INSECURE, Cinta Masa Lalu

INSECURE, Cinta Masa Lalu
Pengorbanan 2


__ADS_3

Di tempat lain Aldi dan Daffa sudah menghubungi polisi dan mereka masuk ke gedung itu melihat Cantika yang sudah bersimbah darah, sedangkan Maria terlihat histeris. Ivan dan Zain berlari dan keluar dari ruangan tadi, Ivan menghampiri Maria dan memeluk Maria yang sangat ketakutan. Sedangkan Dendi masih mematung melihat Cantika yang sudah tidak sadarkan diri. Di perutnya masih tertancap pisau dan darah tidak berhenti keluar dari tubuhnya. Daffa mencabut pisau itu dan menggendong tubuh Cantika, dia memindahkannya ke tempat yang lebih aman.


Saat Ivan menghapus air mata Maria, preman-preman itu keluar mengejar mereka berdua. Dua orang preman mengepung Zain dan Aldi, sedangkan tiga orang preman mengepung Ivan, Daffa dan Maria. Salah satu preman yang mengepung Ivan, dia hendak menusukan pisau dari arah belakang kepada Ivan, Maria yang melihat itu langsung menarik tangan Ivan dan menggantikan posisi Ivan hingga Maria lah yang tertusuk pisau itu tepat di belakang punggungnya.


Maria memuntahkan darah segar dari mulutnya di hadapan Ivan. Dia memeluk Ivan yang terlihat sangat syok dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Daffa, Aldi dan Zain yang melihat Maria tertusuk pisau langsung menyerang preman itu dengan brutal. Dendi yang awalnya tidak menggerakkan tubuhnya, berlari ke luar untuk kabur.


Suara sirine polisi terdengar saat Dendi hendak kabur. Preman-preman itu kalang kabut mendengar suara polisi yang berhamburan ke tempat itu. Mereka hendak melarikan diri dari kepungan para polisi, tapi mereka tidak bisa kabur karena jumlah polisi yang banyak. Polisi-polisi itu memborgol Dendi dan 5 orang preman itu.


Sedangkan Ivan menangis melihat Maria yang sudah memejamkan mata di pelukannya. Ivan mencabut pisau yang menancap di punggung Maria. Dia menggendong tubuh mungil Maria dan membawanya ke mobil untuk di bawa ke rumah sakit, begitupun dengan tubuh Cantika yang di gendong oleh Daffa.


Mereka semua berterima kasih kepada para polisi dan pamit untuk segera membawa Maria dan Cantika ke rumah sakit. Polisi mengatakan bahwa salah satu dari mereka harus memberikan keterangan di kantor polisi. Akhirnya Zain yang bersedia memberi keterangan dan bukti-bukti di kantor polisi.


Ivan, Daffa dan Aldi segera membawa Maria dan Cantika ke rumah sakit terdekat, Aldi yang mengemudikan mobil itu. Sepanjang jalan Ivan tidak berhenti menangisi Maria di pangkuannya. Daffa tak kuasa menahan air matanya melihat Maria yang tak berdaya. Darah terus mengalir dari tubuhnya tanpa henti menjadikan tubuh Ivan penuh dengan darah Maria.


Daffa yang melihat Cantika di pangkuannya pun tidak tega, janin yang ada dalam perutnya sudah pasti tidak bisa terselamatkan. Dan ada rasa iba dalam hati Daffa saat melihat wajah Cantika yang penuh dengan beban hidup. Wajah cantik yang tidak memancarkan cahaya keindahan, wajah cantik yang ternyata hanya mendatangkan malapetaka dalam hidupnya.


Author POV End


...----------------...


Aku merasa seperti berada di ruang gelap dan hampa.. Aku tidak bisa melihat apa-apa di sini, aku hanya bisa mendengar suara tangisan Kak Ivan. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku hanya bisa mendengar suara Kak Ivan saja..?

__ADS_1


Ada setitik cahaya di kegelapan ini, dan ku lihat itu kunang-kunang. Kunang-kunang itu menuntunku menuju ruang bercahaya di ujung jalan sana.


Di ujung sana ada kemilau cahaya indah yang menyilaukan mata siapapun yang melihatnya. Cahaya putih keemasan yang membuat siapa saja penasaran ingin menghampirinya. Aku mengikuti kunang-kunang itu dan samar-samar aku melihat seorang pria tampan yang selalu ada di hatiku selamanya.


Aku melihat sosok Indra di ujung sana, dia tersenyum kepadaku.. Sangat manis.. Dengan sekuat tenaga aku segera berlari ke arahnya. Aku kesulitan menggapai tubuh Indra yang semakin aku berlari bayangan itu semakin menjauh. Aku lelah...


Aku duduk bersimpuh di tempat itu.


Cahaya di ujung sana semakin meredup dan bayangan Indra sudah tak tampak lagi. Aku rindu.. Aku ingin memeluknya walau hanya dalam mimpi. Air mata mengalir di pipiku saat aku mendengar suara tangisan mamah yang memanggil-manggil namaku. Tapi aku tidak bisa melihat apapun selain ruangan yang gelap.


Semakin lama pandanganku semakin kabur. Aku tidak bisa melihat dengan jelas, mataku terpejam dan entah mengapa aku langsung menjatuhkan diri di tempat itu.


"Maria sayang, anak papah.. Bangun nak." Suara papah terdengar di telingaku..


Apa aku sedang bermimpi? Aku mencoba membuka mataku dan saat aku membuka mata, aku melihat papah yang tersenyum manis padaku. Aku seperti berada di tempat yang sangat indah, semuanya berwarna putih elegan.


Aku terbangun dan langsung memeluk papah..


"Papah, Aku kangen sama papah.." Aku menangis di pelukan papah.


Papah hanya tersenyum dan mengusap rambutku.

__ADS_1


"Kamu kuat Nak.. Kamu harus bisa bertahan demi orang-orang yang sayang sama kamu.. Terutama mamah. Mamah tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu sayang." Aku melepaskan pelukanku dari papah.


Aku tidak mengerti maksud dari ucapan papah.


"Aku ga ngerti maksud papah. Apa yang terjadi sama aku pah? Aku hanya bisa mendengar suara tangisan mamah memanggil nama aku. Tapi aku tidak bisa melihat mamah." Jawabku.


"Ikut papah sayang.." Papah menggenggam tanganku dan membawaku ke tempat bercahaya itu. Cahaya yang tadi aku lihat di ruang gelap tapi aku tidak bisa mencapainya.


Setitik cahaya itu sangat terang benderang sekali, sangat menyilaukan mata. Papah menarik tanganku dan menembus cahaya itu dengan sekejap.


Tiba-tiba aku ada di kamar rumah sakit. Aku melihat tubuhku yang penuh dengan peralatan medis. Dan aku melihat mamah sedang membaca Alquran di sofa sambil terisak menahan tangis.


Sedangkan Kak Ivan duduk di samping tubuhku sambil menggenggam tanganku. Aku mendekati Kak Ivan dan ku lihat wajahnya yang sendu. Mata Kak Ivan terlihat sembab dan pandangannya kosong. Aku memeluk tubuh Kak Ivan, tapi tidak bisa.. Tubuhku selalu menembus tubuh Kak Ivan.


Aku ingin memasuki tubuhku tapi terus saja terpental. Papah menghentikan usahaku yang tidak membuahkan hasil.


"Sudahlah sayang.. Allah belum mengizinkan kamu masuk ke tubuh kamu." Papah memelukku lagi..


Dan aku menghilang dari tempat itu saat tubuhku memberikan reaksi kejang-kejang. Mamah dan kak Ivan panik, aku tidak bisa melihat lagi karena roh ku semakin memudar dan tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2