Ibu, Izinkan Aku Bahagia

Ibu, Izinkan Aku Bahagia
BAB 21. Kue Bolu untuk Ayah


__ADS_3

Pagi tiba membuka hari, menyapa ramah setiap nyawa yang menyambutnya. Hangat sinar mentari yang menyorot manja. Menembus setiap celah lalu mencipta baris formasi cahaya.


"Selamat pagi, Ayah ... Ibu ... Nenek," sapa Shaka pada ketiga orangtua yang sedang menikmati jamuan paginya. "Pagi, Shaka " balas mereka serempak. Shaka tersenyum meresapi hangatnya kekeluargaan yang nyaris belum pernah ia rasakan sebelumnya.


"Mariam, nanti siang aku ingin mengajakmu, dan juga Shaka ke suatu tempat," tutur Denny seraya menyeruput secangkir kopi cinta yang dibuatkan istrinya. "Ibu bagaimana, Mas?" kata Mariam menggambarkan kecemasan di wajah ayunya. "Ibu tidak ikut, Nak... kalian pergi sajalah, Ibu ingin istirahat saja di rumah," pungkas Ibu.


"Lihatlah, Bu! Menantu Ibu sangat mencemaskan Ibu," tutur Denny sembari mengangkat kedua alisnya. "Ih, Mas ini apa-apaan sih? membuatku malu saja," gerutu Mariam dengan suara pelan. Ibu hanya tersenyum dan menggelengkan kepala melihat kelakuan anak dan menantunya.


"Ayah, bolehkah Shaka memberi Ayah Santana kue bolu buatan Ibu juga? tanya Shaka tiba-tiba. Membuat semua orang tercengang. Mariam merasa tidak enak hati pada Denny dan juga Ibu tapi, Denny menenangkannya dengan sebuah senyuman.


"Boleh sayang, tentu saja sangat boleh" jawab Ibu Denny. Wajah Mariam langsung lesu tak bergairah. "Tidak apa, Mariam... Santana adalah ayah kandungnya, biarkan Shaka tetap merbuat baik kepadanya," nasehat Ibu. "Iya, Bu tapi...," ucapan Mariam terhenti.


"Bukankah kamu yang mengajarkan kebaikan pada Shaka? lalu mengapa harus mencegahnya untuk berbuat baik! Biarkan saja," tandas Ibu. "Mariam, jangan khawatir," imbuh Denny. Akhirnya Mariam menurut pada nasehat Ibu mertuanya.


Jika boleh jujur sebenarnya Mariam tidak mau membiarkan Shaka melakukannya. Bukan karena perasaan tidak enak pada Denny dan juga Ibu semata. Namun, Mariam takut sikap Santana akan membuat Shaka kecewa lagi.


Dengan cermat Ibu Denny menyiapkan bolu yang Shaka minta untuk Santana. Dikemasnya rapi dalam sebuah kotak. Ibu Denny bahkan sengaja memberikan bolu yang masih utuh untuk diberikan pada Santana.


Setelah bersiap, Denny dan juga Mariam, mengantarkan Shaka ke rumah Santana dahulu sebelum nantinya akan mengunjungi tempat yang di maksud oleh Denny. Dengan hati gembira bocah laki-laki itu terus berceloteh sepanjang perjalanan menuju rumah Ayahnya. beberapa saat kemudian mereka pun tiba di rumah Santana.


"Assalamu'alaikum, Ayah" ucap Shaka memberi salam. Dengan wajah terkejut dan rasa tak percaya, Santana menjawab salam Shaka terbata-bata. Shaka tersenyum pada Santana seolah tidak pernah tersakiti olehnya.


Santana berlari memeluk Shaka dengan air mata yang perlahan jatuh membasahi pipinya. Tak ada sepatah katapun yang terucap dari mulut Santana. Ia hanya terus memeluk dan menciumi Putranya itu.

__ADS_1


Denny dan Mariam saling bertatap pandang kemudian dengan erat Denny menautkan jari jemarinya pada Mariam. Denny tidak ingin istrinya megingat kembali kesakitannya. Di sisi lain Denny bersyukur karena ia percaya bahwa menjalin hubungan baik dengan orang yang pernah menyakiti adalah cara menang paling menawan.


"Ayah, lihat Shaka membawakan Ayah kue bolu buatan Ibu," tutur Shaka lalu menyeka air mata yang menempel di pipi Santana dengan tangan mungilnnya. Santana tak kuasa menahan segala rasa yang bercampur aduk dalam hatinya. Ia meresapi setiap sentuhan lembut dari Putranya itu.


Santana belum bisa berkata-kata karena tumpahan kesedihan yang begitu mendesak di dalam dadanya. Dengan tangan gemetar dan bibir tercekat ia meraih kue bolu itu dari tangan Shaka. "Terima kasih, Nak" ucap Santana dengan suara parau.


Santana lalu bangkit berdiri dan membawa Shaka ke dalam gendongannya. Mariam menangis menyaksikan semua itu. Lagi-lagi dengan sigap Denny menenangkan Mariam kali ini dengan sebuah pelukan.


"Shaka menyayangi Ayah," ucap Shaka lirih sembari mendekapkan tangannya pada tubuh Santana. "Ayah juga, Nak ... Ayah minta maaf," balas Santana. 10 menit berlangsung segala drama haru itu akhirnya disudahi.


Santana lalu menoleh ke arah Denny yang sedang menggandeng erat tangan Mariam. Ia tersenyum pada mereka. Santana mengumpulkan keberaniannya untuk mendekat, lalu memeluk Denny sembari menahan sesak yang memenuhi ruang dadanya.


"Terima kasih, Den" ucap Santana tak lebih. Denny menepuk pelan punggung Santana lalu menjawab "Sama-sama, Mas," katanya. Mereka pun saling melepaskan pelukannya.


"Maafkan aku, Mas... jika suatu saat kamu menaruh tanya mengapa aku bersikap begini. Maka rasakanlah luka yang mungkin pernah kau anggap sederhana," batin Mariam yang kala itu masih acuh tak acuh pada Santana. "Bukankah aku juga berhak bahagia? karenanya aku tak ingin berlama-lama lagi merasakan pahit dan getirnya rasa sakit."


"Aku tahu, Mariam, aku pun tak ingin terus menerus tersiksa oleh rasa bersalah yang selalu menghantui. Mungkin dengan melepaskanmu adalah satu-satunya cara untuk memberikanmu jalan menuju kebahagiaan yang lain. Kebahagiaan yang tak mampu aku hadirkan untuk kamu, dan juga Shaka."


"Sementara merelakanmu bahagia, biarkan aku menerima hukuman atas kesalahan yang aku tak akan pernah dibenarkan karenanya. Sesekali mungkin aku harus merelakan pelangiku meyerahkan diri pada seseorang yang mampu menyingkirkan badai di langit hidupmu, Mariam. Biarkan rasa pedih ini aku telan sendiri.


Mariam, Denny, dan Shaka bertolak meninggalkan Santana setelah berpamitan. Dengan tatapan kosong namun, dengan perasaan yang mulai lega. Santana memperhatikan setiap langkah mereka yang semakin menjauh dari pandangannya.


Dicky menggemeratakan giginya menyaksikan Santana yang tadi memeluk Shaka penuh kasih sayang. Sebuah pelukan yang tak pernah dirinya rasakan. Namun, Dicky masih terlalu kecil untuk mengerti bahwa Santana adalah ayah kandung Shaka. Sementara dirinya hanyalah seorang anak yang ditelantarkan oleh Arifin.

__ADS_1


Sambil menekuk wajah dan mengerutkan dahinya, Dicky memberikan protesnya. "Mengapa semua orang menyayangi Shaka? Ayah kenapa Ayah memberikan pelukan dan menggendong Shaka? padahal ayah tidak melakukan itu pada Dicky."


Santana mengepalkan kedua tanganya, ingin rasanya ia marah tapi pada siapa. Dicky bukanlah seseorang yang bisa disalakan karena ia masih kecil dan belum tahu yang sebenarnya. Marah pada Asih mungkin itu lebih tepat tapi, semua amarahnya hanya akan sia-sia saja.


Tak ingin ambil pusing, akhirnya Santana masuk dan menyantap bolu pemberian Shaka. Setiap gigitannya ia resapi. Setiap suapan yang masuk ke dalam mulutnya memutar memori sepenggal kisah tentang manisnya kasih sayang yang pernah ia lalui bersama Mariam.


"Lihatlah, Asih! wanita bod*h itu masih saja datang dan merayu suamimu," umpat Asih yang melihat Santana dari arah dapur. Hati Asih terlalu penuh dengan titik hitam. Hingga ia tak mampu melihat kebaikan pada diri seseorang, yang ia besarkankan hanyalah ego semata.


Bersambung....


Hai readers kesayangan author, sembari menanti kelanjutan ceritanya... Author mau mengajak readers semua untuk mampir di karya teman author yang pastinya kece badai...👇👇👇


Judul : Aku Tidak Jelek


(Your'E So Preety)


Karya : Pipihpermatasari


Karena kecorobohan Aku yang berani mengungkapkan perasaannya terhadap Pimpinan Intern group membuat Aku di tolak mentah mentah, dihina sampai didorong masuk ke dalam kolam renang oleh seorang Juna Prakasa dan kekasihnya Olin Puspita. Aku pikir dia sama menyukaiku karena sudah berbuat perhatian lebih, ternyata dia hanya memanfaatkanku karena otakku pintar dan cerdas.


Akankah pembalas dendaman Aleena dan Veri berhasil membuat Juna berlutut dan menyesalinya?


__ADS_1


__ADS_2