
"Paman Umar ... Bibi Lita!" Shaka langsung berlari menghampiri Umar, dan Lita ketika sudah sampai di rumah mereka. "Hey, Jagoan. Berhati-hatilah jangan berlari," teriak Umar khawatir kalau Shaka akan terjatuh.
Sampailah bocah itu di pelukan Umar. "Paman, lihatlah! Aku ke sini bersama Dicky. Dicky sini, kita akan bermain bersama paman Umar, benar 'kan Paman?" kata bocah itu ceriwis.
Umar melihat ke arah Dicky dan tersenyum. "Mar, Shaka ingin bermain bersama kamu, dan Lita. Sepertiny dia merindukan kalian," terang Denny yang turun sekejap untuk mengantar Dicky, dan Shaka. Lalu, ia kembali melajukan sepeda motornya setelah bicara pada Umar.
Lita merasa heran, Mengapa Dicky ada bersama Shaka. Ia pun tidak terlalu mengenali bocah itu. Kemudian, Lita bertanya pada Shaka.
"Shaka, Dicky adalah?...." Lita menunjukkan ekspresi penuh tanya. "Dia teman Shaka, Bibi. Putra Ibu Asih," tutur Shaka. Sedang Dicky terlihat masih canggung pada Umar, dan juga Lita.
"Ibu Asih? Bukankah dia itu?...." Mulut Lita ditutup oleh Umar dengan kedua tangannya. "Shaka, ajaklah Dicky ke dalam. Paman sudah menyiapkan susu dan roti untuk kalian," titah Umar. Kedua bocah itu pun patuh dan langsung masuk ke dalam rumah lalu menyantap sarapannya.
__ADS_1
Mulut Lita masih terbungkam oleh tangan Umar hingga ia kesulitan bernapas. Umar melepaskan tangannya setelah memastikan kedua bocah itu sudah masuk ke dalam rumah.
Lita menghentakkan kakinya menginjak kaki Umar hingga ia mengaduh kesakitan. "Aduh, Sayang. Apa-apaan kau ini?" ringis Umar. "Kamu yang apa-apaan, Mas? Kenapa mulutku di bekap?" desis Lita kesal..
"Ssttt! Jangan keras-keras bicaranya," bisik umar meletakkan jari telunjuk di bibirnya. "Ada apa? Katakan kenapa? Jangan membuatku penasaran," berondong Lita.
"Kamu tahu siapa Asih?" tanya Umar pelan. "Jelas aku tahu, dia kan wanita yang sudah merebut Mas Santana dari mbak Mariam," jawab Lita. "Sekarang keadaan jiwanya terganggu, dia sedang direhab." papar Umar.
Lita membulatkan bibirnya. "Lalu, mengapa anaknya ada bersama mas Denny?" selidik Asih. "Kamu tanyakan saja sendiri pada Masku itu," jawab Umar. "Huh, kamu ini, Mas. Menyebalkan sekali!" dengus Lita.
Hari sudah siang. Seseorang bernama Vivin datang seperti biasa. Mengambil kue-kue dan makanan ringan buatan Mariam, yang di taruh di toko Umar.
__ADS_1
"Mbak Vivin, terima kasih loh. Sudah menjadi langganan kami," ujar Lita sembari menyiapkan semua pesanan Vivin. "Sama-sama, mbak Lita" Vivin tersenyum simpul.
"Kamu pikir siapa yang menyuruhku melakukan semua ini, Lita? Mas Santana! Dialah orangnya," batin Vivin. Vivin yang merupakan kerabat Santana itu, sebenarnya merasa heran dengan Santana. Mengapa Santana meminta bantuannya untuk selalu memborong kue-kue buatan Mariam itu.
Meski kue-kue itu nyatanya memang enak dan digemari semua orang. Namun, Vivin masih heran denga rencana Santana yang serapi itu. Hingga ia berhasil melibatkan Umar, dan Lita yang merupakan adik sepupu Denny turut bekerja sama untuk memasarkan kue-kue dan makanan ringan buatan Mariam, dan mereka tidak menyadarinya.
Sesuai permintaan Santana. Vivin menambah lagi jumlah pesanan kuenya pada Lita. Supaya penghasialan Mariam, jadi lebih besar.
Sampai-sampai Umar, dan Lita tersenyum kegirangan, kemudian Lita berencana mengabari Mariam, tentang berita yang menyenangka itu. Tiba-tiba, mereka dikejutkan oleh suaran teriakan bocah yang memanggil-manggil dari dalam.
Bersambung....
__ADS_1
Masih setia. Seprti para readers kesayangan yang selalu menunggu update dari author. Autgor jiga masih menanti dukungan dari kalian sema.
☺❤