INSECURE, Cinta Masa Lalu

INSECURE, Cinta Masa Lalu
Pernyataan cinta


__ADS_3

Aku terus memandangi air terjun itu di sebuah batu besar tepat nya. Aku suka sekali air terjun di sini, baru yang pertama aja sudah seindah ini apalagi yang paling atas pasti sudah seperti surganya dunia.


Masyaallah.. Keindahan ciptaan Allah yang tak pernah ada duanya.


Aku lihat di sekeliling kok nggak ada si Abang tukang cilok, biasanya mojok deket pohon yang di ujung. Ah gagal deh makan cilok di atas batu sambil melihat pemandangan yang begitu indah.


Ku lihat Indra juga begitu bahagia melihat air terjun itu. Aku memanggilnya untuk duduk di sampingku, karena waktu tadi dia bilang akan cerita sama aku, cerita apa ya? Aku jadi kepo deh!!


Indra pun duduk di sampingku, dia melihat ke arahku dan berkata.


"Kenapa Mar? Kamu seneng nggak?" Tanya Indra yang matanya tetap melihat ke depan.


Aku melihat wajahnya dan berkata, "Iya aku seneng kok. Oh ya tadi kamu bilang mau cerita, emang cerita apa?"


Indra menarik nafas panjang, lalu dia melihat ke arahku. Tatapannya tajam dan sikapnya sangat serius, membuatku menjadi semakin penasaran dengan apa yang akan di ceritakan nya kepadaku.


"Mar, ada yang mau aku sampaikan sama kamu. Udah lama banget aku pengen ngomong ini, tapi belum ada waktu yang tepat untuk menyampaikannya."


Aku pun hanya memperhatikannya, "Mau ngomong apa? Ngomong aja."


Indra mengajakku untuk berdiri di atas batu besar yang datar itu, membuat kami menjadi saling berhadapan. Indra memelukku tepat di depan air terjun dan berbisik "Aku sayang kamu Maria Maharani."


Aku hanya terdiam, kaget dengan apa yang ku dengar barusan. "Hah? Apa kamu bercanda? Nggak mungkin!!"


Indra melepaskan pelukannya dan memegang pipiku yang sedikit chubby ini.. "Aku serius Mar. Aku suka sama kamu sejak lama, dari kelas 7 aku udah memendam perasaan ini. Aku nggak bisa memendamnya terlalu lama lagi. Beberapa bulan lagi perpisahan, aku tau kamu memilih masuk SMA kan? Sedangkan aku pengen masuk SMK. Makanya aku hanya ingin kamu tau perasaan aku yang sebenarnya."


Aku masih tak percaya dengan apa yang di katakannya.


"Jadi, kamu ajak aku kesini karena mau menyatakan perasaan kamu?" Tanyaku sambil melihat wajah Indra yang serius.


"Iya, karena kamu selalu menganggap perasaanku ini hanya sebuah candaan. Makanya aku memaksa agar kamu mau main denganku."


"Bukannya gitu, aku takut kalau aku cuma baper aja. Lalu pas upacara yang Kia teriak itu juga bener?"


"Iya, waktu itu aku yang suruh Kia untuk ngasih tau kamu kalau aku mencintai kamu, tapi dia malah teriak gitu. Terus kenapa kamu sama sekali nggak meresponnya?"


"Aku kira itu cuma bercanda. Kamu tau kan temen-temen suka iseng gitu."


"Tapi apa kamu nggak merasa kalau kamu itu spesial buat aku?"

__ADS_1


"Aku juga sempet merasa baper sama sikap kamu tapi aku menepis semuanya, aku takut kalau aku hanya ke GR an aja."


"Kamu nggak salah. aku yang seharusnya dari awal bilang sendiri sama kamu kalau aku sangat sayang sama kamu. Aku nggak bisa lihat kamu sedih Mar, hatiku sakit kalau lihat kamu nangis. Aku ingin kamu bahagia dan melihatmu tersenyum. Itu sudah cukup buat aku."


"Aku belum tau perasaan aku sama kamu. Aku memang merasa nyaman sekarang deket sama kamu, tapi nggak tau apa itu cinta atau perasaan seorang sahabat aja."


"Iya, aku ngerti kok. Apapun jawaban kamu, aku terima dan aku akan selalu ada buat kamu. Makasih ya udah mau mendengarkan aku."


"Kamu nggak minta jawabannya sekarang?"


"Engga, aku mau kamu pikirin baik-baik aja dulu. Aku mau semua mengalir begitu aja, kita jalanin seperti hari-hari biasa. Yang penting sekarang aku udah lega, karena kamu percaya kalau aku benar-benar menyayangi kamu dengan tulus."


"Ya udah nanti malam aku pikirin dulu. Besok aku kasih tau jawabannya ya."


Indra tersenyum padaku dan memelukku lagi, "Kita makan yuk."


"Hayu, aku juga lapar nih."


Kami pun pergi ke warung itu lagi untuk makan karena sudah waktunya makan siang juga. Indra memutarkan sebuah lagu di ponselnya yang seperti mewakili perasaannya saat ini.


Hanya ingin kau tau_Republik


Rasa indahnya perihku


Rasa hancurnya harap ku


Kau lepas cintaku


Rasakan abadi


Sekalipun kau mengerti


Sekalipun kau pahami


Ku pikir ku salah mengerti mu


Hoo woo aku hanya ingin kau tahu


Besarnya cintaku

__ADS_1


Tingginya khayal ku bersamamu


Tuk lalui waktu yang tersisa kini


Di setiap hari ku


Di sisa akhir nafas hidupku..


***


Hari semakin siang..


Waktu sudah menunjukkan pukul 14.05.. Aku mengajak Indra pulang karena hari mulai sore dan di perjalanannya juga lumayan jauh butuh waktu satu jam lamanya untuk sampai ke pintu gerbang.


Indra menawarkan diri untuk menggendongku lagi. Karena tau kaki ku masih sakit, tapi tidak sesakit pertama tadi.


"Aku gendong lagi ya, kamu belum kuat jalan jauh." Indra sudah bersiap-siap untuk menggendongku lagi.


"Tapi nanti kamu berat, aku jalan aja pelan-pelan." Aku menolak tawaran Indra, karena aku kasihan padanya yang sudah menggendongku dari tadi.


"Enggak kok. Daripada nanti keburu Maghrib. Sini aku gendong lagi." Indra memaksaku.


Aku pun di gendong lagi di punggungnya, karena Indra tidak mau aku merasa semakin kesakitan. Di pertengahan jalan aku meminta Indra untuk istirahat dulu. Toh sebentar lagi sampai gerbangnya kasian dia kecapean begitu, pasti pegel udah gendong aku.


Perjalanan pun di lanjutkan. Aku tak mau di gendong lagi olehnya, kasian dia. Aku mencoba berjalan walaupun betis ku masih sakit.


Gara-gara pacet kaki ku jadi kram sakit gini. Bukan cuma 1 doang tapi ada 3 Pacet yang lagi menghisap darahku. Aku benar-benar fobia dengan binatang itu!! Aku hampir saja pingsan kalau Indra tidak menyingkirkannya dari kaki ku saat itu juga.


Indra terus memperhatikan langkahku, dia tidak membiarkan aku berjalan sendiri. Indra menyeimbangkan langkahnya agar aku tidak merasa capek karena kecepatan langkahnya itu.


"Terima kasih Indra." Ucapan itu tiba-tiba keluar dari mulutku. Aku merasa sangat bahagia dengan semua perhatian yang Indra berikan kepadaku.


"Sama-sama. Terima kasih juga udah memberikan aku kesempatan menyatakan perasaanku. Itu membuat aku merasa lebih lega dan lebih baik."


Mata kami saling menatap satu sama lain. Tatapan penuh harapan dan tatapan kebahagian yang terpancar di kedua bola matanya yang indah.


Setelah berjuang dengan keras, akhirnya kami sampai di gerbang. Di depan gerbang sudah nampak angkot yang berjejer rapi. Aku naik angkot paling depan yang sebentar lagi akan jalan karena penumpangnya sudah penuh.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2