
Setelah bel pulang berbunyi aku segera menghampiri Maria. Aku semangat sekali bertemu dengan ibunya sampai aku lupa mengabari ibuku kalau aku pulang telat. Sebaiknya aku kabari ibu dulu biar nggak khawatir kalau aku pulang telat.
Ku ambil ponsel di saku baju dan aku segera menelpon ibu. Sekali, dua kali, tak ada jawaban. Aku SMS saja deh.
'Assalamualaikum bu.. Aa hari ini pulang telat, mau main ke rumah Maria dulu abis ashar aa pulang. Nggak akan lama kok bu.'
Tiba-tiba saja Maria datang mencubit lenganku dan aku terkejut dengan kedatangannya.
* POV Indra End
"Mar, tuh si semprul tumben sibuk sendiri nggak nyamperin kamu." Tanya Kia yang dari tadi melihat ke arah Indra yang sedang berdiri di samping tempat duduknya sambil memainkan ponselnya.
"Lagi ngabarin orang rumah kali Ya. Kan dia mau main ke rumah aku." Jawabku yang membuat Kia terkejut.
"Hah? Serius kamu? Bukannya kamu belum pernah bawa laki-laki ke rumah walaupun cuma temen doang.. Kan cuma aku aja yang pernah main ke rumah kamu." Ucap Kia dengan mata melotot yang seakan tidak percaya kalau aku akan membawa Indra ke rumah.
"Iya bener. Nanti hari Minggu kan dia ngajak aku main ke Curug, kalau nggak tau rumah aku gimana nanti jemput?" Aku menjawab serius pertanyaan Kia.
"Kamu udah jadian sama Indra? Kok nggak cerita? Katanya kita sahabatan." Ucapan Kia membuatku sangat geram.
"Ih kamu mah kenapa sih.. Lagian siapa yang jadian, aku cuman main aja sama dia nggak ada jadian-jadian lagian dia nggak pernah nembak aku." Aku gemas sekali sama Kia yang selalu saja bertanya seperti itu.
"Ya ampyuunn mariaaaaaa... Kamu tuh pinter tapi kok Oneng, nggak peka banget sih! Si Indra itu udah suka sama kamu sejak kelas 7 tau." Ucapan kita membuatku kaget setengah mati. Mana mungkin?
"Hah? Masa sih, tau dari mana kamu?" Aku nggak percaya yang di katakan Kia, tau darimana dia kalo Indra suka sama aku sudah sejak 2 taun yang lalu?
"Tau dari si Ari. Dulu kan dia sebangku sama si Indra. Kamu aja yang onta Arab. Makanya sekarang kan si Ari jaga jarak sama kamu, itu buat menghargai perasaannya si Indra gitu aja nggak ngerti heran deh sama nih anak,, cangkeul ih."
Kia menggelengkan kepalanya, sepertinya dia sudah kesal padaku yang oneng nya kebangetan.
"Aku pulang duluan ya mau bantuin mamah jualan.. Biar kuat walaupun nggak punya bapak tapi masih bisa bertahan hidup." Kia pergi meninggalkan aku yang masih terkejut dengan ucapannya barusan.
Aku hanya menganggukkan kepalaku dan berjalan menghampiri Indra yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya. Aku mencubit lengannya.
"Lagi sibuk? Nggak akan jadi ikut ke rumah." Tanyaku membuatnya menoleh ke arahku.
"Jadi dong Mar, ini lagi mau telepon Ibu tapi nggak di angkat jadi aku SMS aja. Takut nya khawatir aku pulang telat.. Yuk berangkat." Indra menarik tanganku.
Kami pun berjalan bersama, sepanjang jalan Indra terus memperhatikan aku.. Jadi salah tingkah deh malu di lihatin terus kayak gitu.
"Mar, makasih ya udah di bolehin main ke rumah kamu." Raut bahagia terpancar di wajahnya yang membuatnya semakin terlihat mempesona.
"Iya, sama-sama, makasih juga udah selalu ada buat aku ya. Pasti aku ngerepotin kamu terus maaf ya."
__ADS_1
"Siapa bilang kamu merepotkan aku? Justru aku merasa berharga banget bisa dibutuhkan sama kamu."
Aku hanya tersenyum kepadanya, tak terasa sudah sampai juga di depan rumah.
"Assalamualaikum mah.. Eneng udah pulang."
"Waalaikumsalam.. Eh ada siapa ini? Tumben bawa laki-laki neng."
"Teman mah."
Aku dan Indra mencium tangan mamah dan memberikan salam, lalu aku langsung menuju kamar untuk berganti baju.
"Assalamualaikum mah.. Saya Indra teman sekelasnya Maria.. Lebih tepatnya sih teman masa depannya mah." (Berbisik)
"Ooohh,, teman masa depan, calon menantu mamah dong A? Sini masuk mamah ambilkan minum dulu."
"Nggak usah repot-repot mamah mertua."
"Nggak apa-apa cuma air aja calon menantu."
Lucu juga mamahnya Maria, batin Indra.
Saat mamah ke dapur, aku sudah berganti pakaian dan aku duduk di kursi menghadap Indra. Ku lihat Indra sedang cekikikan menahan tawa.
Kenapa sih dia. batinku.
"Silahkan di minum menantu mamah." Ucap mamah yang sedang tersenyum kepada Indra.
"Hah??? (Kaget). Mamah apaan sih.. Dia itu cuma teman aku."
"Kata si Aa, Eneng teman masa depannya, calon istrinya si aa. Berarti si aa calon menantu mamah dong iya kan a?"
"Iya mah saya calon suaminya Maria, hehe. Makasih ya mamah mertua."
"Indraaaaaaaa..... Kamu mah gitu ih." (Cemberut)
Indra hanya tertawa melihatku yang sedang kesal kepadanya.
"Saya kesini mau minta izin sama mamah untuk ngajak main Maria besok."
"Mau main kemana A?"
"Ke Curug mah."
__ADS_1
"Boleh, tapi jagain Maria ya.. Hati-hati di sana banyak Pacet, terus jalanan nya juga susah kalau mau ke sana."
"Pasti mah, saya jagain Maria. Mamah tenang aja Maria aman kalau sama saya mah."
Aku yang mendengar Indra bicara seperti itu sama mamah hanya diam terpaku.
Bisa juga dia caper sama mamah kayak gitu.. Jadi kayak bener aja dia pacar aku.. Padahal mah kan nggak.!! Ucap ku dalam hati
"Mah, udah ashar boleh saya numpang solat?"
"Boleh atuh a.. Neng, anterin atuh si aa wudhu nya dimana. Shalat di kamar belakang aja neng."
"Iya Mah."
Aku mengantar Indra yang hendak berwudhu, sekalian aku juga mau berwudhu.. Aku antar Indra ke kamar belakang sedangkan aku shalat di kamar tengah, kamarku.
Selesai semua aku dan Indra menemui mamah karena Indra mau pamit pulang.
"Mah, saya mau pulang dulu. Makasih ya mah udah di izinkan bawa Maria main."
"Iya a, hati-hati di jalan nya ya mantu mamah, Salam buat besan. Punya anak ganteng, baik, sopan lagi senangnya punya mantu kayak Aa."
"Saya juga senang jadi mantu mamah."
Mamah dan Indra tertawa bersama kecuali aku yang bingung sendiri dan menahan malu.
"Mamah ih malu atuh Eneng nya."
Kami pun pergi keluar untuk menunggu angkot yang lewat, cukup lama kami menunggu angkot.
"Bercanda nya kelewatan! Jangan gitu dong Dra, aku kan jadi baper." (Memukul lengan Indra)
"Siapa yang bercanda.. Orang serius juga."
"Au ah gelap.!"
"Aku pulang dulu nanti malam aku telpon."
"Iya abis Isya ya telponnya."
"Oke siap bos.. Aku pulang ya. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
Aku masih berdiri melihat angkot Indra yang semakin menjauh.. Terlihat di sana Indra melambaikan tangan dan terus melihatku. Aku membalas lambaian tangannya dan tersenyum kepadanya.
...****************...