
Santana meresapi lamunnya sambil berdiri di depan jendela yang terbuka. Berharap dapat melihat luasnya bentangan kasih yang tercipta di tengah sesak dan isak yang sedang menderanya. Menghibur jiwa yang lemah, remuk terkoyak derita.
Mencoba mengembalikan harapan hati yang pupus terhapus pilu. Meratapi rasa yang telah habis terkikis rindu yang menggebu. Memaksa untuk tegar dalam menghadapi keadaan yang menghajarnya dengan sangar.
"Uh" lenguh Santana merasakan sesuatu yang bergemuruh di dalam dadanya. Membayangkan apa yang terjadi kerap membuatnya berada dalam tempurung duka. "Wahai pemilik jiwa dan raga! Tidak bolehkah aku bahagia atas takdir hidupku? Sebentar saja," ucapnya di dalam hati.
Prang !!!
Kaca jendela pecah terkena hantaman benda yang dilempar dengan sangat keras. Lamunan Santana turut buyar bersamaan dengannya. Santana melihat sekeliling dengan mata menyelidik mencari tahu siapa yang melakukan itu.
Mata Santana berhenti di satu titik di mana Dicky sedang berdiri sambil memegang batu sebesar kepalan di tangannya. Ia menarik dan membuang napas kasar. Andai Dicky adalah seorang yang sudah dewasa entah apa yang akan dilakukan Santana karena kesal.
"Dicky... kemarilah," bujuk Santana kali ini menunjukkan wajah tanpa amarah. Namun, bocah itu malah menekuk wajah lalu berpaling kemudian lari menjauh. Santana pasrah menghadapi bocah yang selalu haus perhatian itu.
"Mas, apakah baju ini bagus?" tanya Asih menunjukkan baju yang ia kenakan sambil memutarkan badannya. "Cih, wanita tidak tahu malu. Jangan kamu pikir aku akan tergoda melihat kamu memakai baju kurang bahan seperti itu," hardik Santana dalam hatinya.
"Tidak tahu, Asih! Jangan minta pendapatku kalau ujung-ujungnya kamu tidak menerima," tandas Santana seraya memalingkan wajah. "Sampai kapan hatimu akan membatu seperti itu padaku, Mas?" protes Asih merasa tidak dihiraukan. "Apa kamu akan senang kalau aku mengatakannya?" kata Santana balik bertanya.
Asih mengerutkan dahi sembari menghentakkan kakinya lalu pergi dari hadapan Santana. "Sampai kapanpun hatiku tidak akan pernah aku jatuhkan padamu, Asih. Kamu yang sudah memaksaku untuk berubah jahat sampai istri dan anakku sendiri membenciku" gumam Santana.
"Lihat saja, Santana. Apa yang akan aku lakukan atas semua sikap burukmu terhadapku," gerundal Asih sembari mengganti pakaiannya. "Beraninya kamu membuat aku terhina!" lanjut Asih dengan napas memburu penuh amarah.
Asih keluar rumah sembari membanting pintu dengan keras hingga suara bantingannya terasa sangat memekik di gendang telinga. Santana tak perduli pada apa yang dilakukan Asih. Mungkin bila Asih mati di hadapannya sekali pun Santana tidak akan perduli.
__ADS_1
Hatinya sudah mendendam terlalu dalam atas apa yang pernah Asih dan Arifin lakukan padanya. Santana merajut kembali lamunan yang sempat buyar sebelumnya. Namun, kali ini ia berganti posisi berbaring di ranjang dengan dua tangan menopang kepalanya.
Ia benar-benar tidak mau tahu apapun mengenai apa yang dilakukan oleh Asih. Bagi Santana, semua itu bahkan belum cukup untuk membayar perbuatan Asih pada rumah tangganya dengan Mariam. Santana masih terus asik dengan lamunannya sampai akhirnya rasa kantuk datang dan membuatnya tertidur.
***
"Mariam!" teriak Asih dengan keras dari depan rumah Denny. Suaranya menggelegar hingga terdengar ke bagian terdalam ruangan rumah Denny. Mariam yang mendengar suara itu langsung bergegas menuju ke luar untuk mencari tahu.
Belum sampai Mariam membuka pintu, Ibu Denny mencegah langkah Mariam dengan menarik tangannya. "Biar Ibu saja yang keluar," tandas Ibu Denny. Mariam patuh dan hanya menunggu di balik pintu.
"Ada apa, Mbak? Kenapa anda berteriak di rumah orang? Sangat tidak sopan" ujar Ibu Denny. "Diam kamu, ini bukan urusanmu! Mana menantumu yang sok alim itu? suruh dia keluar " omel Asih dengan nada kesal. Tanpa rasa sungkan Asih bersikap sangat arogan.
"Apa kamu tidak sadar kalau ini adalah rumahku? Itu berarti kamu berurusan denganku," ucap Ibu Denny yang mulai tersulut emosi. Tanpa rasa bersalah Asih justru mendorong Ibu Denny hingga nyaris terjerembab ke lantai. Bersyukur Denny datang tepat waktu dan berhasil menahan tubuh Ibunya sehingga tidak jatuh.
Denny yang kala itu baru datang sehabis membawa Shaka bermain merasa heran melihat kedatangan Asih di rumahnya. "Beraninya kamu menyentuh Ibuku," ujar Denny menunjuk wajah Asih sembari menggemeratakkan giginya. Namun, Asih tidak menghiraukan ia malah memaksa untuk masuk ke dalam rumah mencari Mariam.
Mariam melangkahkan kaki dengan yakin menuju pintu. Dengan tatapan mata yang tajam Mariam membidik Asih yang sedang membabi buta tanpa alasan yang jelas. "Apa yang kamu inginkan lagi dari hidupku? " tanya Mariam dengan ekspresi wajah garang seolah ingin menelan Asih hidup-hidup.
Ibu dan juga Denny sampai tidak menyangka Mariam bisa semenakutkan itu. Asih yang semula menggebu-gebu kini nyalinya menciut melihat Mariam yang bagai harimau hendak menerkam mangsanya. Kepalang tanggung dengan sikap angkuhnya, Asih memulai kembali tingkah tak bermoralnya.
"Menjauhlah dari suamiku, Jal*ng! Gara-gara kamu sekarang Santana jadi semena-mena terhadapku " tegas Asih. Dengan santai Mariam menjawab " Aku tidak perlu bertanggung jawab atas apa yang kamu alami. Aku juga tidak perlu merasa bersalah apalagi meminta maaf untuk kesalahan yang tidak pernah aku lakukan."
Mariam menyeringai lalu mendaratkan dua tamparan di wajah Asih. "Plak ... Ini untuk perbuatanmu pada Ibuku" ucap Mariam usai melayangkan satu tamparan. "Plak ... Ini untuk perbuatan rendahmu yang sudah menuduhku," imbuh Mariam setelah tamparan berikutnya berhasil ia daratkan dengan sempurna di wajah Asih.
__ADS_1
"Sudah, Mariam. Jangan kotori tanganmu lagi untuk orang seperti dia," bujuk Ibu Denny sembari memegangi pundak Mariam. "Pergilah dari sini sebelum istriku melakukan hal yang lebih membuatmu malu," ucap Denny memberi ultimatum.
Asih lalu pergi dalam keadaan terhina. Bak sebuah peribahasa senjata makan tuan, seperti itulah yang sedang Asih alami sekarang. Niat hati ingin menginjak-injak harga diri Mariam namun, keadaan malah berbalik padanya. "Si*l " maki Asih merutuki nasibnya.
"Ibu, apa Ibu tidak apa-apa? " tanya Mariam cemas. "Ibu tidak apa-apa, Nak " jawab Ibu tersenyum. "Maafkan Mariam, Bu ... Mariam penyebab semua ini, " imbuh Mariam.
"Tidak, Nak! Seperti yang kamu katakan, kamu tidak perlu meminta maaf atas kesalahan yang tidak kamu lakukan" ucap Ibu. "Sayang, yang tadi itu keren sekali" cetus Denny. "Hus, ngawur saja kamu, Den" sergah Ibu Denny lalu mereka tertawa.
"Ibu, apa sudah selesai main perang-perangannya?" tanya Shaka yang kala itu baru keluar dari kamar. Suasana yang sempat menegang tadi membuat mereka tidak sadar bahwa ada Shaka di sana. Mariam menatap penuh tanya ke arah Denny.
"Perang-perangan? Apa maksudnya, Shaka?" tanya Mariam bingung. " Kata Ayah, Ibu sedang main perang dingin dan itu hanya untuk orang dewasa. Jadi, Ayah menyuruh Shaka bersembunyi di kamar tadi " terang Shaka polos.
Mariam baru memahaminya lalu melempar senyuman manisnya pada Denny. Denny mengangkat kedua alisnya bangga atas apa yang dia lakukan. "Kemarilah, Sayang ... Ibu ingin sebuah pelukan" pinta Mariam pada Shaka dan Shaka langsung menghambur ke dalam pelukan Mariam.
Bersambung....
Hai guys... sembari menanti update selanjutnya, author mau ajak kalian buat mampir di karya teman author yang pastinya gak kalah keren... 👇👇👇
Judul : Pesona Tuan De Luca
Karya : Komalasari
Matteo de Luca adalah seorang putra mahkota dari organisasi hitam terbesar di daratan Italia. Setelah dikhianati dan hampir terbunuh dalam sebuah transaksi, ia yang tengah terluka melarikan diri ke kota Venice. Di sanalah Matteo bertemu dengan sosok Mia, gadis lembut dan sangat lugu yang mampu mengguncang dunianya.
__ADS_1
Namun, sayangnya kisah cinta mereka tak semulus percintaan dua insan biasa. Dunia yang berbeda, membuatnya harus rela meninggalkan gadis itu. Sampai suatu hari, Matteo mendengar kabar bahwa Mia akan menikah dengan pria lain. Ia pun kembali dan berusaha untuk menggagalkannya.