
Aku melihat ke sekeliling mencari sosok Indra, tapi aku tidak menemukannya. Dan ibu seperti mengerti kebingunganku, ibu memberitahu bahwa Indra sedang keluar.
"Aa lagi keluar teh tadi lewat pintu dapur lagi beli makan dulu. Tadi ibu nggak sempat masak, tukang sayurnya nggak lewat." Ucap ibu.
"Oh iya bu, pantesan saya nggak liat dari tadi. Saya kira diam di kamar." Jawabku.
Aku bingung untuk memulai pembicaraan, jadi mataku memperhatikan foto yang ada di dinding belakang kursi yang saat ini aku duduki. Sepertinya itu foto keluarga, ada foto Ayah, ibu, Indra dan Riri.
Ibu yang melihatku langsung bercerita.
"Itu ayah nya Indra sekarang lagi kerja dan pulangnya setiap 3 bulan sekali,,"
"Teteh teman perempuan pertama yang aa bawa ke rumah loh.. Aa suka ceritain teteh sama ibu."
Senyum ibu membuat aku malu.
Ya ampun Indra, aku malu masa ceritain aku sama ibunya sih..
"2 tahun yang lalu Aa bilang lagi suka sama seseorang, namanya Maria.. Aa sayang banget sama gadis ini. Tapi belum berani ngomong. Dia bilang gitu sama ibu". Cerita ibu.
"Aa nggak pernah bohong sama ibu. Dari dulu kalau ada masalah apapun Aa suka cerita sama ibu."
"Iya saya juga nggak tau kalau ternyata Indra udah lama suka sama saya, saya baru tau kemarin pas main ke Curug Bu."
"Iya. Makanya ibu heran, sudah sangat lama kok nggak pernah di ajak main ke rumah, baru kali ini bawa teteh kesini. Ternyata memang kalian belum pacaran ya." Ibu tertawa kecil.
"Iya Bu." Aku menundukkan kepalaku karena malu.
"Pantes aja sejak kemarin pulang, Aa senyum-senyum sendiri terus. Kalau ibu tanya, jawabnya malah gini, 'Besok ibu juga tau'. Ternyata bawa teteh kesini."
"Kalau Aa udah berani bawa teteh kesini, itu artinya Aa serius sama teteh. Walaupun masih sangat jauh menuju pernikahan, tapi Aa nggak akan mengkhianati teteh. Ibu yakin itu, karena ibu tau sifat Aa kayak gimana."
"iya Bu.. Mamah juga udah sayang sama Indra. Mudah-mudahan aja kami memang berjodoh Bu."
"Aamiin.."
__ADS_1
Ibu Indra sangat enak di ajak ngobrol, hanya saja aku malu jadi seperti masih canggung.
Saat ibu hendak bercerita lagi, ku lihat Indra sudah berada di depan kami.
"Bu, Aa udah beli makanannya."
"Iya A, simpan di meja ya.. Ajak teteh makan dulu!! Teh, makan dulu ya. Ibu ada urusan mau ke rumah pak RT."
"Iya Bu, terima kasih sebelumnya."
"Nggak usah sungkan gitu Teh."
Aku hanya menganggukkan kepalaku.
"Aa, jagain Riri ya. Ibu pergi dulu, Assalamualaikum."
"Iya ibu, waalaikumsalam." Jawab kami berdua.
Sekarang hanya ada aku dan Indra, sedikit gugup berdua dengannya.
"Tapi ibu gimana?"
"Ibu makannya nanti, hayu kita ke dapur."
Aku menurutinya karena memang aku sudah lapar juga. Tadi hanya makan roti coklat aja yang di beliin Indra.
Selesai makan, aku keluar dan duduk di teras rumahnya. Nggak enak nanti tetangga mikir yang macem-macem lagi.
Biasanya kan tetangga mulutnya pedes kayak netizen nggak ada akhlak yang suka berkomentar unfaedah. Dimana-mana pasti ada tetangga yang suka kepo dan kurang kerjaan ngurusin hidup orang lain. Bukan karena peduli tapi lebih ke Iri dengki.
Indra langsung duduk di sampingku, dia menatapku dan bertanya, "Ada yang mau kamu ceritain nggak sama aku?"
"Maksud kamu?" Tanyaku heran.
"Ya cerita tentang kamu, kenapa kamu selalu merasa kurang percaya diri dan selalu merasa kalau kamu ini jelek. Padahal kamu itu cantik loh. Cerita deh sama aku."
__ADS_1
"Kenapa kamu mau tau?" Aku tidak akan serta-merta menceritakan alasan di balik kenapa aku selalu insecure dan tidak pernah percaya diri.
"Aku penasaran ingin tahu apa penyebabnya yang membuat kamu selalu insecure.. Aku nggak mau kamu selalu merendahkan diri kamu sendiri seperti itu. Aku sayang sama kamu, dan aku takut kalau kamu nggak bisa mencintai aku hanya karena kamu selalu menganggap kalau kamu itu nggak pantes buat aku."
"Kamu selalu bilang kalau aku itu ganteng, dan kamu jelek. Kamu selalu merasa kamu nggak pantes punya pacar. Padahal banyak orang yang sayang dan peduli sama kamu."
"Kamu tahu? Kita cuma punya dua tangan, nggak bakal bisa membungkam semua mulut orang-orang yang menceritakan tentang keburukan kita. Aku mau kamu gunakan kedua tangan itu untuk menutup kedua telinga kita sendiri."
Ucapan Indra barusan membuatku sadar, bahwa memang selama ini aku hanya berfokus kepada orang-orang yang selalu menghinaku. Sampai aku lupa bahwa masih ada orang tulus menyayangiku seperti mamah, Indra dan Kia.
Mereka sangat menyayangiku, dan itu sudah cukup bagiku. Tidak perlu menambah beban yang tidak penting!!
Aku mencoba untuk mengumpulkan kekuatan untuk menceritakan ini kepada Indra. Kisah masa laluku yang berdampak pada mental dan kehidupan masa depanku. Sungguh aku terlalu bodoh untuk selalu mengingat setiap kejadian buruk yang menimpaku.
Dan aku selalu memendam ini sendirian.. Tidak ada tempat untuk berbagi, karena perasaanku amatlah sakit saat mengingat semua itu. Mungkin sekarang waktunya aku menceritakan ini kepada Indra. Berbagi suka dan duka dengannya, yang sekarang sudah menjadi bagian dalam hidupku.
"Aku pengen banget cerita sama kamu. Tapi, aku takut kamu akan pergi meninggalkan aku."
"Kenapa kamu berpikir gitu? Dengar sayang, mau kamu cantik atau jelek, kurus atau gemuk, atau apapun yang terjadi sama kamu, aku tetap akan menyayangi kamu." Ucap Indra yang mengusap lembut pipiku.
"Aku belum yakin!! Karena semua sepupuku cantik-cantik. Mungkin kalau kamu bertemu dengan mereka, kamu akan menyukai salah satunya." Ucapku menuduh Indra tanpa bukti. Padahal aku tahu Indra tidak semudah itu untuk mencintai seseorang yang baru di kenalnya.
"Nggak akan sayangku.. Aku berjanji sama kamu. Walaupun ada wanita secantik apapun, aku nggak akan pernah tergoda dan nggak akan pernah menduakan kamu. Percaya sama aku, dan aku bisa buktikan itu sama kamu." Indra mengangkat jari kelingkingnya.
Reflek aku pun mengangkat jari kelingkingku dan melingkarkan jariku dengan jarinya. "Janji?" Tanyaku kepadanya, untuk lebih meyakinkan aku bercerita kepadanya.
"Janji sayangku..." Indra tersenyum dan menunggu aku untuk mau terbuka dengannya masalah apapun.
"Aku akan mencoba untuk mempercayai apa yang kamu katakan Dra. Masih mau dengerin cerita aku?
"Makasih kamu udah mau mencoba untuk percaya sama aku. Dan aku mau tau semuanya tentang kamu."
"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya tentang aku sama kamu."
...****************...
__ADS_1