
Berpijak di lantai sepi, bersandar pada dinding jiwa yang rapuh. Jangankan untuk menopang, sekedar menerima sentuhan saja sepertinya Santana tidak mampu. Cintanya terlanjur terbawa bersama perginya Mariam dari hidupnya.
Santana beranjak dan mencoba menepis bayangan wajah Mariam yang selalu ada di pelupuk matanya. Ia mengenakan setelan rapi dengan celana jeans dan kemeja panjang. Berdandan layaknya seorang laki-laki yang hendak menemui belahan jiwanya.
"Mau kemana kamu, Mas?" tanya Asih penuh selidik. "Menjalankan misi yang sudah lama tertunda!" Santana bercermin sekali lagi untuk memastikan penampilannya. Asih penasaran dengan misi yang di maksud oleh Santana tapi, ia tidak berani bertanya lebih detil lagi.
Asih menekan dalam-dalam keinginannya untuk bertanya. Dengan tatapan heran Asih memandangi Santana yang terlihat tampan, tak sekusut biasanya. Ingin rasanya Asih memiliki Santana seutuhnya namun, gemuruh dalam jiwanya kembali mematahkan harapannya.
"Jangan memandangiku seperti itu, Asih. Aku tidak ingin kerepotan menolakmu kalau nantinya kamu benar-benar menginginkan aku," celetuk Santana tanpa menghiraukan bagaimana rasanya dibegitukan. Asih mendengus kesal mendengar kata-kata Santana yang selalu saja menganggapnya tidak punya perasaan.
Dengan sebuah tas ransel, Santana berpamitan untuk pergi pada Asih. "Asih, sebelum aku pergi, aku ingin bertanya padamu. Apakah Dicky itu benar anakmu?" tanya Santana membuat Asih mengernyitkan dahinya.
"Apa maksud kamu, Mas? Tentu saja Dicky adalah anak kandungku!" ketus Asih seraya memalingkan wajahnya. "Kalau begitu berilah dia perhatian lebih agar tidak selalu mencari perhatian dengan kenakalannya," tandas Santana. "Mana bisa, Mas, yang Dicky butuhkan adalah perhatian seorang Ayah " bantah Asih.
"Mariam melakukan hal yang tidak bisa kamu berikan pada Dicky saat aku tidak ada di samping mereka," lontar Santana membandingkan Asih dengan Mariam. Asih sudah hendak mengumpat saat itu namun, Santana memotongnya. "Terimalah kebenaran itu, Asih, dan ingatlah bahwa kamu menjadi bagian dari penyebab penderitaannya!" Santana menegaskan dengan penuh penekanan.
Asih menelan kembali kata-kata umpatan yang semula hendak ia lontarkan. Kata-kata Santana cukup membungkam dan membuat mulutnya terdiam. Lelah rasanya menjadi seorang Asih yang bagai tak punya harga diri di depan Santana.
"Aku akan pergi mungkin untuk beberapa hari atau lebih," Santana lalu berjalan keluar meninggalkan Asih. Dicky melihat Santana dan hanya diam dengan tatapan putus asa. "Dicky, aku akan pergi sebentar ... jadialah anak baik dan jangan lupa makan, ya!" Santana berpamitan seraya mengusap pucuk kepala Dicky.
Meski Dicky menyebalkan dan kerap membuatnya marah. Namun, Santana sebenarnya tak tega pada nasibnya. Untuk itu sedikit aksi akan dia lakukan untuk membantu Dicky.
Santana pun berlalu meninggalkan rumahnya tapi, ia menyempatkan diri untuk membeli 2 batang coklat dan beberapa kotak susu untuk ia berikan pada Shaka. Santana khawatir akan membuat Shaka menunggu-nunggu kedatangannya bila tidak berpamitan. Sembari tersenyum Santana berjalan menuju rumah Denny membawa apa yang sudah ia beli.
__ADS_1
Sampailah Santana di depan rumah Denny. Ia mengetuk pintu seraya mengucapkan salam. Terdengar sahutan dari dalam rumah dengan langkah kaki semakin dekat ke arah pintu.
Pintu pun terbuka dan yang membukanya adalah Mariam. Hati Santana berdebar senang meski harus menahan hasrat ingin memeluk Mariam. "Mariam, aku mau ...," ucap Santana terpotong oleh Mariam yang langsung memanggil Shaka.
"Shaka!" teriak Mariam memanggil. Terlihat benar bahwa Mariam sudah enggan berbicara dengan Santana dan lebih memilih memanggil langsung anaknya. "Kemarilah, Nak," perintah Mariam.
Shaka langsung berlari dan menghampiri Mariam. Senyum Shaka merekah melihat ternyata ada Santana di sana. "Ayah, apa kita mau pergi bermain lagi?" cetus Shaka polos ketika melihat penampilan Santana yang rapi dan terlihat tampan.
Santana berjongkok menyambut sebuah pelukan dari Shaka. "Tidak, Nak, Ayah akan pergi beberapa hari dan Ayah ingin memberikan ini untuk Shaka," tutur Santana sembari menunjukkan satu kantong berisi coklat dan susu pada Shaka.
Shaka terdiam tidak menghiraukan apa yang Santana bawa. Matanya menunjukkan kekecewaan mendengar Santana akan pergi lagi. Namun, Santana segera menyadari hal itu lalu membujuk Shaka.
"Jangan khawatir, Ayah tidak akan lama," jelas Santana. Barualah Shaka tersenyum dan mengambil hadiah yang dibawa Santana untuknya. "Baiklah, Ayah harus pergi sekarang Shaka, kembalilah ke dalam," ujar Santana yang disambut patuh oleh Shaka.
Santana baru menyadari bahwa beberapa detik yang lalu adalah saat di mana dirinya benar-benar kehilangan Mariam. Bukan saat dirinya memutuskan untuk melepaskan Mariam. Bukan pula saat Mariam memutuskan untuk menikah dengan Denny tapi, sikap Mariam barusan yang membuatnya merasa benar-benar telah ditinggalkan oleh Mariam.
Langkah kaki yang gamang mengiringi kepergian Santana menyusuri satu jalan untuk mencapai misinya. Demi mendapat sebuah keadilan dari apa yang menimpanya. Santana kembali mengumpulkan sisa-sisa semangatnya.
***
"Siapa yang datang, Sayang?" tanya Denny pada Mariam yang terlihat murung usai membukakan pintu untuk tamu itu. Mariam hanya diam tak menyahut pertanyaan Denny. Denny yang sebenarnya sudah mengetahui daru Shaka, bahwa yang datang adalah Santana pun memaklumi sikap istrinya itu.
Benar, Mariam tak membenci Santana tapi, rasa sakit sebab ulahnya pasti masih terasa. Denny menarik lengan Mariam dan menuntunnya untuk duduk bersamanya. "Minumlah teh lemon hangat ini, aku membuatkannya untukmu," ujar Denny.
__ADS_1
"Terima kasih, Mas," ucap Mariam. "Katakan itu lebih halus," rayu Denny. " Baiklah, terima kasih Sayang" ulang Mariam. Denny tersenyum dan menyodorkan pipinya untuk mendapat ciuman Mariam.
"Lain kali katakan yang lebih halus dari itu," goda Denny membuat Mariam tertawa. "Baiklah, Ayah sayang," kata Mariam lagi. Begitu 'kan terdengar lebih sempurna," ucap Denny sumringah.
Shaka berlari menghampiri mereka dan menawarkan coklat yang ia dapat dari Santana. "Ayah, Ibu ... rasakanlah coklat ini sangat enak," seloroh Shaka yang langsung menyuapkan coklat itu ke dalam mulut Mariam, dan juga Denny. Mariam yang merasa enggan mau tidak mau harus menelan dan merasakan manisnya coklat pemberian Santana di mulutnya.
Berbeda dengan Denny yang terlihat lebih santai dan menikmatinya. Mariam selalu canggung menerima apa saja yang Santana berikan kini. Terkadang ada kekhawatiran pada Denny yang mungkin saja menutupi rasa cemburunya demi menghargai perasaan Shaka.
Tak terasa waktu sudah berada di penghujung siang. Awan senja mulai menampakkan dirinya. Akankah takdir menjadikan perasaan Mariam tetap indah pada sebuah kehadiran maupun kepergian Santana? seperti senja yang tidak pernah mengeluhkan hadirnya yang sesaat dan harus tergantikan oleh kehadiran gelap dengan waktu yang sangat panjang.
Bersambung ....
Terima kasih sudah setia membaca karya author. Seperti biasa sembari menantikan update selanjutnya, yuk kita mampir di karya teman author yang gak kalah menarik... 👇👇👇
Judul : Ranjang Tuan Lumpuh
Author : Kay_21
Rate : 22++
Demi dendam, demi meluapkan segala amarah dan rasa sakitnya. Aishe, gadis yang tidak mengenal fashion, rela melakukan apapun demi balas dendamnya. Mengirim tunangan yang sudah membunuhnya merasakan neraka tingkat ke-7.
Novel dari karangan Kay_21 dengan judul Ranjang Tuan Lumpuh, akan menghadirkan kisah seru yang tidak dapat ditebak kelanjutannya.
__ADS_1