
Ketika Asih sampai di pintu dan hendak melangkahkan kakinya keluar, Santana dengan cekatan menarik Asih untuk kembali ke dalam. "Tidak semudah itu kamu mengelabuhi aku, Asih!" geram Santana sembari menyeret Asih dan menggemeratakkan giginya. Asih meringis kesakitan mendapan cengkraman tangan yang begitu dari Santana.
"Huuuh!" sorak semua orang terhadap Asih yang bisa dibilang tidak tahu diri itu. "Wanita ular seperti dia baiknya dijebloskan saja ke dalam penjara," teriak Rani yang seolah memiliki dendam pribadi terhadap Asih. "Benar tuh ... Asih harus mendapat hukuman!" timpal Alisa yang juga sangat kesal pada Asih.
"Tenang ibu-ibu, tolong untuk tetap kondusif karena korban sedang isirahat," sergah Denny melerai kegaduhan. "Semua ini tidak bisa dibiarkan, Mas Denny! Kalau tidak dia akan terus semena-mena" ujar salah seorang warga. Mereka terus memprovokasi agar Asih tetap dihukum.
"Dasar emak-emak, inginku juga begitu," batin Denny. "Rasakan kamu, Asih ... riwayatmu akan tamat," cemooh Alisa dalam hatinya. "Ingin rasanya aku menjambak kalian semua" sungut Asih menggerutu pelan.
Asih akhirnya duduk diam tidak berkutik di samping Arifin yang tengah tidak berdaya. Andai tidak ada hukum yang berlaku, ingin sekali rasanya Santana menjerembabkan Asih ke dinding agar kepalanya bisa berpikir atas kesalahan dan menyadari perbuatannya. Entah setan apa yang merasuki Asih hingga yang ada padanya selalu saja memancing orang lain untuk mengumpatnya.
Keadaan pun mulai stabil, obat yang diberikan dokter rupanya bereaksi dengan baik pada luka Arifin. Mata Arifin terbuka setelah hampir 2 jam ia terpejam meresapi kesakitannya. Santana sudah gundah gulana sebab maksud hatinya untuk mengungkap misteri di balik perubahan sikap dan keputusan yang membuat Mariam, dan Shaka menderita belum tercapai jua.
"Mas Santana! Ada apa sebenarnya?" tanya Denny membuyar kemelut dalam pikiran Santana. "Aku mengajak Arifin ke sini untuk menjelaskan sesuatu pada kalian," papar Santana. Denny mengerutkan dahinya merasa heran.
"Apa masih ada yang perlu dijelaskan, Mas?" tanya Denny penasaran. Santana menganggukkan kepala lalu menatap Denny dengan tatapan meyakinkan. "Baiklah, Mas Santana bisa mengatakannya setelah keadaan lebih tenang," ucap Denny menenangkan Santana yang mulai panik.
Seutas senyuman membias di bibir Santana setelah beberapa saat wajahnya pucat pasi bermuram durja. "Den, maaf aku selalu merepotkanmu," ujar Santana. "Jika kerepotan ini untuk sesuatu yang bermakna baik maka, tak apalah, Mas! Asal jangan untuk sesuatu yang akan membuat Shaka, dan Mariamku terluka."
Jlep!
__ADS_1
Perkataan Denny membidik tepat di hati Santana. " 'Mariamku' katamu, Den?" batin Santana. Terdengar sederhana namun, cukup membuat koyak perasaanya. Santana menghela napas dengan rasa perih di setiap tarikannya.
Kendatipun Santana meronta seribu galau. Kenyataan bahwa Mariam kini telah milik Denny tidak akan bisa berubah. "Sabar duhai hati," gumam Santana mengajak jiwanya berbicara. Kala itu, rasanya terhunus pedang akan lebih baik dari pada tertikam kata-kata yang menyadarkan dirinya tentang kehilangan Mariam.
"Mas Santana! Biarkan aku pulang, di sana Dicky sendirian" tutur Asih memecah hening. "Diamlah kamu, Asih! Dicky sudah lebih aman bersama Ali, dan Reyhan," sahut Santana. Di tengah keramaian yang terjadi beberapa jam yang lalu ternyata Santana sempat memintai tolong pada Rani dan Alisa untuk menjaga Dicky sampai keadaan lebih tenang.
Rani dan Alisa mau membantu Santana sebab mereka sadar bahwa kenakalan Dicky selama ini adalah akibat dari kurangnya perhatian Asih terhadapnya. Mereka menjemput Dicky dan menasehati Ali, dan Reyhan agar mau mengajak Dicky bermain. Syukurlah kedua bocah baik itu mengerti dan mau menuruti permintaan ibunya.
Dengan begitu Asih tidak bisa serta merta mengatas namakan Dicky sebagai alasan untuknya melepaskan diri. "Si*l!" umpat Asih merasa kesal dan kalah langkah. Kini ia hanya bisa diam dan menunggu.
***
"Shaka melihat ke arah meraka, kemudian menatap bingung seolah bertanya-tanya pada Mariam. Mariam mengurai senyum di bibirnya sebagai isyarat bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Meski begitu, Shaka masih tampak sangat kebingungan.
"Ibu" Shaka membenamkan wajahnya pada Mariam saat melihat Asih membulatkan mata pada Shaka. Mariam menyadari hal itu dan langsung menatap balik Asih dengan tatapan membunuh. "Memangnya kamu saja yang bisa melotot seperti itu?" batin Mariam.
Singkat cerita, kesadaran Arifin sudah terkumpul sepenuhnya. Saatnya ia melakukan apa yang dipinta oleh Santana semenjak dari awal. Masih dengan keadaan yang sedikit mengigil nyeri, Arifin mulai membuka percakapan.
"Mariam ... Denny! Saksikanlah dengan seksama" seru Santana lalu, "Arifin akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi bertahun-tahun yang lalu" jelas Santana. Semua orang hening mendengarkan apa yang akan disampaikan selanjutnya. Arifin tampak sudah siap untuk berkisah sebagaimana mestinya.
__ADS_1
"Begini, Mariam! Tentu kamu masih ingat beberapa tahun yang lalu Santana pergi bersamaku," Arifin menghela napas lalu, "mungkin dan pasti kamu mengira bahwa Santana sungguh akan bekerja bersamaku. Namun, kenyataannya tidak begitu" Arifin menunduk. Arifin berkali-kali mengatur napas saat bercerita karena merasa seolah diingatkan kembali pada dosa-dosanya.
"Katakan saja, Arifin, jangan bertele-tele!" Santana menyelah. sementara raut wajah Asih tampak tak senang dengan semua itu. Ia menekuk wajahnya dan berulang kali memalingkan wajah sebagai respon tidak mengindahkan.
"Sebenarnya saat itu Santana, aku ajak ke rumah Asih dengan alasan bahwa keberangkatan ke tempat bekerja ditunda sampai esok harinya. Lalu, saat malam tiba aku, dan juga Asih, merencanakan sesuatu untuk menjebak Santana. Arifin mulai gemetar hebat terutama saat melihat Santana yang menahan amarah mendengar kisah kelam itu.
"Aku menyuruh Asih masuk ke kamar yang ditempati santana malam itu. Santana yang sudah tertidur pulas tidak menyadari bahwa Asih sudah berada di sampingnya dengan tubuh polos tanpa sehelai benang. Mariam langsung menutup telinga Shaka, kemudian dengan inisiatif, Ibu Denny menggendong Shaka masuk ke dalam menghindari pembicaraan yang mulai berat itu.
"Lanjutkan!" ucap Mariam datar. Matanya sayu hampa, pikirannya berkecamuk dan perasaanya mulai tak tenang. Detak jantung Mariam mulai tidak beraturan.
"Saat Asih sudah berada di dalam kamar yang ditempati Santana. Aku memanggil warga dan membuat fitnah bahwa Santana, dan Asih sedang berzina. Malam itu aku buat cerita semeyakinkan mungkin agar semua orang percaya dengan bualan yang aku ciptakan sendiri," lanjut Arifin.
"Dengan segala bukti yang tampak nyata, akhirnya warga meminta Santana untuk menikahi Asih. Kalau santana menolak maka ia akan dirajam. Lebih dari itu, aku juga mengancam Santana untuk patuh padaku atau aku akan melenyapkan anak dan istrinya.
"Ketahuilah Mariam, saat itu Santana benar-benar berada di bawah tekanan dan pilihan yang buntu. Oleh sebab itu, Santana dengan terpaksa menikahi Asih demi menjagamu, dan Shaka dari ancaman yang aku lakukan," lanjut Arifin kali ini dengan air mata yang bercucuran mengenang kejahatannya sendiri.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan setelah membaca ya dear readers๐๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
__ADS_1