
2 Hari berikutnya.
Saat di mana esok adalah hari pernikahan Santana, dan Davina. Santana tampak berbaring di atas tempat tidur sepinya. Menatap lagi langit-langit kamar yang hampa itu.
Malam itu, Santana merenungi perjalanan hidup yang sudah ia lewati. Mulai dari hal terberat saat ia memutuskan untuk melepaskan Mariam. Mejalani hidup yang penuh tekanan dan kepura-puraan bersama Asih. Sampai akhirnya memutuskan untuk bebas dan pergi menjemput cintanya yang baru.
Dalam lamunannya itu, Santana meresapi setiap rasa yang kembali melintasi pikirannya. Tersenyum, murung, menangis, tertawa dan marah. Semua itu ia luapkan dalam senyapnya lamunan dan sepinya ruangan.
Seperti menjerit dalam hati. Senyuman yang menghias di bibir. Sorot mata yang menunjukkan suka dan duka. Namun, gerak tubuhnya tiada. Santana hanya berbaring menatap lurus ke atas.
Puas mengemas seluruh perasaannya. Santana bangkit untuk duduk. Setiap orang punya caranya sendiri, dan cara itulah yang dilakukan Santana untuk menetralisir perasaannya. Agar siap menampung setiap rasa baru yang akan datang kepadanya.
"Bismillah .... denga menyebut nama-Mu. Aku akan melangkah meninggalkan masa lalu untuk menyongsong masa depanku. Aku rasa sudah cukup diri ini berlemah-lemah dalam keterpurukan dan belenggu beban yang itu-itu lagi."
Santana melangkah menuju kamar mandi. Entah mengapa, saat itu Santan merasa sangat kegerahan. Ia pun memutuskan mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
Air yang mengguyur badan Santana. Ia menikmatinyanya. Mulai membersihkan sekujur tubuhnya dengan seperangkat alat mandi yang tersedia. Hingga tubuhnya menjadi bersih, wangi dan segar.
Santana menyudahi ritual paling menyegarkan itu. Kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian. Lalu, meluruhkan tubuhnya di ranjang dengan perasaan hati yang bahagia dan tenang.
"Besok adalah hari pernikahan kita, Vin. Aku tidak sabar untuk melihatmu memakai kebaya pengantin dan mencium keningmu saat aku berhasil melewati akad nikah dan ijab kabul." Batin Santana.
__ADS_1
Mata Santana terasa semakin berat dan akhirnya ia tertidur. Berharap pagi akan segera datang. Santana berkelana bersama mimpi-mimpi indahnya.
***
Pagi menjelang. Meriah pesta mulai terdengar. Pernikahan Santana, dan Davina akan segera dimulai.
Tamu undangan telah hadir. Calon mempelai pengantin wanita telah siap dengan riasannya yang mempesona. Begitu juga dengan Santana, ia telah siap menunggu prosesi ijab kabul di meja yang sudah disediakan.
Para saksi, wali nikah, dan juga penghulu sudah bersiap. Prosesi paling mendebarkan itu pun dimulai. Sampai sebuah kata yang paling menentukan itu terdengar.
SAH!
Kini Santana resmi mempersunting Davina sebagai istrinya. Pengantin wanita dengan lesung pipi dan senyum manis itu diantarkan menuju Santana. Dengan gaun pengantin muslimah yang indah, Davina terlihat anggun dan mempesona.
Semua orang turut merasakan kebahagiaan. Termasuk Denny, dan Mariam, serta Shaka juga Ibu yang hadir di sana. Ucapan selamat pun berdatangan dari para tamu undangan.
Giliran keluarga Mariam yang meghampiri kedua mempelai. Memberikan kado dan menyampaikan doa-doa baiknya. Terlepas dari itu semua. Santana sudah sangat bahagia dengan kehadiran mereka di acara pernikahannya dengan Davina.
"Selamat menempuh hidup baru, Ayah," Shaka menghamburkan diri ke dalam pelukan Santana.
"Terima kasih, Sayang .... Ayah harap, Shaka juga bahagia."
__ADS_1
Semua orang tersenyum melihat adegan itu. Kini semuanya membaur menikmati hidangan yang tersedia. Tiba-tiba, suara gaduh terdengar ari arah luar. Seorang wanita yang tidak asing mengamuk membabi buta.
"Santana! Keluar kamu .... kamu tidak bisa melakukan ini padaku," ucap Wanita dari masa lalu Santana yang ternyata adalah Asih.
Asih tidak terima karena Santana menikah dengan orang lain. Kemarahannya selalu sama. Terlihat Dicky menangis sambil mengekor di belakang Asih.
Lagi-lagi, Asih membuat kekacauan. Untung saja prosesi akad nikah dan ijab kabul telah terlaksana sebelum kedatangannya. Kalau tidak, bukan tidak mungkin acara itu akan terhambat karena ulah Asih.
Lamanya tak pernah mengetahui kabar Asih. Membuat Santana tidak mengetahui perkembangan Asih. Santana selama ini hanya kasihan pada Dicky saja. Dan masalah itu dirasa telah selesai ketika Santana diantar Denny mendatangi Arifin, untuk menyerahkan segala tanggung jawab Dicky sepenuhnya pada Arifin.
Peristiwa memalukan ini nyaris kembali mencoreng nama baik Santana. Syukur ada Denny yang bersedia menjadi saksi bahwa Santana tidak bersalah. Davina, juga ayahnya pun merasa lega setelah tahu yang sebenarnya.
Padahal kala itu, Asih baru saja dinyatakan sembuh dari depresinya. Tapi, atas kejadian tak terduga yang ia lakukan itu. Membuatnya terpaksa dikembalikan ke rumah rehabilitasi yang menanganinya selama ini.
Bersambung ....
Akankah Asih sadar, atau tetap menutup mata atas kesalahannya? Ikuti terus kisah selanjutnya.
BACA JUGA KARYA AUTHOR YANG LAIN, YA!
Dengan judul :
__ADS_1