Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 48. Tetaplah Denganku


__ADS_3

Denny menatap sendu wajah Mariam. Ada rasa yang menusuk sangat dalam di dadanya. Rasa ketakutan akan kehilangan Mariam yang belakangan ini selalu menghantuinya.


"Mas, ada apa?" lirih Mariam, lalu duduk lebih dekat pada Denny. "Aku perhatikan, belakangan ini kamu sering melamun," lanjut Mariam.


"Di mana Shakaku?" tanya Denny mengalihkan topik pembicaraan. Ia sebenarnya tidak ingin diketahui bagaimana perasaannya saat ini. Namun, Mariam ternyata peka pada raut wajah yang tak biasa itu.


"Jangan mengalihkan pembicaraan, Mas. Aku mohon berterus teranglah. Apa kamu mau aku terlambat mengetahui isi hatimu seperti dulu?" cecar Mariam.


Denny tertunduk melepaskan tarikan napasnya perlahan.Ada benarnya juga apa yang dikatakan Mariam. Denny mengatur napasnya lagi, mencoba mencari cara agar bicaranya dapat diterima.


"Apa kamu merasa terganggu bila aku merasa cemburu? Mariam, sebenarnya akhir-akhir ini aku sedang ketakutan. Aku takut hatimu akan luluh lagi dan kembali pada Santana," ujar Denny memberanikan diri menyampaikan kegalauannya.


"Mas, apa benar itu yang kamu takutkan hingga membuatmu mudah galau tak seperti biasanya?" Mariam menjawab pertanyaan Denny dengan bertanya kembali. "Kalau memang demikian, katakan padaku apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu merasa tenang? Maaf Mas, apa kamu meragukan kesetiaanku?" lanjut Mariam lagi.

__ADS_1


"Tidak begitu, Mariam. Aku mohon jangan salah paham. Aku tidak meragukan kesetiaanmu, sungguh! Aku hanya tidak bisa lagi bahkan hanya untuk membayangkannya aku tidak bisa. Bila aku harus kehilanganmu lagi," jelas Denny.


"Mas, aku bukanlah orang yang bisa menjatuhkan perasaan pada setiap hati dalam waktu bersamaan. Mulai detik ini, denganmu saja sudah cukup. Tidak perlu kamu bertanya lagi."


Denny memeluk Mariam. Merasakan segalanya pada Mariam, untuknya. Membiarkan gusarnya meluruh ditenangnya dekapan sang cinta.


"Tetaplah bersamaku, Mariam. Tetaplah menjadi seseorang yang mampu menenangkan hatiku. Tetaplah di sini kita kecap manis dan pahitnya hidup bersama-sama."


Air mata Denny luruh membasahi pipinya. Dalam pelukan Mariam, Denny melepaskan kemelut jiwanya. Bagi Denny, hanya Mariam saja yang mamapu menjadiakan segalnya baik-baik saja saat ini.


Mariam mengeratkan pelukannya pada suami yang sangat ia hormati itu. Mereka berdua saling memeluk dan menepis risau yang memenuhi pikirannya. Setelah begitu banyak urusan orang lain yang terpaksa harus menjadi urusan mereka. Kini sepasang suami istri itu mencoba merehatkan sejenak penat yang sudah lama membubuhi hari-hari mereka.


"Ayah ... Ibu! Apa Shaka mengganggu?" cetus anak itu di tengah-tengah dekap dan pelukan yang sedang berlangsung di antara Mariam, dan juga Denny.

__ADS_1


"Hey, Jagoan. Kemarilah Sayang. Ayah merindukanmu," ujar Denny menepis malunya karena kepergok sedang berpelukan dengan Mariam.


Bocah itu berlari dan disambut dengan sebuah gendongan oleh Denny. Mariam tersenyum senang melihat perlakuan Denny yang menyejukan hati dan menentramkan jiwa itu.


"Mari kita bermain," Ajak Denny seraya membawa Shaka keluar dari ruangan di mana Mariam, dan dirinya berada sebelumnya. Mariam hanya diam memperhatiakan dua laki-laki yang sangat ia cintai itu. Kemudian Denny menoleh dan mengedipkan matanya nakal, menggoda Mariam.


"Baru saja dia menangis. Sekarang sudah mulai menggodaku lagi!" batin Mariam. Wajahnya kembali bersemu merah akibat ulah Denny.


"Ayah, apa Dicky sudah baik-baik saja?" cetus Shaka sembari sibuk bermain puzzle ditemani Denny. Bocah itu ternyata tak begitu saja melupakan Dicky sebagai temannya.


"Kita sama-sama bedoa untuk Dicky, ya! Semoga keadaannya sekarang sudah baik-baik saja," jawab Denny menghibur hati Shaka.


Shaka memang masih kecil. Tapi, dia mempunyai rasa empati yang tinggi terhadap orang-orang di sekitarnya. Hal itu juga yang membuat Denny selalu jatuh cinta dan kagum pada sikap anak sambungnya terebut.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2