
Author POV
"De, bangun de..." Salah seorang polisi membangunkan tubuh Maria yang terkapar di tanah.
"Dia pingsan komandan." Ucap polisi tersebut.
Mereka lalu menghampiri pak supir yang juga tergeletak di tanah tak sadarkan diri.
"Pak, bangun.." Polisi itu menggerakkan badannya namun tak ada respon.
Komandan polisi itu mencari identitas Maria dan supir itu. Mereka menemukan ponsel Maria dan menghubungi keluarganya.
Ibu Maria sangat terkejut mendengar penjelasan polisi di telepon itu. Polisi menyuruh ibu Maria untuk datang ke TKP karena kondisi Maria yang belum siuman juga.
Di tempat lain..
Ivan pergi ke rumah Maria untuk mengajaknya main. Tapi baru sampai di depan rumahnya, ibu Maria keluar dengan terburu-buru dan hendak mengunci pintu. Ivan menghampiri ibu Maria.
"Bu, kenapa terburu-buru sekali?" Ivan berdiri di samping ibu.
"Kak Ivan, bisa antar ibu ke alamat xxx ga?" Ucap ibu Maria panik.
"Iya bisa bu.. Kenapa ibu panik?Apa yang terjadi bu?" Tanya Ivan.
"Maria, kak.. Maria pingsan." Jawab ibu Maria.
"Apa? Ayo bu kita segera ke sana."
Mereka berdua langsung bergegas pergi ke TKP. Ivan melajukan mobilnya dengan sangat cepat, mereka berdua panik dan tidak bisa tenang sepanjang jalan.
15 menit kemudian mereka pun sampai di TKP, dan melihat bahwa Maria masih belum sadarkan diri.
Mereka pun bertanya kepada polisi tersebut dan polisi itu menjelaskan kronologi nya.
"Jadi Maria sudah tak sadarkan diri saat bapak menemukannya." Tanya Ivan.
"Iya, dan sebaiknya kita bawa ke rumah sakit terdekat dari sini." Ucap pak polisi.
Mereka membawa Maria dan pak supir itu ke rumah sakit terdekat. Mereka langsung di periksa oleh dokter yang berjaga di situ.
Ibu dan Ivan tampak gelisah menunggu kabar dari dokter. . Sedangkan pak polisi melanjutkan patrolinya.
Dokter pun keluar dan menjelaskan keadaan Maria.
"Kondisinya baik-baik saja.. Hanya saja dia menghirup obat bius jenis Cloroform yang dapat membuat seseorang tak sadarkan diri seketika yang mana itu sudah tidak boleh di gunakan lagi. Itu saja yang saya sampaikan Bu, permisi.." Dokter meninggalkan mereka berdua yang terpaku.
Mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Maria bisa menghirup Obat bius. Ibu ke dalam dan melihat kondisi Maria, begitupun dengan Ivan yang menyusul di belakangnya.
__ADS_1
Tidak berapa lama kemudian Maria sadar dan mengedarkan pandangannya yang terasa kabur, dia mencoba bangkit dan duduk di pinggiran ranjang dengan masih memegang kepalanya yang terasa sangat pening. Seketika dia ingat saat Dendi hendak menusukkan pisau kepadanya..
"Tidak.. jangan." Teriak Maria sambil menutup kedua telinganya.
"Tidak.. jangan..."
"Sayang, kamu kenapa?" Ivan mencoba memeluk Maria yang terlihat sangat ketakutan. Dia terus saja berteriak tidak dan jangan. Hanya dua kata itu yang keluar dari mulut Maria.
"Neng.. kenapa?" Ibunya bertanya sambil berlinang air mata melihat putri cantik semata wayangnya yang seperti orang gila, berteriak-teriak tidak jelas dan tidak bisa di tanya.
Maria hanya menggelengkan kepalanya, Ivan keluar mencari dokter yang tadi menangani Maria.
Dokter dan Ivan sudah ada di kamar Maria, dan dokter meminta suster untuk menyuntikkan cairan penenang agar Maria bisa sedikit tenang.
"Dok, kenapa dengan anak saya?" Ibunya bertanya kepada dokter dengan deraian air mata di pipinya.
"Tidak apa-apa Bu.. Dia cuma trauma ringan, setelah siuman nanti dia akan normal kembali." Jawab dokter.
"Oh iya, makasih dok.. Alhamdulillah.." Ucap ibunya.
Ibu dan Ivan memandang ke arah Maria yang saat ini sedang tertidur. Mereka berkecamuk dalam pikiran masing-masing, ingin segera mengetahui kejadian sebenarnya yang menimpa Maria.
Author POV end
***
Aku tidak tahu apa yang tejadi padaku, dan kenapa aku ada di rumah sakit. Aku tidak ingat apapun yang sudah terjadi padaku, aku jadi bingung sendiri.
Aku memanggil nama Kak Ivan..
"Kak Ivan.." Panggil ku..
Kak Ivan langsung membuka matanya dan terkejut melihatku yang sudah berada di tepi ranjang.
"Sayang, kamu udah sadar?" Kak Ivan memelukku, dia menatap wajahku dengan penuh kecemasan.
"Sayang, apa yang udah terjadi sama kamu?"
"Sayang, aku takut sekali kamu kenapa-napa."
"Siapa yang udah bikin kamu kayak gini."
Kedua tangannya menyentuh pipiku dan aku menjadi kebingungan untuk menjawab pertanyaan Kak Ivan yang bertubi-tubi.
Tidak lama kemudian, mamah tersadar dari tidurnya dan melihatku. Mamah langsung menghampiriku dan memelukku, mamah menangis di pelukanku membuatku semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Mah, kenapa? Eneng kenapa ada di sini?" Tanyaku yang sedari tadi sangat kebingungan.
__ADS_1
"Eneng tadi pingsan. Terus mamah bawa Eneng ke rumah sakit. Eneng pingsan hampir 8 jam." Ucapan mamah benar-benar membuatku terkejut.
"Hah? 8 jam? Emang Eneng pingsan kenapa?" Saat aku mengatakan itu, kepalaku langsung berputar dan menampakkan sekelebat slide demi slide suatu peristiwa yang tidak jelas.
"Awww.." Aku memegang kepalaku yang semakin pusing mengingat hal itu.
Semakin di paksakan semakin tidak bisa mengingatnya.
"Sayang,, aku panggilkan dokter ya.." Kak Ivan segera berlari ke keluar dan memanggil dokter.
Mamah memelukku lagi dengan sangat erat dan mengusap rambutku.
Dokter datang dan memeriksa kondisi aku. Dokter mengatakan bahwa sekarang kondisi aku sudah stabil dan sudah di perbolehkan untuk pulang.
Kak Ivan bertanya mengenai pak supir yang tadi di bawa bersamaan dengan ku.
"Dok, bagaimana keadaan bapak yang tadi?" Tanya Kak Ivan.
"Bapak tadi sudah di bawa oleh keluarganya karena kondisinya sudah membaik." Jawab dokter itu.
Setelah menyelesaikan administrasi, kami bertiga langsung pulang.
Di jalan, aku masih bingung kenapa aku tidak bisa mengingat apapun kejadian hari ini ya?
Tiba-tiba mamah bertanya.
"Neng, hari ini bolos sekolah ya? Guru Eneng SMS mamah, kenapa Eneng nggak masuk." Tanya mamah.
Dan aku lupa memberitahu ini.
Seketika ingatanku langsung pulih dan bisa mengingat semua kejadian itu dari awal sampai akhir.
"Astagfirullah.. Eneng ingat semua mah.. Eneng tau kenapa Eneng bisa pingsan." Aku berusaha untuk tidak menangis.
"Cerita neng," Pinta mamah.
Aku pun menceritakan dari awal aku bertemu dengan Zain yang di pukuli oleh Dendi, sampai Dendi berusaha untuk menusukkan pisau kepadaku.
Aku ketakutan mengingat kejadian itu.
"Mah, Kak.. Aku takut, takut banget." Aku menundukkan kepalaku.
Aku melirik ke arah Kak Ivan, dan ku lihat ekspresi Kak Ivan yang mencoba menahan amarahnya mendengar ceritaku. Wajahnya yang putih bersih menjadi bersemu merah, aku tidak tahu apa yang akan Kak Ivan lakukan setelah mendengar ceritaku.
Kak Ivan hanya diam menatap ke depan dan mengepalkan kedua tangannya..
...****************...
__ADS_1