
Setelah tiga hari sakit, kini keadaan Shaka sudah mulai membaik. Ia bisa kembali bermain bersama teman-temannya. Walau masih saja ada teman yang jahil padanya, yang kembali menyinggung soal ayahnya.
Di sebuah tanah lapang di tengah Desa....
"Reyhan, jangan ajak Shaka bermain! dia kan tidak punya ayah," ledek seorang teman Shaka yang bernama Dicky.
"Dicky! kamu tidak boleh seperti itu! " tegas Reyhan.
"Iya Dicky, kamu tidak boleh membuat Shaka sedih!" bela Ali.
"Tapi memang benar kan? Shaka tidak punya Ayah, hahaha" ulang Dicky terus mengolok Shaka.
Shaka hanya bisa terdiam dengan mata yang berkaca-kaca. Hatinya kembali nelangsa mendengar olok-olok yang dilontarkan Dicky terhadapnya. Shaka berlari sembari menangis tanpa menghiraukan teman-teman yang lain, yang terus memanggil dan mengajaknya bermain.
Shaka terus berlari sampai ia menemukan sebuah pohon besar yang rindang, lalu ia duduk di bawahnya. Bibir mungilnya bergetar diiringi tangisan pilu yang terdengar nyeri di telinga.
"Ayah! mengapa Ayah pergi lama sekali? cepat pulang Ayah, Shaka sangat rindu pada Ayah," racau Shaka dalam tangisnya.
Bocah kecil yang malang. Ia tidak mengerti sama sekali bahwa ayahnya telah pergi ke tempat yang jauh, entah di mana? meninggalkan dirinya, dan juga Ibu yang paling menyayanginya.
Shaka menumpahkan tangisnya di bawah pohon besar nan rindang itu sendirian. Sampai tersedu-sedu hingga bila ada yang mendengar suaranya, pastilah akan turut terbawa dalam kepiluan. Rindu serindu-rindunya, begitulah kira-kira perasaan yang dapat tergambar di hati Shaka, pada sang Ayah.
Tiba-tiba dari kejauhan samar-samar terdengar suara beberapa orang memanggil Shaka.
"Shaka... Shaka... di mana kamu?" suara panggilan itu terus terdengar berulang kali.
Namun, Shaka tidak menjawabnya. Air matanya semakin deras mengalir membasahi pipinya. Beberapa menit kemudian... suara yang memanggil dirinya semakin terdengar jelas di dekatnya.
"Shaka...," ucap Mariam lirih sembari menahan desakan air matanya.
Rupanya Ali dan Reyhan memberi tahu Mariam, bahwa Shaka berlari sangat jauh setelah mendapat olok-olok dari Dicky yang menyinggung soal ayahnya. Tanpa pikir panjang, Mariam ditemani dua bocah itu bergegas mengusul Shaka ke arah Shaka berlari sampai mereka berhasil menemukannya.
"Shaka... sayang, kemari nak," bujuk Mariam sembari merentangkan kedua tangannya.
__ADS_1
Dengan tangis yang masih membuat napasnya tersengal, Shaka berlari ke dalam pelukan Mariam. Bagai pungguk yang merindukan bulan, Shaka selalu memimpikan bisa bermain bersama ayahnya seperti anak-anak lainnya.
Sambil mengekor di belakang Mariam menuju jalan pulang, teman-teman Shaka mencoba menghibur Shaka yang sedang digendong oleh Mariam. Mereka berkata bahwa Shaka adalah orang yang paling beruntung, sebab ibunya sangat menyayangi dia.
Setidaknya penghiburan yang diberikan oleh temannya itu, mampu mengalihkan keluhan Shaka menjadi sebuah syukur yang tak terukur.
"Reyhan, Ali, terimakasih ya nak sudah mengajak Shaka bermain...," ucap Mariam yang kala itu telah sampai di rumahnya.
Bersamaan dengan itu, Denny tiba dengan sepeda motornya dan berhenti tepat di hadapan Shaka. Ia datang untuk menepati janjinya mengajak Shaka bermain bola. Raut wajah Shaka yang muram dan bekas tangis yang masih kentara, perlahan ceria mengetahui Denny yang menjemputnya untuk bermain.
Dua teman Shaka yang tadi mengantar Mariam untuk menyusulnya pun ikut serta bersama Denny dan Shaka. Denny membawa tiga bocah laki-laki itu dalam satu sepeda motor.
Di atas sepeda motor, Denny sengaja mengajak mereka bernyanyi sambil sesekali melontarkan kata-kata konyol yang membuat bocah-bocah itu tertawa renyah ceria.
***
Malam bersambut indahnya sinar rembulan, yang mengintip manja dari ranting-ranting pepohonan. Cahaya remang yang melingkar langit, menambah kerinduan dalam hati seorang hamba.
Ingin sekali rasanya ia bermanja dengan sang kekasih penghapus duka, pelipur lara. Dalam rindu yang bersemayam di hatinya, tak menyisakan walau sedikit saja ruang untuk sebuah rasa yang lain.
Mariam rindu bercerita sembari bergelayut manja di tangan Santana, entah mengapa? walau telah demikian dibuat luka oleh Santana, hati kecil Mariam masih berharap bisa bersama-sama membesarkan Shaka. Buah hati mereka yang selalu mendamba kehadiran Santana di sisinya.
"Bu...," suara Shaka memecah hening, membuyarkan angan-angan Mariam.
Mariam tersenyum pada Shaka, lalu menuntun tangan Shaka ke pangkuannya. Shaka menatap lekat wajah Ibu nya dan bertanya dengan suara khas seorang bocah yang sedang mengantuk.
"Apakah Ibu merindukan Ayah?" tuturnya melontarkan tanya.
Lagi-lagi Mariam hanya tersenyum pada Shaka. Shaka terus memberikan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Mariam berulang kali menarik napas dalam.
"Apa orang dewasa selalu jatuh cinta bu?" lanjut Shaka yang bahkan nalarnya belum sampai pada arti kata cinta itu sendiri.
"Shaka akan mengetahuinya, setelah Shaka dewasa nanti," jawab Mariam seraya merekahkan senyuman di bibirnya.
__ADS_1
"Tidak mau ah, Bu... Shaka tidak ingin menjadi dewasa!" tandas Shaka.
Mariam tersenyum kemudian berkta bahwa di dalam hidup ini, ada banyak hal yang datangnya tidak bisa ditolak dan perginya tidak dapat dicegah. Seperti halnya menjadi seorang yang dewasa.
Namun, Shaka tetaplah seorang bocah. Meski berualang kali dijelaskan, pemahamannya belum sampai pada tahap itu.
"Orang dewasa itu aneh Bu, dia jatuh cinta tapi tidak mau bilang," cetusnya lagi membuat Mariam tertawa.
"Memangnya Shaka tahu dari mana?" tanya Mariam dengan tawa yang tertahan.
"Dari yang Shaka lihat bu... paman Denny mencintai Ibu, tapi paman Denny tidak mau bilang. Apa paman Denny takut pada Ayah?" papar bocah kecil itu membuat Mariam terdiam seketika.
Mariam menghela napas panjang kemudian menasehati putra kesayangannya itu.
"Sayang... kita tidak pernah tahu dengan pasti isi hati seseorang, jadi Shaka tidak boleh bicara sembarangan seperti itu, ya!" tutur Mariam menasehati Shaka.
Tapi Shaka yang sudah mengantuk, rupanya sudah tak mendengar lagi apa yang dikatakan oleh Mariam. Mariam yang menyadari putranya telah tertidur itupun, hanya bisa menggelengkan kepala lalu membawa Shaka ke kamarnya.
Di bilik rumah yang berbeda...
Seorang laki-laki sedang dilanda cemas dan gundah gulana. Ingin mengutarakan rasa namun, ia masih bingung bagaimana caranya. Siapa lagi kalau bukan Denny, laki-laki yang kuat memendam rasa cintanya pada Mariam yang hingga kini tak berubah atau berkurang.
Denny juga merasa heran pada Santana, mengapa seorang Mariam yang cantik dan baik tanpa cela, malah ditinggalkan begitu saja olehnya.
Sorot mata tajam Mariam, senyuman yang manis, kesederhanaan yang membuatnya tampak ayu natural, dan karakternya yang penyayang. Sepertinya sudah cukup untuk membuat seorang yang memilikinya bersyukur.
Tapi tidak bagi Santana, ia justru tega menyiksa batin Mariam dan juga anaknya Shaka.
"Belum tidur nak?" tanya Ibu Denny mengejutkannya.
"Eh, Ibu... sepertinya mata Denny tidak bisa terpejam bu," jawabnya asal.
"Mata memang akan sulit terpejam... kalau pikirannya sedang mengingat seseorang," ledek Ibu sambil berlalu.
__ADS_1
"Ya, memang benar Bu... katakan saja semua yang Ibu ketahui," gumam Denny.
Bersambung....