Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 6. Klinik


__ADS_3

Denny sampai di rumah Mariam, dan langsung memastikan keadaannya.


"Ada apa Mariam?" tanya Denny dengan wajah gelisah.


"Tidak ada apa-apa mas Denny... Shaka hanya demam," jawab Mariam dengan hati bertanya-tanya 'Siapa yang menyuruh Denny untuk datang ke rumahnya?'.


Denny menaruh telapak tangannya di kening Shaka, dan benar saja, panasnya sangat tinggi.


"Mariam ayo kita bawa Shaka ke dokter!" ajak Denny yang langsung bergegas menyalakan mesin sepeda motornya.


"Tapi mas...," kata Mariam terhenti. Sebenarnya Mariam ingin mengatakan bahwa dirinya tak memiliki cukup uang untuk membawa Shaka berobat.


"Cepat Mariam! tunggu apa lagi?" teriak Denny dari sepeda motornya.


Mariam segera menyusul Denny setelah menutup pintu rumahnya. Perasaan Mariam semakin campur aduk tak karuan. Antara bersyukur dan bingung.


Tak lama, merekapun sampai di sebuah klinik. Denny langsung mengambil Shaka dari gendongan Mariam.


"Tolong saya dok, demamnya sangat tinggi...," kata Denny yang langsung menerabas menemui seorang dokter yang berjaga di klinik itu.


"Pak, mohon untuk mengambil nomer antrian dahulu ya!" tegas seorang perawat yang bertugas.


"Mbak, saya mohon kali ini saja, biarkan anak ini di periksa dulu!" pinta Denny.


Seseorang yang merasa iba pada Denny karena terus memohon, akhirnya memberikan nomer antriannya pada Denny, agar ia bisa segera masuk ke ruang pemeriksaan.


"Terimakasih bu," ucap Denny.


"Tidak apa pak, saya tidak darurat!" tegas orang itu.


Mariam hanya mengekor di belakang Denny. Melihat Denny yang begitu panik dan khawatir pada keadaan Shaka, Mariam sempat berangan-angan. "Seandainya saja itu kamu mas, Santana" batinnya.


"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Denny yang menanti hasil pemeriksaan dari dokter.


"Tidak apa-apa pak, hanya demam biasa! nanti saya akan berikan obat penurun demam dan vitamin," papar sang dokter.


"Alhamdulillah," ucap Denny merasa lega.


"Maaf, boleh saya tahu anaknya umur berapa pak?" tanya sang dokter yang akan membuat resep obat.

__ADS_1


"6 tahun dok!" jawab Denny singkat.


Mariam yang kala itu baru ingin membuka mulutnya untuk membantu menjawab pertanyaan dokter, merasa heran pada Denny yang seolah mengetahui semua tentang Shaka.


Bahkan di klinik itu Denny lebih banyak berperan untuk Shaka ketimbang dirinya. Terbesit rasa sedih di hati Mariam, karena yang lebih perhatian pada anaknya justru Denny, bukan ayah kandungnya.


Pemeriksaan pun selesai di lakukan, obat yang dokter resepkan juga telah mereka ambil dari bagian farmasi. Ketika itu Shaka hanya terdiam lemas tak ceria seperti biasanya.


Denny menyerahkan kembali Shaka pada mariam untuk digendong. Karena Denny harus mengemudikan sepeda motornya.


Sampai di tengah perjalanan menuju pulang, Denny menghengikan laju sepeda motornya.


"Kenapa Mas?" tanya Mariam merasa bingung.


"Tunggulah di sini sebentar Mariam! aku akan segera kembali...," perintah Denny.


Beberapa saat kemudian Denny kembali membawa dua porsi bubur ayam dan beberapa buah pir. Setelah itu, Denny mengantarkan Mariam dan Shaka sampai ke rumah.


Setibanya di rumah Shaka langsung Mariam baringkan di tempat tidur. Lalu Mariam mengucapkan terimakasih pada Denny, dengan wajah bingung. Ingin bertanya namun, Mariam merasa canggung.


Denny yang membaca gelagat Mariam dari ekspresi wajahnya, kemudian mempersilakan Mariam untuk mengutarakan kebingungannya.


"Katakan Mariam, apa yang ingin kau ucapkan?" tutur Denny membuat Mariam terheran.


"Apa itu begitu penting? tentu saja aku tahu!" tandas Denny tak menghiraukan rasa penasaran Mariam.


Denny yang melihat Mariam tiba-tiba diam, lalu mengalihkan topik pembicaraannya. "Suapi dulu Shaka, aku membelikan kalian bubur tadi, setelah itu jangan lupa minumkan obat dan vitaminnya!" titah Denny.


Mariam pun kembali ke kamar untuk menyuapi Shaka bubur, dan memberinya obat. Meski hatinya masih terus bertanya-tanya. Namun, Mariam setuju pada Denny. 'Apa pentingnya rasa penasarannya itu ? bukankah kesembuhan Shaka lebih penting?'.


Dari luar kamar... Denny mencuri-curi pandang pada Mariam yang tengah sibuk membujuk Shaka yang ternyata masih tidak mau makan.


"Sayang, makanlah sedikit saja! jangan buat ibu sedih," tukas Mariam yang hampir menangis.


Entah mendapat dorongan dari mana, tapi saat itu Denny langsung masuk dan mengambil mangkuk bubur dari tangan Mariam.


"Berikan pada ku. Kamu makanlah saja dulu, biar aku yang menyuapi Shaka!" perintah Denny.


Mariam hanya bisa menurut karena ia sendiri merasa bingung, harus bagaimana lagi membujuk putranya itu? agar mau makan.

__ADS_1


"Baiklah anak manis, sekarang Shaka makan dulu. Biar cepat sembuh dan bisa bermain bola dengan paman," rayu Denny.


"Benarkah paman? paman tidak berbohong?" berondong bocah kecil itu sembari duduk.


"Tentu saja benar, apa paman terlihat berbohong?" goda Denny yang dijawab dengan senyuman oleh Shaka.


Mariam yang menguping pembicaraan merekapun semakin merasa heran. Dengan mudah Denny bisa meluluhkan hati Shaka, sementara dirinya harus bersusah payah. Namun, Mariam bersyukur karena akhirnya Shaka mau makan dan minum obat.


"Paman... kalau Shaka sudah besar nanti, Shaka harus seperti siapa? apakah harus seperti ayah atau paman Denny?" Shaka memberondong Denny dengan pertanyaan yang tak bisa Denny jawab.


"Shaka... makanlah saja dulu dan jangan banyak bicara!" tegas Mariam yang mendengar pertanyaan Shaka pada Denny.


"Biarkan saja kami bicara Mariam, ini urusan laki-laki," bela Denny.


"Mengapa Shaka bertanya seperti itu?" Denny tersenyum sembari membelai kepala bocah kecil itu.


"Karena kata Ibu Ayah orang baik, dan paman Denny juga baik pada Shaka dan Ibu," tutur Shaka.


Mariam yang mendengar jawaban Shaka, membuatnya tersedak karena saat itu dirinya sedang makan bubur yang Denny belikan.


"Lihat jagoan! perkataanmu itu berhasil membuat Ibumu tersedak," ledek Denny.


Mariam semakin merasa kesal dan salah tingkah, lalu ia meninggalkan Shaka dan Denny di kamarnya.


"Lihat apa yang sudah dilakukan dua laki-laki itu padamu, Mariam?" gerutu Mariam.


Sementara Denny dan Shaka masih asik mengobrol.


"Shaka harus menjadi orang yang lebih baik dari Ayah, dan paman Denny...," ujar Denny.


Bocah kecil itu hanya mengangguk seolah mengerti apa yang Denny katakan. Sungguh kehadiran dan perhatian yang Denny berikan, membuat Shaka melupakan sejenak kerinduannya pada sang Ayah.


Denny benar-benar berhasil melukiskan bahagia di wajah Shaka kala itu... dan juga mengukir senyum simpul di bibir Mariam. Shaka akhirnya tertidur karena efek obat penurun demam yang ia minum, tapi kali ini dengan perasaan hati yang sangat bahagia.


"Mariam aku mau pulang dulu, aku harus mandi karena sedari pagi aku memang belum mandi," pamit Denny sembari menahan tawanya karena melihat wajah Mariam yang memerah.


"Terimakasih banyak Mas, lagi-lagi kami berhutang budi pada Mas!" ucap Mariam.


"Kalau begitu kalian harus membayarnya!" tukas Denny.

__ADS_1


"Dengan cinta saja Mariam," lanjut Denny dalam hati.


Bersambung....


__ADS_2