Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 94 Siapa Aku Bagimu?


__ADS_3

Sore menjemput malam, Santana masih dalam gelisahnya. Meski ia sudah berulang kali mengingatkan pada dirinya sendiri, bahwa takdir dan segala ketentuan hidup dari-Nya, bukanlah sebuah kebetulan semata. Seribu kecewa pun rasanya percuma. "Sudahlah, Santana, berhentilah menyesali apa yang sudah tertakdir untukmu!" ucap Santana menyadarkan dirinya sendiri.


"Mas, apa kepalamu masih pusing?" tanya Davina yang kala itu sudah pulang dari toko aksesorisnya.


"Eh, Vin .... tidak, Sayang. Aku sudah lebih baik," jawab Santana sedikit tersentak dengan kehadiran Davina.


"Syukurlah ...," imbuh Davina sembari memperhatikan raut wajah Santana yang penuh kegundahan.


"Apa ada masalah, Mas?" tanya Davina penuh selidik.


"Tidak ada, Sayang, aku baik-baik saja. Kemarilah!" ujar Santana sembari menepuk tepi tempat tidur di sebelahnya.


Davina mendekat ke arah Santana. Ia duduk di tempat yang Santana minta. Hati Davina tak tenang sebab, ia merasa ada yang disembunyikan darinya oleh Santana.


"Apa kamu lelah?" tanya Santana sembari memijat lembut pundak Davina.


"Tidak, Mas," jawab Davina menggelengkan kepala. Lalu, "Kecuali hatiku, Mas. Aku lelah dibohongi oleh perasaanmu itu." Batin Davina.


"Mas .... boleh aku bertanya?" ucap Davina setelah beberapa saat hening.

__ADS_1


"Katakan! Apa yang ingin kamu tanyakan?"


"Siapa aku bagimu, Mas?" tanya Davina kini menghadap ke arah Santana seraya menatapnya lekat.


"Apa yang kamu katakan, Sayang? Tentu saja kamu adalah istriku tercinta," jawab Santana sembari tertawa.


"Akan tetapi, matamu berkata lain, Mas. Aku tidak melihat diriku di sana," ucap Davina dengan mata yang mulai mengembun.


"Vin ...," lidah Santan tercekat.


"Apa salahku padamu, Mas? Kenapa sampai detik ini kamu masih terbelenggu dengan masa lalumu? Apa salahku?" tangis Davina pecah dan ia mulai terisak.


"Apa begitu sulit untuk mengatakan 'iya'? Bahwa kamu masih terus memikirkannya? Bahwa kamu belum bisa menggeser posisinya dari hatimu? Bahwa aku hanya pelarian semata? Katakan, Mas!" racau Davina dengan amarah yang sedikit tertahan hingga membuat sebak di dalam dada.


Santana hanya diam tidak mampu bicara. Laki-laki itu tidak bisa berkata iya namun, juga tidak bisa berkata tidak. Santana berada dalam dilema yang berat.


"Oke, Mas, aku mengerti sekarang." Pungkas Davina sembari menjauhkan posisi duduknya dengan Santana.


"Davina, tolong dengarkan dulu penjelasanku. Aku yakin ini hanya salah paham saja, Sayang," bujuk Santana.

__ADS_1


Davina tidak mengeluarkan sepatah kata pun kecuali hanya isak tangis karena merasa dikhianati oleh perasaan Santana. Ia meremas bantal kepala yang ada di dekatnya. Bibirnya bergetar menahan sakit yang tak kasat mata namun, sangat merasuk ke dalam jiwa.


"Sayang, tolong jangan berpikir yang macam-macam," tutur Santana sembari mendekati Davina dan memeluknya.


"Aku tidak sedang menuduhmu, tapi perlakuanmu itu sudah menjelaskan apa yang sebenarnya, Mas," ucap Davina sambil terus terisak.


"Sayang, jangan buat aku berdosa karena membuatmu menangis," pinta Santana.


"Bagaimana denganmu, Mas? Kamu juga telah membuatku berdosa karena hatiku tidak ridha padamu. Aku tidak ikhlas dibeginikan, Mas," lanjut Davina masih dengan getaran amarah yang berusaha ia tahan.


Santana tidak berkata apa pun lagi, kecuali hanya mengeratkan pelukannya ke tubuh Davina. Walau Davina berusaha meronta tapi, Santana terus memeluknya. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk istrinya yang sedang dilanda cemburu. Karena, apa pun yang Santana jelaskan seperti tidak akan ada artinya untuk saat ini.


Davina berusaha mendorong tubuh Santana agar menjauh darinya. Namun, usahanya sia-sia saja. Santana malah semakin memeluknya dan menghujaninya dengam ciuman di seluruh wajahnya. Sampai Davina pasrah dan tidak meronta lagi.


Gemericik hujan mulai terdengar, suaranya berdentang semakin keras menjatuhi genting-genting rumah denga derasnya. Santana melakukannya, dan Davina tak kuasa untuk menolak. Mereka pun hanyut dalam sungai-sungai cinta yang mereka ciptakan sendiri.


Bersambung ....


Sembari menunggu, boleh banget loh mampir ke karya othor yang lainnya, dengan judul : Purnama Sendu (Dipaksa Cinta). cekidot ....

__ADS_1



__ADS_2