
Mobil yang menjemput Davina, Santana serta Shaka pun tiba. Dengan segala persiapannya mereka telah siap untuk pulang dan mengakhiri liburannya. Kebersamaan ya intens selama satu minggu, antara Shaka, bersama ayah dan juga ibu sambungnya. Cukup memberi kesan mendalam dan membuat hubungan mereka semakin erat.
"Ayo, Jagoan, masuklah ke dalam mobil," titah Santana.
Mereka pulang dengan hati senang. Meski diakhir liburannya. Ada kerinduan yang mencabik-cabik rasa hati Shaka. Kerinduannya pada Dicky, bocah malang yang nasibnya memprihatinkan.
"Shaka, kamu mau menginap lagi di rumah Ibu Davina, atau mau langsung diantar pulang?" tanya Davina dengan senyum merekah.
"Shaka rindu Ibu,dan ayah Denny, Bu," jawab Shaka.
"Baiklah, kalau begitu kami akan langsung mengantar Shaka pulang, hmm!" Davina mencium pipi Shaka.
Di sepanjang perjalanan pulang. Davina tak henti-henti memperhatikan raut wajah Shaka. Masih nampak kegelisahan di sorot mata itu. Sorot mata seorang anak laki-laki dengan pemikiran yang luar biasa.
Lumayan panjang dan lama waktu yang mereka tempuh. Hingga akhirnya sampai juga di halaman rumah Denny. Sopir itu memarkirkan mobilnya lalu, membantu menurunka barang-barang milik Shaka.
Sambil mengucap salam. Shaka berteriak riang memanggil Mariam, juga Neneknya. "Ibu, Nenek, Shaka pulang!" tandasnya. Ia segera masuk mecari keberadaan Mariam, dan Nenek kesayangannya itu.
"Cucuku ...," ucap Ibu Denny seraya menyambut Shaka dengan pelukan rindunya.
"Nenek, Ibu kemana, Nek?" tanya Shaka.
"Ibu di sini, Sayang. Bagaimana liburannya? Apakah menyenangkan?" Mariam muncul dari dalam kamarnya.
__ADS_1
"Sangat menyenangkan, Bu. Shaka melakukan banyak hal bersama Ayah, dan juga ibu Davina. Mereka ada di luar, Bu."
Mariam ke luar untuk menemui Davina, dan juga Santana. Sementara, ibu Denny memilih kembali melanjutkan pekerjaannya. Shaka menuntun tangan Mariam hingga ke ruang tamu.
Mariam menyapa Davina dengan ramah. Ia juga memberi pelukan serta cium pipi kanan dan cium pipi kiri alias cipika cipiki. Mariam mengucapkan rasa terima kasihnya karena sudah menjaga Shaka dengan baik. Lebih dari itu, Davina justru sangat berterima kasih karena Mariam, sudah mengizinkan Shaka untuk turut serta.
"Kemana Ayah Denny, Nak," tanya Santana pada Shaka.
"Maaf, Mas Denny sedang ada urusan di luar. Mungkin dia akan pulang sedikit malam hari ini," Mariam menjawab pertanyaan Santana, mewakili Shaka.
"Baiklah kalau begitu kami pamit untuk pulang," ucap Santana sembari menoleh ke arah Davina, mengisyaratkan sebuah ajakan.
Davina menganggukkan kepala. Ia tersenyum pada Mariam, lalu menjelaskan bahwa ada ayah Davina, yang sudah menunggunya di rumah. Karena itu mereka tidak bisa belama-lama mengobrol dengan Mariam. Sekali lagi, mereka saling berterima kasih.
***
Malam harinya, Denny datang dari menyelesaikan urusannya. Jeky mengundangnya lagi untuk datang ke rumah makan milik mereka. Dalam rangka membicarakan recananya untuk melebarkan sayap membuka cabang rumah makan yang baru.
Mariam menyambut kedatangan suaminya itu dengan mencium punggung tangannya. Satu cangkir teh lemon hangat sudah Mariam siapkan di meja. Denny menyukai minuman sederhana yang membuat badannya terasa segar itu.
"Apa Jagoanku sudah pulang dari liburannya?" ucap Denny menanyakan Shaka.
"Sudah, Mas, Shaka sudah tidur. Sepertinya ia kelelahan."
__ADS_1
"Biarkan saja, tidak usah mengganggu tidurnya." Tutup Denny seraya menyeruput teh lemon hangat buatan Mariam.
Di rumah Davina. Santana terbayang Mariam, dengan perutnya yang mulai membuncit. Ia teringat saat dulu, ketika Mariam mengandung Shaka. Bahkan ia tak mampu membelikan susu hamil untuk Mariam. Mengenang kesusahannya itu, Santana tersenyum getir. Di dalam hatinya ia bersemoga, agar Mariam tidak lagi mengalami kepahitan seperti saat dulu bersamanya.
"Meski kini kamu sudah menjadi masa laluku. Namun, hingga kini kebaikan yang engkau tanamkan di setiap kali aku tak mampu memenuhi kebutuhanmu, masih aku rasakan. Betapa dengan sabar engkau tetap setia padaku dan tak pernah mengeluh," Santana bicara dalam hatinya.
"Perangaimu tercermin dari baikny perilaku Shaka. Kamu berhasil mendidiknya, Mariam. Kamu memenangkan segalanya tanpa aku, meski kini aku dan kamu hanya sepenggal masa lalu, yang mau tidak mau harus tetap saling bertautan. Karena Shaka adalah putraku, anak yang lahir dari wanita hebat seperti dirimu, Mariam."
Tiba-tiba Davina datang. Memeluk Santana dari belakang. Santana meraih jemari tangan istrinya itu lalu menciumnya dalam-dalam. Buyar sudah lamunannya tentang Mariam, dan segala kenangan pahit yang masih tersisa dalam memorinya.
Bersambung ....
Hai readers tersayang. Sembari menunggu update selanjutnya. Kumohon jangan berhenti di aku, ya! Aku akan mengajak kalian untuk mampir juga di karya kece milik kawanku. Langsung saja checkitout ....
Judul : Antara Jeritan dan Harapan
Karya : Ibn Muchsin
Blurb :
Seorang siswa SMA yang punya penyakit terbelakang mental bernama Soejono alias Jono hidup dengan kemiskinan yang terpaksa harus mencari nafkah untuk keluarganya dengan cara yang haram, sebagai pengedar narkoba untuk membeli obat untuk ibundanya yang sakit-sakitan, disamping itu ayahnya juga sudah lama wafat dan dia adalah anak pertama dari 4 bersaudara yang keseluruhannya juga terbelakang mental, Tak hanya itu dia juga harus dibully teman-temannya di sekolah, Alex Felixius si ketua geng di kelas XII Bahasa anak seorang pegawai Freeport yang kaya raya, dia selalu pamer dengan orang-orang di sekitarnya, dia musuh bebuyutan Jono dan dikenal sebagai trouble maker di setiap tempat, untungnya ada wanita cantik jelita bernama Salma yang tak tega melihat pengorbanannya, dan Salma pun akhirnya jatuh hati padanya
__ADS_1