
Terkadang manusia tidak akan pernah benar-benar mengerti apa yang dirasakan oleh orang lain, Sampai ia merasakannya sendiri. Itulah sebabnya, ketika melihat orang lain sedang berada di titik terendahnya, kebanyakan orang malah mengucilkan dan mencemooh, kecuali hanya beberapa orang saja. Mungkin itulah yang sedang Mariam, dan Shaka alami saat ini.
Perihal fitnah yang dilakukan Dicky pada Shaka, memang tidak membuatnya mendendam tapi, luka terlanjur ditorehkan di hati Mariam, begitu juga Shaka. Kedua ibu dan anak itu semakin menjaga jarak dari orang-orang di sekitarnya. Untuk percaya lagi pada orang lain rasanya menjadi sangat sulit.
"Shaka... kita main lagi yuk!" ajak kedua teman Shaka, yaitu Reyhan dan Ali yang masih setia bersama Shaka.
"Emm... Reyhan, Ali. Maaf ya, Ibu Mariam tidak mengizinkan Shaka main dulu hari ini. Kalau Reyhan dan Ali mau main silakan saja, terima kasih ya sudah menemani Shaka," tutur Mariam pada kedua bocah itu seraya tersenyum.
Reyhan dan Ali saling bertatapan kemudian "baik Bu Mariam, kalau begitu kami pergi dulu ya! Dadaa Shaka," jawab mereka sambil berjalan dan melambaikan tangannya pada Shaka.
Shaka terlalu kecil untuk mengerti kekhawatiran Mariam namun, sepertinya Shaka sudah terdidik untuk memahami keadaan. Shaka menghambur ke dalam pelukan Mariam. Mariam memeluk dan menggendong Shaka kemudian masuk ke dalam rumah.
"Bu...," ucap Shaka lirih sembari menatap wajah Mariam yang masih terlihat Muram.
"Iya, sayang... Shaka mau makan?" balas Mariam sembari menurunkan Shaka dari gendongannya.
Shaka menggelengkan kepalanya lalu memberi semangat Mariam dengan cara berjoget ala bocah sambil bernyanyi. Mariam mengembangkan senyum di bibirnya, memperhatikan buah hatinya dengan seksama. Luruh sudah duka dan lara di dalam hatinya saat itu.
"Mari Bu, kita pergi berdagang. Bukankah Ibu sudah membuat keripik?" tutur Shaka mengajak Mariam.
"Iya sayang... belum selesai semua tapi, tidak apa! ayo kita pergi," tandas Mariam.
Seperti biasa Mariam menjajakan barang dagangannya keliling kampungnya hingga kampung sebelah. Tiba-tiba Mariam merasa ada yang sedang mengawasinya. Mariam membawa Shaka yang kala itu berjalan kaki ke dalam gendongannya.
"Tidak usah gendong Shaka, Bu. Nanti Ibu cepat lelah," ujar Shaka.
"Tidak apa, Nak! kita harus cepat pergi," tegas Mariam.
Mariam pun mempercepat langkah kakinya dengan perasaan was-was. Mariam akhirnya berhenti ketika sudah berada cukup jauh dari tempatnya tadi. Dengan napas yang terengah Mariam menurunkan Shaka lagi dari gendongannya.
"Bu, apa ada sesuatu yang Ibu khawatirkan?" kritik Shaka menyadari tindakan Mariam.
"Tidak apa-apa, Nak. Ibu hanya ingin segera sampai di tempat ini," jawab Mariam berbohong.
Benar saja, beberapa langkah dari tempatnya berdiri seseorang datang mengejutkan Mariam. Rasa tak percaya pada siapa yang ada di hadapannya. Mariam mematung menghentikan langkahnyanya sambil tetap menggandeng erat tangan Shaka.
"M... Mas Santana," gagap Mariam yang tanpa sadar menjatuhkan bulir bening dari sudut-sudut matanya.
__ADS_1
"Iya Mariam, ini aku... Santana," kata Pria itu.
Mariam tak tahu apakah ia harus gembira atau merasa sedih dengan kehadiran Santana yang tidak disangka-sangka. Sementara Shaka yang hampir lupa pada wajah Santana, hanya menatap wajah Mariam dan Santana secara bergantian.
Akhirnya Shaka menyadari bahwa yang ada di hadapannya adalah sang Ayah. Shaka langsung melepaskan gandengan tangannya dari mariam lalu berlari ke arah santana. Mariam tersentak saat itu.
"Ayaaaah...," Shaka berlari memanggil nama Ayahnya.
Santana menyambut Shaka dengan sebuah pelukan, tapi ekspresi Santana biasa saja. Seperti tidak ada kerinduan yang terlihat dari sorot mata dan raut wajahnya. Apakah mungkin Shantana telah mati rasa?.
"Baiklah, Mariam. Ada hal yang ingin aku bicarakan langsung denganmu," terang Shantana.
***
Kini Mereka sudah berada di rumahnya, beberapa saat hanya hening yang mengisi ruangan itu. Santana hanya menjawab seperlunya celotehan Shaka yang terus mengajaknya bicara. Sikapnya yang acuh tak acuh itu benar-benar membuat Mariam merasa terhina dan sakit mengenang nasib Shaka.
"Mas, tidak rindukah kamu pada Shaka?" tanya Mariam memecah keheningan.
"Ku rasa aku tidak harus menjelaskannya," jawab Santana dengan entengnya.
"Mariam, aku tidak ingin bertele-tele. Bisakah kita bicara empat mata sekarang?" tutur Santana.
Mariam menyuruh Shaka untuk masuk ke kamar terlebih dahulu. Dengan tatapan sendu dan rasa rindu yang masih memggumpal pada sang Ayah. Atas permintaan Mariam, Shaka beranjak dengan langkah berat menuju kamarnya.
"Ayah, apakah Ayah tidak senang bertemu dengan Shaka, dan Ibu?" batin Shaka yang sudah sampai di depan pintu kamar seraya menoleh ke arah Santana.
Mariam menganggukkan kepalanya pada Shaka. Shaka mengerti lalu benar-benar masuk ke kamarnya. Mariam mempersilakan Santana untuk menyampaikan maksudnya.
"Katakanlah, Mas. Aku akan mendengarkan semuanya," ujar Mariam dengan yakin.
"Begini Mariam, sebelumnya aku minta maaf karena telah membuat kalian sengsara," ucap Santana lalu tertunduk.
"Apakah Mas pikir kata maaf itu sudah cukup untuk membayar semua perlakuan 'tegamu' pada kami?" pungkas Mariam.
"Mariam, tolong jangan ungkit lagi, aku tidak ingin membahasnya!" tegas Santana.
"Mengapa, Mas? bukankah bahtera rumah tangga kita sudah kandas melalui sepucuk surat yang kamu titipkan pada orang lain???" berondong Mariam dengan nada berapi-api.
__ADS_1
"Apalagi yang ingin kamu ambil dari hidupku, Mas? apakah kamu kesini hanya untuk menegaskan ketidak perdulianmu pada Shaka? atau kamu ingin mengatakannya dengan langsung apa yang pernah kamu tulis dalam surat itu?" Mariam terus memberondong Santana, tanpa memberi kesempatan pada Santana untuk menjawabnya.
"Sampai hati kamu, Mas!" raung Mariam seraya menahan sebak yang semakin mendesak.
"Mariam, aku tahu ini sangat sulit untuk kalian terima, tapi...," Kalimat Santana terpotong.
"Tentu saja, Mas. Tapi, itu sangat mudah bagimu bukan? bahkan tanpa memikirkan bagaimana perasaan Shaka yang selalu bermimpi hanya untuk sekedar diajak bermain olehmu."
"Mariam, kalau soal bermain saja bukankah aku telah meminta pada Denny untuk melakukannya?!" sangkal Santana.
"Mas! apa kamu serius dengan kata-kata kamu? Mas berpikirlah sedikit lebih masuk akal! Mas Denny itu siapa? dia hanya orang lain, Mas. Seharusnya kamu ayah kandungnya yang melakukan semua itu untuk Shaka."
Mariam menggeleng dan tak habis pikir dengan jalan pikiran Santana. Apakah Santana benar-benar tidak memiliki hati dan perasaan? hingga dengan ringan ia mengatakan hal yang sama sekali tak layak. Menitipkan anaknya pada laki-laki lain, dan dirinya menelantarkannya tanpa merasa berdosa.
"Baik, Mas. Aku sudah mengerti sekarang," ucap Mariam menghela napas berat.
"Ada lagi yang ingin kamu sampaikan, Mas?" tanya Mariam lagi.
"Ya, Mariam. Sebentar lagi aku akan menempati rumah ini dengan istri baruku. Aku harap kamu bisa segera pergi dan aku mohon pengertianmu.
Jlep!
Hati Mariam mendadak ngilu bagai disayat sejuta sembilu....
Bersambung....
Hai readers kesayangan author, jangan lupa mampir juga ya di karya kece temanku yang pastinya sangat menarik untuk diikuti...**👇👇
Judul : Zafrina Mendadak Nikah
Karya : Emma Risma
Terjebak dalam Friendzone membuat Zafrina dan Zico nyaman satu sama lain. keduanya sama-sama memiliki perasaan lebih namun mereka ragu untuk mengungkapkannya.
Rian papi Zafrina dan Zafa kakaknya berniat membuat kedua sahabat itu saling mengakui perasaannya, tapi suatu kejadian justru membuat Zafrina dan Zico dipaksa menikah**.
__ADS_1