Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 38. Dicky Lapar, Bu.


__ADS_3

Seminggu sejak hari di mana semua kebenaran itu di ketahui. Santana benar-benar melepaskan ikatannya dengan Asih. Ia kini memilih pergi dari rumahnya sendiri.


Santana merelakan rumahnya untuk Asih, karena merasa kasihan pada nasib Dicky. Lalu bagaimana dengan Shaka? Bukankah seharusnya rumah itu jadi hak Shaka? Tentu Santana sudah memikirkan hal itu jauh sebelum orang lain memikirkannya.


Santana diam-diam sudah membelikan rumah baru untuk Shaka. Namun, selagi menunggu Shaka dewasa, Santana menempati rumah itu dahulu. Untuk saat ini biarlah Shaka tinggal bersama Mariam, dan juga Denny.


Lambat laun Santana mulai menata kembali hidupnya yang sebelumnya kusut dan berantakan. Meski harus menerima sakitnya disiksa sepi. Meski harus melewati setiap detiknya dengan belajar ikhlas menerima takdir hidup yang menimpanya.


Dipandanginya lagi foto Mariam, dan Shaka yang masih terselip setia di dalam dompetnya. Cukuplah kiranya hal itu untuk mengurangi kerinduan yang takkan pernah habis pada dua orang yang sangat dicintainya. "Tidak mengapa, kesedihanku ini tiada artinya selama melihat kalian hidup dalam kebahagiaan," Cup! Santana mengecup selembar potret yang menampilkan wajah Mariam, dan Shaka tersebut.


Di setiap dinding rumah barunya yang masih polos, Santana menempelkan benda-benda kenangannya besama Mariam, dan juga anak semata wayangnya, Shaka. Dengan paku-paku yang sudah tertempel, ia mengaitkan sebuah jam dinding yang dibelinya bersama Mariam, dulu.


Sebuah bingkai foto penuh sejarah, yang ternyata juga masih tersimpan rapi dan selalu dibawanya kemana pun turut bertengger pada dinding itu. Foto pernikahannya dengan Mariam yang membuat Santana kembali pada masa-masa indah setiap kali memandanginya. Setelah sibuk dengan semua itu, rasa lelah menghampiri Santana dan ia pun tertidur di atas ranjang yang sepi.


***

__ADS_1


Di bilik berbeda, di rumah Santana yang kini ditempati Asih. Wanita itu terus mengomel dan meracau tidak jelas. Dicky menjadi sangat tidak terurus oleh Asih karena ia selalu sibuk dengan hidup dan dunianya sendiri.


Sementara Arifin belum bisa membawa serta Dicky untuk tinggal bersamanya. Di samping ia perlu waktu untuk menjelaskan pada istri sahnya, keadaannya juga belum memungkinkan untuk bisa membawa Dicky. Dengan masa pemulihan yang masih dijalani, Arifin hanya meminta Dicky intuk menunggunya datang menjemput Dicky di sana.


"Ibu, Dicky lapar, Bu," rengek Dicky yang kala itu merasakan lapar di perutnya karena Asih belum memberinya makan. Alih-alih menyiapkan makanan dan memenuhi apa yang Dicky butuhkan, Asih malah tertawa tidak jelas dan menunjuk-nunjuk Dicky. Dicky menangis sembari mengguncang-guncangkan lengan Asih.


"Ibu ... Dicky sangat lapar, Bu," ulang Dicky sembari menangis. Namun, wanita itu lagi-lagi hanya tertawa dan terkadang menangis tidak jelas. Lalu, Dicky berlari meninggalkan ibunya yang entah kenapa sikapnya menjadi aneh.


Bocah itu berlari sambil menangis kebingungan. Dengan perut yang terus berbunyi keroncongan ia mengusap-usapkan tangannya beharap rasa laparnya hilang. Namun, usahanya itu sia-sia saja karena rasa lapar hanya bisa hilang apabila sudah mendapat asupan makanan.


"Ayah Santana, Ayah di mana? Dicky lapar" Bocah itu terduduk lemas di bawah pohon yang dulu sempat menjadi tempat pelarian Shaka seraya menyebut-nyebut nama Santana. Suara rintihan seorang anak yang sangat menyayat hati itu terdengar oleh Shaka, yang kala itu sedang bermain layang-layang bersama Denny.


"Ayo Ayah, kita lihat siapa yang sedang menangis," ajak Shaka dengan kepekaannya. Denny mengangguk dan langsung menggulung benang yang terikat pada layang-layang yang sudah terlanjur diterbangkan olehnya, dan juga Shaka. Mereka kemudian berjalan ke arah sumber suara.


Dari jarak sejauh mata memandang, Shaka sudah bisa melihat Dicky yang sedang menangis sembari duduk bersandar di bawah pohon memegangi perutnya. Tanpa pikir panjang ia berlari menghampiri Dicky. Tangisan Dicky belum berhenti hingga terdengar sedu sedan dari isakannya.

__ADS_1


"Bangunlah, Dicky!" Shaka membantu Dicky untuk bangkit, mengusap bagian celana Dicky yang kotor tekena debu. Dengan telaten Shaka membujuk Dicky agar tidak menangis lagi. Membuat hati Denny terenyuh menyaksikan pemandangan itu.


Denny berjongkok kemudian bertanya dengan pelan "Nak, apa yang terjadi?" kata Denny sembari mengusap pucuk kepala Dicky. Bocah itu tidak menjawab dan hanya terus mengusap-usapkan tangan mungil pada perutnya. Shaka dan Denny saling berpandangan dan bertemu tatap.


"Ayah, Shaka ingin makan ayam bakar," ucap Shaka yang sebenarnya tidak sedang lapar. Namun, Shaka cukup mengerti bahasa tubuh Dicky yang menunjukkan bahwa ia sedang lapar. Agar tak menyinggung perasaan Dicky, Shaka menggunakan dirinya untuk meminta makan pada Denny.


Tanpa penolakan, Denny langsung membawa serta Shaka, dan juga Dicky ke warung ayam bakar langganannya. Dengan sepeda motor yang tadi ia parkirkan kala dirinya sedang bermain layang-layang bersama Shaka. Tangis Dicky perlahan mulai mereda.


10 menit kemudian, mereka sampai di warung ayam bakar yang menjadi kegemaran Shaka. Langsung saja Denny memesan 2 porsi ayam bakar dan nasi putih untuk kedua bocah itu. Sementara dirinya tidak memesan karena masih merasa kenyang.


Setelah pesanan itu datang, Dicky langsung memakannya dengan lahap karena sangat merasa lapar. Sampai-sampai ia tersedak karena makan terlalu cepat. "Minumlah," titah Shaka sembari menyodorkan segelas air putih pada Dicky, lalu Dicky meminumnya.


Entah mengapa Denny sangat kagum pada bocah yang kini memanggilnya 'Ayah' itu. Bagaimana mungkin anak seusianya bisa sangat peka dan berperilaku sedawa itu. Pasti semua ini berkat didikan ibunya yang luar biasa.


Sekarang ia semakin mengerti mengapa Mariam sangat pantas diperjuangkan. Denny tersenyum mengingat wajah istrinya lalu merasa bersyukur karena kini ia telah miliknya. Wajah Denny mendadak tersipu membayangkan Mariam sedang menatap dirinya.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak, ya Dear...😘 Dukungan kalian sangat bemakna bagi author. Much luv for u allπŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’”


__ADS_2