
Di bilik yang sepi bak tak berpenghuni. Santana terhanyut ke dalam lamunan, membawa pikirannya dengan mata terpejam. Duda beranak satu itu sedang tidak ada mood untuk melakukan apapun.
"Maafkan aku, Mariam! Atas keterbatasanku dalam berjuang. Aku terlalu lemah hingga apa yang seharusnya aku genggam kini terlepas. Menjadi takdir orang lain yang lebih pantas."
Santana bicara sendiri sembari berselonjor di atas dipan. Meratapi sisa-sisa penyesalan yang masih memenuhi pikirannya. Seandainya ia lebih gigih dalam berjuang, mungkin tidak perlu ada kehampaan yang entah sampai kapan akan mengisi hari-harinya.
"Ahh, si*l" maki Santana pada pikirannya sendiri. Ia meresa kesal mengapa di dalam pikirannya hanya ada Mariam, Mariam dan Mariam. Tidak adakah sesuatu yang lain yang menjadi bahan untuk otaknya berpikir.
Santana mendengus seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Tiba-tiba ia terbesit dalam pikirannya untuk menemui Shaka. Santana pun menghempaskn rasa malasnya kemudian beranjak untuk mempersiapkan diri.
Berdiri di depan cermin sambil menatap lekat bayangan wajahnya sendiri. Terlihat kumis yang mulai menebal dan membuatnya tampak lebih tua sebab ia belum sempat merapikannya. Ia lalu mencukur kumisnya menjadi lebih tipis dan rapi.
Saat kegiatan mencukur kumis itu berlangsung, entah mengapa bayangan wajah Mariam semakin intens menari-nari di dalam ingatannya. Hingga pisau cukur itu tanpa sadar terpeleset menggores bagian atas bibirnya.
__ADS_1
Santana memekik kesakitan, rasa perih menjalar di bibirnya bersama darah segar yang turut mengalir dari luka itu. "Lihatlah, Mariam! Apa yang sudah dilakukan olehmu pada bibirku," gerundal Santana. "Seperih inikah mencintai cinta yang kini menjadi cinta orang lain?" Santana terus bicara berteman bayangan wajahnya sendiri di pantulan cermin.
Lalu, ia membersihkan luka goresan itu dengan selembar tisu dan disapukannya ke area luka hingga warna merah dari darahnya berpindah pada tisu tersebut. "Apa aku harus menduda selamanya karena mencintai Mariam yang sudah tidak mungkin lagi bersamaku?" imbuhnya sembri terus menyecap sisa darah dari lukanya dengan tisu.
Santana dilema, apakah ia tetap akan pergi menemui Shaka atau tidak? Rasanya dengan keadaan bibirnya yang terluka seperti itu ia jadi enggan bertemu siap pun. Setelah menimbang dan memutuskan, Santana memilih menunda rencananya untuk menemui Shaka lain hari saja.
Ia pun kembali menumpuk bantal di tempat tidurnya, lalu menjadikannya sandaran untuk menopang punggung dan kepalanya. "Aku baru paham sekarang, ternyata menanggung dosa orang lain adalah penjajahan bagi diri sendiri. Cintaku yang begitu besar pada Mariam membuat aku kehilangan dirinya."
Lega memang, tentu saja ... sebab kini dirinya sudah terlepas dari segudang rasa yang menindas. Walau semuanya itu tak bisa mengembalikan apa yang sudah terlepas. Santana harus rela menjadi pengagum rindu dan penikmat cinta yang tak mampu ia jabarkan pada sesosok raga yang kalbunya bukan lagi miliknya.
Kembali terpukau oleh khayalan tentangnya.Tanpa bisa mewujudkan hasrat hati untuk sekedar memeluknya penuh mesra. Layaknya sebuah payung yang melindungi dari derasnya hujan. Ia harus rela terlupakan saat terang mulai datang.
Tok tok tok!
__ADS_1
Suara ketukan pintu nyaring terdengar, mengumpulkan lamunan yang sempat buyar. Santana bergegas untuk melihat siapa yang datang. Melangkah dengan yakin untuk memastikan.
"Mas, bolehkah aku masuk?" tanya seorang wanita. Santana mengangguk memberikan izinnya. "Katakan ada apa?" ucap santana to the point.
Wanita itu lalu mengeluarkan selembar kertas sebagai catatan sebuah laporan.
Bersambung....
Kalau sudah ada lampu untuk apa cari lilin yang rusak
Kalau sudah baca karyaku jangan lupa tinggalin jejak.
Lope lope sejagad buat kalian 😘😘😘😘😘😘😘
__ADS_1