Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 70 Secangkir Teh dan Hangatnya Canda Tawa


__ADS_3

Shaka langsung berlari sembari memanggil-manggil nama Umar, dan Lita. "Pamaaaan ... Bibi," ucap Shaka berteriak.


"Hey, Jagoan Paman. Lama sekali kita tidak bertemu, ya!" Umar menyambut Shaka dengan pelukan dan gendongan.


"Mari kita lihat sedang apa bibimu," ajak Umar menuntun tangan Shaka menuju dapur.


"Baiklah, kehadiranku tidak diharapkan. Sampai dia lupa untuk mempersilakan aku masuk," gerutu Denny seraya tersenyum tidak simetris.


"Hai, Sayang ... coba lihat siapa yang datang!" kata Umar pada Lita, yang sedang sibuk memasak di dapur.


Lita menoleh lalu "Shaka, tampannya Bibi. Lama sekali tidak melihatmu. Bibi rindu sangat rindu padamu." Ucap Lita.


"Shaka juga sangat rindu pada Paman, dan Bibi."


Kemudian, Umar mengajak Shaka, kembali ke ruang tamu. Sementara itu, Lita melanjutkan memasaknya. Tanpa dipersilakan, Denny sudah duduk di sofa ruang tamu rumah Umar.


"Bagus sekali kelakuanmu itu, Umar. Kamu bahkan tidak menyalami Kakak Sepupumu ini," Denny berpura-pura kesal.


"Ehh, ada orang rupanya. Maafkan aku, Mas. Tapi, aku benar-benar tidak melihatmu tadi." Jawab Umar.


"Dasar si*alan!" Denny melempar bantal sofa kepada Umar. Kejar-kejaran antara adik dan kakak sepupu itu pun tidak bisa terhindarkan.


Shaka tergelitik geli melihat ulah Denny, dan Umar. Tawanya terdengar sangat lepas renyah ceria. Sungguh hal sederhana itu, ternyata mampu membuat Shaka sangat bahagia.


Umar, dan Denny akhirnya menyudahi kejar-kejarannya. Setelah napas keduanya ngos-ngosan dan terlihat mulai keringatan.


"Shutttt! Shaka kemari," Lita menaruh jari telunjuk di bibirnya memberi isyarat agar Shaka diam.


"Ada apa, Bibi?" tanya Shaka penasaran.


"Apa Shaka tidak risih melihat dua pria dewasa itu bersikap seperti anak kecil?" tanya Lita sembari terus menuntun Shaka menuju meja makan.

__ADS_1


"Tidak, Bi. Ayah, dan Paman Umar sangat lucu." Jawab Shaka di luar dugaan.


"Ahh, kamu ini. Sama saja dengan mereka." Lita tak mendapat dukungan.


Semua makanan sudah tertata rapi di meja makan. Lengkap bersama minuman segar dan juga buah-buahan. Pandangan Shaka tertuju pada sesuatu di atas meja itu. Sesuatu, yang membuatnya bergidik ngeri.


"Shaka, ada apa? Apa Shaka tidak menyukai makanan yang Bibi masak?" ucap Lita yang memperhatikan ekspresi wajah Shaka.


"Bukan itu, Bibi. Apel dan pisau itu mengingatkan Shaka pada Dicky ...."


"Baiklah, Sayang ... kalau begitu jangan dilihat." Lita langsung menyadari dan mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu. Lita langsung menyingkirkan buah apel dan pisau dari sana kemudian menggantinya dengan buah jeruk.


"Apa sekarang perasaan Shaka lebih baik?" Lita mengusap pucuk kepala Shaka.


Shaka mengangguk. Lita memanggil Umar, dan juga Denny untuk makan bersama. Denny, dan juga Shaka sebenarnya sudah sarapan di rumah sebelum berangkat tadi. Tapi, karena masakan Lita begitu menggugah selera mereka pun turut serta makan lagi.


Mereka menghabiskan waktu bersama. Hingga siang hari. Sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang dan kembali ke rumah.


Di rumah Davina!


Terlihat seorang pria tua, yang adalah ayah Davina. Sedang mengemasi barang-barangnya. Sepertinya ia akan pergi meninggalkan rumah Davina.


"Ayah, mau kemana? Mengapa Ayah mengemasi barang-barang Ayah?" tanya Santana. Kala itu, Santana bermaksud memanggil Ayah Mertuanya itu untuk minum teh bersamanya juga Davina.


Davina mendengar samar-samar suara ayah dan suaminya. Segera ia bergegas membawa teh di nampan yang sudah dibuatnya. Ia menaruhnya di meja lalu berlari ke arah Ayah dan Santana berada.


Langkahnya terhenti. Davina terdiam, berdiri, tidak bergerak. Hanya menatap nanar ke arah laki-laki tua itu.


"Mau kemana, Ayah? Vina mengira Ayah tidak akan berpikir untuk pergi meninggakan Vina lagi," Davina mulai berkaca-kaca.


"Nak, maafkan Ayah. Bukan maksud ayah untuk meninggalkanmu. Tapi, bukankah sekarang sudah ada suamimu, yang akan menemani kamu. Ayah khawatir kalian akan terganggu."

__ADS_1


"Jangan bicara seperti itu, Ayah. Kami mohon! Tinggallah bersama kami. Lagi pula, Vina baru saja merasa bahagia atas kehadiran Ayah kembali," pungkas Santana.


"Jangan pergi lagi, Ayah!" Davina memohon sambil memeluk ayahnya.


"Baiklah, Nak. Jika kalian memang tidak keberatan dan menginginkan Ayah, untuk tetap di sini. Maka, Ayah akan tetap di sini."


"Tentu saja, Ayah. Ayah 'kan Ayahku, mana mungkin aku keberatan." Tandas Davina.


Akhirnya, tidak jadi ada drama tangis di rumah Davina. Semuanya berganti dengan kehangatan dan canda tawa. Ditemani secangkir teh dan orang-orang yang teramat dicintai. Davina, juga Santana merasa sangat bahagia.


Bersambung ....


Pantengin terus kisah selanjutnya ya, kesayangan othor. Jangan lupa untuk mmpir juga ke karya temen othor yang pastinya keren dan bikin penasaran. Dengan judul dan blurb di bawah ini:


Seorang gadis miskin nan bodoh yang terjebak untuk menyelesaikan misi dalam sebuah game. Rasa frustasi yang memuncak membuat Mila nekat memakai uang hasil kerja kerasnya kemarin untuk membeli kuota. Bermodalkan ponsel lawas dan beberapa giga kuota, Karmila berhasil mendownload sebuah game yang berjudul 'My Kepet pet'. Game ini adalah sebuah game pertarungan hewan dan permainan misi dengan iming-iming berhadiah uang.


"Keren nih game, bisa dapet duit beneran nggak ya? Coba aja lah, aku lagi frustasi."


Ponsel Mila telah menyala, menampilkan gambar-gambar dengan warna dan suara yang menarik. Mila sangat asyik bermain game tersebut, beberapa saat kemudian notifikasi gagal terdengar keras.


Tet Tot !!!


What?! Aku kalah? Bahkan game pun nggak rela aku menang?" Mila melongo melihat kegagalannya.


"Aaaa ... inj sungguh tidak adil!!!" Teriak Mila.


Bagaimakah cara Karmila menyelesaikan semua misinya demi mendapatkan hadiah uang tunai? Siapakah pemilik game tersebut?



Selamat membaca! Jangan lupa tinggalkan jejak, ya!❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2