahwa Denny sudah memperhatikannya sedari tadi.
"Bukan salahku, Mas Santana. Bukankah dulu Mas Santana sendiri yang memintaku menjaga Mariam, dan Shaka. Kini jangan salahkan, jika aku benar-benar menjaga mereka. Bahkan jika aku harus menjaga mereka dari sikapmu yang tidak perlu."
"Cukuplah kamu sebagai ayah dari Shakaku, Mas. Tapi tidak lagi seseorang untuk Mariamku. Dia kini milikku. Hanya untukku."
Denny teringat, betapa dulu ia sudah mengingatkan Santana. Agar ia memikirkan kembali keputusannya saat Santana bersikeras untuk melepaskan Mariam. Tentu saja, pesan-pesan terakhir Santana kala itu, masih jelas terngiang di telinga Denny.
__ADS_1
"Mas, sudah lama di situ?" ucap Mariam membuyarkan kecamuk dalam pikiran Denny. Wanita berparas ayu itu tersenyum pada suaminya.
Kala itu, Denny tak menyahut. Hanya menatap Mariam, seolah mengunci pandangannya agar tidak lepas. Mariam salah tingkah dibuatnya.
"Ada apa lagi, Mas? Apa masih tentang hati yang merasa takut kehilanganku?" tandas Mariam.
"T-Tidak, Sayang. Aku hanya terpesona melihat dirimu yang begitu memukau," kilah Denny.
"Tentu saja. Mas pasti akan mencari alasan untuk berbohong. Ingat mas, sepandai apapun lidahmu berbohong, sorot matamu tetap tidak bisa menutupinya," tutur Mariam membuat Denny tercengang.
"Apa Jagoanku ini mencariku, hmm?" ucap Denny seraya mengusap-usap pucuk kepala Shaka manja. Bocah laki-laki itu hanya menjawab dengan anggukkan, kemudian tersenyum.
"Syukurlah kamu datang, Shaka. Jadi aku tidak perlu memikirkan harus beralasan apa lagi, pada ibumu, untuk menjawab pertanyaannya" batin Denny.
"Den, apa Ibu bisa minta tolong?" Ibu Denny menghampiri mereka. Dengan benang wol berwarna merah dan hijau di tangannya.
"Tentu saja, Bu. Apa ada yang ibu butuhkan?" tanya Denny yang peka terhadap gelagat ibunya.
__ADS_1
"Iya, Nak. Ibu kehabisan benang untuk menyulam. Warna ini saja," jawab Ibu sembari menunjukkan benang wol dengan warna merah dan hijau di tangannya tersebut.
"Baiklah, Bu. Katakan berapa gulung ibu membutuhkannya?" tanya Denny, membuat ibunya merasa senang.
"Tidak usah banyak-banyak. Cukup 2 gulung saja setiap warnanya. Sepertinya itu cukup untuk menyelesaikan sulaman bunga mawar Ibu," terang Ibu dengan senyum mengembang di bibirnya.
Tanpa menunda waktu lagi. Denny langsung begegas pergi membeli benang yang ibunya butuhkan. Sekalian ia mengajak Shaka berjalan-jalan dengan sepeda motornya.
Mariam tahu. Denny sedang beeusaha menghindari pertanyaan darinya. Ia hanya menggelengkan kepalanya heran.
"Bu, apa mau Mariam buatkan teh?" ujar Mariam di sela-sela kesibukannya. Ia melihat wanita paruh baya itu begitu sibuk dengan sulamannya.
"Sedikit gula saja. Terima kasih ya, Nak," Ibu tersenyum sembari menuju ke kursi untuk duduk.
Mariam pun hanya menjawabnya dengan senyuman. Satu cangkir teh dengan sedikit gula pun Mariam buatkan. Spesial untuk ibu mertua yang sangat ia sayangi.
Bersambung....
__ADS_1