
Ritual isi perut itu pun selesai. Dicky sampai sendawa karena kekenyangan. Shaka merasa lega karena kini Dicky tidak kelaparan lagi.
"Shaka, apa kamu masih marah padaku?" tanya Dicky seusai makan dengan menunjukan wajah yang cemas. "Tentu saja tidak, Dicky, aku tidak pernah marah padamu. Lagi pula kata ibu, kemarahan yang disimpan terlalu lama akan menjadi duri bagi diri kita sendiri," tutur Shaka.
Lagi-lagi Denny dibuat terkesima oleh polah dan tutur kata sang anak sambungnya. Sebegitu baik perangai sang istri, hingga mampu mendidik bocah kecil itu menjadi anak dengan pribadi yang baik lagi menyejukan hati. Lalu, wajah Denny semakin tersipu oleh pikirannya sendiri.
Dua bocah laki-laki itu masih terus berceloteh kesana kemari. Denny sangat menikmati pemandangan itu. Dua orang anak yang sedang bebincang bak orang yang sudah dewasa.
"Apakah ngobrolnya sudah selesai, Nak?" selah Denny memotong pembicaraan mereka. Kedua bocah itu menoleh ke arah Denny bersamaam lalu, "tentu saja, Ayah" sahut Shaka. Dicky berterima kasih pada Shaka, dan Denny.
__ADS_1
"Dicky, mengapa Dicky menangis tadi? Memangnya ibumu ke mana, Nak?" tanya Denny berusaha mencari tahu yang terjadi, setelah keadaan sudah tenang. Dicky menatap Denny dengan wajah sendu. "Ibu terus marah-marah, Paman. Bahkan ibu tertawa dan menangis tanpa sebab, ibu sangat aneh belakangan ini" papar Dicky.
"Baiklah, Nak, jangan bersedih ya! Sekarang Paman, dan Shaka akan mengantarmu pulang" pungkas Denny. Bocah itu malah menggelengkan kepalanya lalu, "tidak mau, Paman! Dicky takut pada Ibu." Bocah itu tampak tertekan dan kebingungan.
Denny tidak lantas memaksa bocah malang itu untuk pulang. Ia memilih membawa Dicky ke rumahnya. Tidak lupa juga, Denny membungkus 3 porsi ayam bakar untuk dibawa pulang. 2 porsi untuk Ibu, dan juga Mariam, dan yang 1 posi rencananya akan diberikan kepada Asih.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di rumah Denny. Dicky langsung berlari ke arah Mariam dan bersimpuh di kaki Mariam. Mariam merasa heran dan kebingungan.
"Lupakan, Sayang. Ibu Mariam tidak pernah marah pada Dicky, asalkan Dicky tidak mengulanginya lagi, hmm. Dicky menganggukkan kepalanya. "Kemarilah, Nak," kata Mariam sembari merentangkan tangannya memberi isyarat pada dua bocah itu untuk memeluknya dan mereka menghambur ke dalam pelukan Mariam.
__ADS_1
Mariam belum sempat menanyakan apa yang terjadi pada Dicky, saat itu. Mariam, Denny, dan juga Ibu membiarkan saja dua bocah itu menghabiskan waktu untuk bermain bersama. Baru kemudian Mariam bertanya pada Denny, perihal apa yang terjadi pada Dicky.
Denny pun menceritakan semuanya lalu, ia meminta pendapat pada Mariam, juga Ibu. "Sebaiknya apa yang harus kita lakukan? Anak itu sepertinya sangat membutuhkan bantuan kita," ucap Denny.
"Bagaimana, Bu? Apakah kita harus ke sana untuk memastikan keadaan Asih?" tanya Mariam pada sang ibu mertua. "Mariam, bagaimana jika ibu saja yang ke sana bersama Denny? Ibu khawatir Asih akan bertindak macam-macam lagi bila melihat kamu di sana" usul Ibu.
Denny juga setuju pada saran ibunya, karena Asih selalu tidak suka pada Mariam. Mereka khawatir Asih akan melakukan hal yang lebih nekad lagi. Akhirnya, Denny pergi bersama Ibu, mengantarkan Dicky pulang sekaligus mestikan keadaan Asih.
Jika dipikir, mereka mungkin tidak perlu repot mengusrus sesuatu yang bukan menjadi tanggung jawabnya. Namun, perikemanusiaan harus tetap dijalankan bukan? Karena itu mereka tidak akan memandang pada siapa mereka akan melakukan kebaikkan. Saat ini, yang jelas keadaan dan nasib seorang bocah sedang dipertaruhkan.
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih ya, sudah setia membaca karya author yang sederhana ini. Jangan lupa tinggalkan jejak untuk mendukung author, ya! Tinggalkan like setelah membaca, komen, vote, juga hadiah. Tekan love dan favoritkan. Luv u all 💖💖💖💖💖💖💖💖