
Davina duduk dalam pangkuan Santana. Didekap mesra oleh tangan laki-laki dengan kumis tipis nan menggoda itu. Menikmati hangat peluk dan harum aroma tubuh serta segarnya hembusan napas.
"Mas, katakan sesuatu yang sekiranya akan aku ingat sepanjang usiaku," pinta Davina sambil mengeratkan pelukan tangan Santana padanya.
"Mengapa aku harus berkata-kata, Davina. Jangan buat aku melakukan janji-janji yang nantinya mungkin gagal aku tepati. Aku tidak mau itu terjadi, biarlah kuupayakan untuk bertindak tanpa banyak berkata-kata."
"Tidakkah kamu senang bercerita denganku, Mas?" ucap Davina dengan wajah yang menengadah dan sorot mata memohon.
"Tentu saja akan kita lakukan. Menghabiskan waktu bersama, duduk dan menikmati seluruh sisa hidup kita bersama-sama."
"Apa kamu juga akan merasa sedih jika aku tiada?"
"Sayang, berhentilah menciptaan kesedihan. Bagaimana mungkin kamu sejahat itu padaku. Tidakkah kamu tahu? bahkan emak-emak readers mendoakan kebahagiaan untukku!" Santana mengalihkan topik pembicaraan.
"Ahh, kamu ini bisa saja, Mas. Jangan membuatku cemburu dengan mengingat nama wanita lain," ucap Davina mengerutkan dahi.
"Tentu saja aku ingat, mereka hanya ingin aku bahagia, Sayang. Bukan ingin merebut aku darimu!"
Bulan tersipu, senyumnya mengembang di bibir indah dengan sedikit belahan di tengah itu. Dagunya yang lancip dan alis tebal serta sorot mata yang tajam, menjadi definisi cantik yang nyaris sempurna untuk nilai fisik seorang wanita. Namun, yang membuat Santana lebih jatuh cinta, adalah kecantikan yang hadir dari dalam hatinya.
"Sampai kapan kita akan menginap di villa ini, Mas?"
"Selama yang kamu mau. 1 minggu, 2 minggu, atau lebih lama dari itu."
"Oh, wow! Itu sangat lama, Mas. Bukankah ada ayah di rumah ...."
"Aku bercanda, Sayang. 1 minggu saja, apa kamu setuju?"
__ADS_1
"Baiklah, itu baru jawaban yang benar."
Mereka pun hanyut dalam syahdunya sore yang menjemput malam. Meresapi setiap cerita dan haha hihi manja, atau sedikit saling menggoda. Hati Santana kini lapang, selapang dada bidangnya yang penuh kenyamanan.
***
Di langit malam bertabur bintang. Mariam melayangkan pandang sejauh mata menggapainya. Mungkin, karena tidak pernah tanpa Shaka. Hatinya menjadi gundah gulana memikirkannya.
"Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?" Denny datang dari arah belakang dan langsung memeluk Mariam.
"Tidak, Mas ... hanya sedikit rindu pada Shaka."
"Hey, percayalah aku juga merindukannya ...," Denny mencium tengkuk Mariam.
"Dia akan baik-baik saja. Shaka pergi bersama ayah dan ibunya juga 'kan. Jangan terlalu dipikirkan."
"Iya, Mas. Kamu benar, Shaka bersama mereka dan pasti dijaga dengan baik." Mariam tersenyum.
"Sayang, besok aku akan pergi. Ada beberapa hal yang harus aku urus," ungkap Denny.
"Apa kamu juga akan meninggalkan aku sendrian? Shaka sudah pergi, Mas. Masa kamu juga pergi," rajuk Mariam.
"Sayang, aku tidak lama. Hanya sebentar saja, rumah makan milik kita mengalami sedikit kendala." Jelas Denny.
"Rumah makan? Milik kita? Sejak kapan, Mas? Kamu tidak pernah memberitahu aku."
"Ya, memang ... bahkan ada yang penasaran dan bertanya, apa pekerjaanku sebenarnya," Denny tersenyum penuh misteri.
__ADS_1
"Aku kira, selama ini hanya warung yang diurus Umar, dan lita saja, Mas, yang menjadi mata pencaharianmu.
"Tentu saja tidak, Mariam. Rumah makan ini sudah sejak lama aku dirikan tapi, memang aku tidak ikut mengurusnya langsung dan hanya menerima pembagian hasil saja."
"Kenapa begitu, Mas?"
"Sudah ada kakaknya Lita sebagai atasan di sana. Aku tidak mau turut merecokinya. Khawatir malah akan sulit dijalankan bila satu kapal, terdapat dua nahkoda. Walaupun modalku 70 %, dan modalnya 30 % saja."
"Baiklah Mas, aku mengerti."
"Jangan berpikir macam-macam, hem!"
Mariam mengangguk tersenyum. Lalu, membenamkan diri ke dalam pelukan Denny.
Bersambung ....
Gimana guys? Pantengin terus kisah selanjutnya, ya! Namun, sembari menunggu, othor mau ajak kalian mampir dulu nih, ke karya keren milik teman othor ...
Judul : Istri Yang Tak Dihargai
Karya : Syasyi
Aisyah, seorang istri yang di jadikan pembantu di rumah suaminya sendiri. Bahkan dirinya harus menerima pernikahan suaminya dengan kekasihnya. Penghinaan kerap dia rasakan dari suami, ibu mertuanya, dan juga istri kedua suaminya. Aisyah hanya di jadikan istri yang tak di hargai oleh suaminya yang bernama Kenzi.
Namun pertemuannya dengan sang dewa penolong merubah takdirnya. Aisyah yang memiliki kulit tak terawat ( jelek ) dan penampilan kampungan berubah menjadi sosok wanita cantik dan memukau. Di tambah pertemuannya dengan orang masa lalunya yang membantu dirinya mewujudkan balas dendamnya.
Yuk ikuti kisah Aisyah dalam merubah takdirnya dan membalaskan dendamnya atas perbuatan mantan suami, mantan madunya, dan keluarga mantan suaminya
__ADS_1
Selamat membaca, jangan lupa tinggalkan jejak, ya! ❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤