
Saat itu, dunia Dicky seolah runtuh. Keping-keping rindu dan harapannya hancur. Jiwanya terguncang menerima kenyataan bahwa wanita yang memiliki telapak kaki surga baginya kini telah pergi untuk selama-lamanya. "Ibu, kumohon bangunlah, Bu. Dicky tidak akan membuat ibu kesal lagi, Bu," raung bocah itu pilu.
"Sayang, jangan biarkan Ibumu sedih melihatmu seperti ini," tutur Santana seraya menggendong bocah malang itu.
"Ibu tidak mau bangun, Yah," ucap anak itu tersesu-sedu.
"Ibu sudah sembuh, Sayang. Sekarang ia tidak akan sakit lagi. Apa Dicky tidak ingin Ibu bahagia?" hibur Santana.
"Iya, Ayah, Dicky ingin Ibu bahagia dan tidak sakit lagi," jawab anak itu masih dengan tangisan rapuhnya.
"Kalau begitu, Dicky harus membiarkan Ibu pergi dengan tenang, hmm."
Dicky memeluk Santana erat. Saat itu adalah saat paling berkabung bagi Dicky. Gelapnya langit malam tak dapat menandingi gelapnya pandangan Dicky sebab perginya pelita yang selalu menyinari hidupnya. Meski dengan cahaya yang redup, setidaknya ia tetap menyala. Akan tetapi, kini cahaya itu padam dan tak lagi membersamainya.
Keesokan harinya. Hari di mana jasad Asih dikebumikan. Shaka, beserta Denny, dan Mariam turut hadir di sana. Kabar meninggalnya Asih begitu cepat meluas bagai angin yang menyibak dedaunan. Hingga nyaris semua orang yang mengenal Asih mengetahui kabar duka ini.
"Dicky!"
"Shaka! Ibuku sudah tidur dengan tenang untuk selamanya, Shaka. Kata Ayah Santana, Ibu tidak akan sakit lagi sekarang," ucap bocah itu, membuat hati yang mendengarnya terasa ngilu.
"Tentu saja, Dicky. Ibu Asih sudah dipeluk bumi sekarang. Pasti ia sangat bahagia di sana," jawab Shaka sembari menyeka sisa air mata yang menempel di pipi Dicky. Dua bocah itu saling bergandengan tangan dengan erat. Mengantarkan Asih ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Di atas pusara yang masih basah itu. Lantunan doa-doa melangit untuk almarhumah Asih. Air mawar dan taburan bunga bertebaran di atasnya. Menghampar luas dan indah. Seindah seduhan susu terakhir yang ia berikan untuk Dicky.
Sejak saat itu, Dicky benar-benar dirawat dan diasuh oleh keluarga Davina, dan Santana. Ia disekolahkan, di sekolah yang sama dengan Shaka. Kasih sayang yang diberikan oleh Santana, dan juga Davina membuat ia tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
__ADS_1
Perlahan Santana, sudah bisa bersikap adil pada masa lalu dan juga masa depannya. Ia kini sudah dapat membedakan, di mana tanggung jawab, dan di mana cintanya harus diletakkan. Hingga wanita yang bersamanya kini tidak lagi tersiksa perasaannya.
"Apa yang sedang kamu lakukan, Sayang?" ucap Santana seraya melabuhkan bibirnya di bibir Davina.
Davina kini menang atas kesabarannya membersamai Santana berproses meninggalkan masa lalunya. Namun, hebatnya ia tetap memenuhi dan membawa serta tangung jawabnya.
***
Hari itu, Raya menghadiri sidang perceraiannya dengan Arifin. Diketahui, beberapa bulan setelah Asih meninggal, Raya menggugat cerai Arifin. Ia sudah tidak sanggup lagi melanjutkan hidup dengan laki-laki yang sudah berulang kali menjerumuskannya ke lubang kesengsaraan fisik dan juga batin.
Saat itu, berpisah menjadi pilihan terbaik yang bisa diambil. Meski Arifin sempat menolak untuk melepaskan Raya namun, dengan putusan dan segala pertimbangan mengenai baik dan buruk, memanglah lebih baik ia membebaskan Raya untuk menjemput bahagia meski bukan dengannya. Ia pun ikhlas berpisah dengan Raya, wanita yang sudah banyak menderita karena dirinya.
5 Bulan kemudian. Hanif melamar Raya, untuk menjadi istrinya. Raya menghargai usaha dan penantian panjang Hanif selama ini. Raya pun menerima pinangan Hanif dan mereka menikah 2 minggu kemudian. Hanif sangat bersyukur karena disatukan kembali dengan cintanya.
Di rumah Mariam, dan Denny. Seorang bayi mungil yang sudah lahir sejak 2 bulan yang lalu. Terlihat begitu lucu dan menggemaskan. Shaka sangat menyayanginya, hingga terkadang bersikap posesif terhadap adik perempuan yang diberi nama Aisha Ayudia Inara itu.
Ibu Denny, dan juga Mariam hanya bisa saling menatap, kemudian tertawa melihat pemandangan lucu di hadapannya itu. Kebahagiaan menyelimuti seluruh permukaan hidup mereka. Hingga semua kenangan pahit maupun menyakitkan, terusir dengan sempurna.
"Sayang, terima kasih sudah menjadi istri dan ibu dari anak-anakku. Lebih dari itu, terima kasih telah menjadi menantu yang sampai hari ini, tidak pernah membuat Ibu mengeluh tentangmu. Terima kasih, karena hadirmu mendatangkan banyak rasa syukur atas semua nikmat-Nya.
"Terima kasih juga, Mas. Karena telah menjadi Ayah dari anak-anakku. Ayah untuk Shakaku, yang dulu malang menjadi sangat beruntung. Terima kasih, sudah menerimaku di rumahmu, saat aku terusir dari rumahku sendiri. Aku tidak perlu alasan apa pun lagi untuk bahagia sekarang. Karena, kalian adalah alasanku untuk selalu merasa bahagia.
"Ibu, adik ingin minum susu," teriak Shaka berlari dari kamar bayi Aisha, ke kamar Mariam, dan juga Denny.
"Baiklah, Ayah, tolong bersabarlah sebentar! Gadis kecilmu butuh asi," Mariam tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Baru saja akan dimulai, malah gagal lagi," gerundal Denny yang tengah bersiap untuk sesuatu, setelah sekian lama ia menahannya. Karena, Mariam melahirkan gadis kecilnya itu. Denny menepuk jidadnya frustasi.
3 bulan kemudian. Kabar bahagia juga datang dari Umar, dan Lita. Mereka tengah berbunga-bunga atas kehamilan Lita. Hal yang sudah lama dinantikan oleh pasangan itu.
Sementara, Jeky masih tetap setia dengan kesendiriannya. Ia terlalu sibuk mengurus rumah makan yang sudah melebarkan sayapnya di beberapa tempat. Meski Denny sering meledeknya agar segera menikah namun, Jeky tetap cuek bebek dan tidak menggubrisnya.
"Sudahlah, Den, tidak usah mengolokku. Aku bisa saja menikah sekarang, tapi rumah makan kita tidak akan terurus karena aku butuh waktu yang panjang untuk bulan madu," ujar Jeky mematahkan ledekan Denny.
"Baiklah .... baiklah, aku tidak akan mengolokmu lagi. Aku hanya ingin memberitahumu, bahwa tidur ditemani seorang istri itu sangat menyenangkan. Lagi pula, itu merupakan ibadah juga, Jek!" tandas Denny.
"Apa kamu lupa caranya diam?" ujar Jeky sembari mengepalkan tangannya ke arah Denny.
"Hahaha! Oke Jek, aku harap kamu tidak akan menyesal jika sudah tahu rasanya nanti," lanjut Denny masih dengan nada olokkan.
"Awas kamu, ya!" Jeky berlari mengejar Denny yang sudah lebih dulu berlari.
Kejar-kejaran seperti anak kecil pun tak bisa dihindari lagi. Sampai-sampai, para karyawan di rumah makan itu ikut tertawa melihat tingkah kedua atasannya. Mereka senang bekerja dengan Denny, dan juga Jeky yang baik dan jenaka.
Tidak ada penderitaan yang abadi. Sama halnya dengan hidup dan segala misteri yang ada di dalamnya. Semua akan datang dan pergi tanpa pada waktunya. Segalanya telah terukur dengan takaran yang pas menurut kadarnya masing-masing.
Hidup adalah pelajaran yang berharga. Sebelum datangnya nasehat yang paling baik yaitu kematian. Hargailah setiap detik yang berlabuh di dermaga hidupmu, dengan perahu-perahu dan kapal-kapan yang akan membawamu pada kebaikan hidup dan kedamaian mati.
Segala sikap angkuh dan angkara murka, hanya akan menjadi benih yang menumbuhkan bibit-bibit kehancuran yang merugikan banyak orang. Sementara, tebaran cinta dan ketulusan di antara sesama, mampu menumbuhkan akar-akar yang kuat serta pohon yang subur dengan dahan dan ranting yang kokoh, juga dedaunan yang rindang. Sehingga memungkinkan untuk menghasilkan buah-buah yang manis dengan kualitas yang baik.
Semua orang punya alasan untuk setiap keputusan yang ia lakukan. Namun, tidak semua orang dapat menyelesaikan apa yang sudah ia mulai. Maka, pikirkanlah segalanya baik-baik sebelum memulai sebuah tindakan. Agar tidak menyesal di kemudian hari.
__ADS_1
TAMAT
ANANDA SHAKA, telah mendapatkan haknya untuk bahagia. Begitu juga dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Mereka semua kini hidup bernaung syukur, berpayungkan suka cita. Maka dengan ini, author mengumumkan sebagai persembahan terakhir, bahwasannya kisah NOVEL dengan judul Ibu, Izinkan Aku Bahagia telah selesai.