Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 35. Geram


__ADS_3

"Ibu, ada apa sebenarnya? Mengapa Ibu melarang Shaka, dan Nenek keluar kamar?" tanya bocah laki-laki itu bingung. "Shaka, turuti saja apa kata Ibu, hmm ... lagi pula Nenek juga di sini bersama Shaka," ujar Ibu Denny yang kala itu sudah mengetahui yang terjadi dari bisikan Mariam yang tidak diperdengarkan pada Shaka.


Shaka mengangguk patuh pada Nenek yang ia sayangi itu. "Baik, Nek " jawab Shaka lalu ia memainkan kembali mainan yang ada di tangannya. Meski dalam batin kecilnya Shaka tak puas karena rasa penasarannya belum terjawab.


Keadaan Arifin yang tidak memungkinkan untuk di bawa berkendara, mengingat hanya kendaraan roda dua yang tersedia. Akhirnya mereka memutuskan untuk menjemput saja seorang dokter dari klinik terdekat. Dengan mengumpulkan seribu keberanian, Denny mencoba mencabut belati yang masih memghunus di punggung Arifin.


Sembari menunggu dokter datang, Santana, dan Denny mencoba untuk memberikan pertolongan pertama pada Arifin. Mereka menekan area luka tikam agar tak terjadi pendarahan, setelah sebelumnya belati tersebut berhasil dicabut. Tentunya dengan meminta warga bersaksi terlebih dahulu supaya Santana, maupun Denny tidak jadi tersangka.


"Oh, jadi si wanita ular itu pelakunya?" sindir Rani yang turut hadir di sana. "Kenapa baru sekarang dia melakukannya? Bukan pada saat laki-laki itu melepaskan tanggung jawabnya," timpal Alisa yang sudah mengetahui sejak lama perkara Arifin dan Asih. Namun, kuatnya ancaman Arifin terhadap Rani, dan Alisa berhasil membungkam mulut mereka untuk tak memberitahu Mariam.


Asih mendeengus kesal mendengar kata-kata yang dilontarkan Rani, dan Alisa. Ingin rasanya ia jambak-jambakan lagi dengan mereka tapi, tak banyak yang bisa ia lakukan. Kedua tangannya saja masih dalam pengamanan yang jelas-jelas membuat Asih tak bisa berkutik.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian dokter pun datang. Segera ia menangani Arifin dengan membersihkan lukanya lalu, mengoleskan obat antibi*tik pada luka Arifin guna mencegah infeksi. Tak lupa pula obat dalam sebagai perawatan luka yang lebih utama yang diberikan dalam bentuk tablet minum.


"Bagaimana keadaannya, dok?" tanya Santana sedikit panik. "Syukurlah tidak terjadi pendarahan yang parah. Saya sudah memberikan obat sebagai penanganan yang tepat! Untuk krim ini tolong dioleskan di 2 hari pertama saja, sementara yang tablet usahakan diminum tiga kali sehati dan habiskan," papar sang dokter.sebelum bergegas pergi.


Segala penanganan telah diberikan baik oleh warga maupun dokter. Kini Arifin dalam perawatan dan dibiarkan beristirahat terlebih dahulu. Syukurlah lukanya masih bisa ditangani dan tidak perlu dirawat di rumah sakit.


Santana bangkit menghampiri Asih. Matanya menatap tajam pada Asih, bahkan lebih tajam dibandingkan dengan sebilah belati yang menghunus Arifin. Asih memalingkan wajah terpejam. Ia tak sanggup menerima tatapan mata Santana yang nyaris mengoyak indra penglihatannya.


Mendengar kata-kata terakhir Santana, Asih langsung dilanda kecemasan. Karena memang benar apa yang dikatakan Santana. Tindakan Asih itu masuk ke dalam tindak kriminal yang bisa membuatnya terkena pasal.


Begitulah siklus penyesalan yang selalu datang di akhir. Asih hanya bisa menggigit jari dan merasa bodoh. Namun, semuanya hanyalah sia-sia saja kini sebab, nasi sudah terlanjur menjadi bubur.

__ADS_1


Semua orang sepakat membuat laporan pada pihak berwajib mengenai tindakan Asih terhadap Arifin. Namun, Arifin dengan sisa tenaganya ia menyampaikan agar Asih jangan dihukum. Biarlah rasa sakitnya menjadi penebusan dosa atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan olehnya.


Meski hal itu membuat banyak warga yang gemas dan tak puas tapi, mereka tak bisa berbuat banyak karena yang meminta adalah korbannya sendiri. Asih langsung menegakkan kepalanya mendengar hal itu. Ia tersenyum penuh kemenangan tanpa merasa bersalah walau sedikit saja.


Asih langsung menepis dua tangan yang masih memeganginya. "Lepaskan aku d*ngu! Apa kamu tidak mendengar?" hardik Asih. Ia lalu berjalan melenggang seoalah tidak terjadi apa-apa.


Semua orang mengumpat Asih, termasuk author dan tidak memungkinkan juga readers. Wanita itu sama sekali tidak bisa diberi empati. Ulahnya selalu saja membuat semua orang geram.


Bersambung....


Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dukungan ya, sayang-sayangnya author... 💖💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2