INSECURE, Cinta Masa Lalu

INSECURE, Cinta Masa Lalu
Penculikan


__ADS_3

Sebulan kemudian..


Alhamdulillah, akhirnya aku sudah lulus ujian dan sudah mendapatkan surat keterangan lulus dari sekolah. Aku berencana daftar kuliah di ITB.


Sejak kejadian Dendi kemarin, aku kemana-mana selalu bersama Daffa. Aku takut Dendi akan mencelakakan aku lagi. Dan hari ini kebetulan Daffa dan Zain juga mau daftar kuliah di ITB. Aku senang sekali karena dua sahabatku kuliah di tempat yang sama bersamaku.


Dendi dan Zain sedang fotocopy berkas-berkas untuk pendaftaran. Saat aku menunggu Daffa dan Zain di depan gerbang masuk, tiba-tiba seorang laki-laki menarik tanganku dengan paksa. Dia memaksa ku untuk menaiki mobil yang ada di seberang sana. Aku tidak tahu siapa orang itu, badannya tinggi besar, kulitnya hitam dan wajahnya nampak sangar.


"Diem atau nyawa Lu ga ada artinya." Dia mencengkeram lenganku dan aku sangat ketakutan. Aku tidak bisa melawannya karena postur tubuhku yang sangat jauh dengannya.


Aku menurutinya, aku naik ke mobil itu. Air mata membasahi pipiku dan aku tidak bisa menghubungi siapapun untuk minta tolong. Ponselku di ambil olehnya dan aku tidak bisa mencegahnya.


"Mana flashdisk nya?" Tanya pria sangar itu.


"Flashdisk apa? Aku nggak ngerti." Jawabku gemetaran.


"Serahkan atau gue akan kasih lu pelajaran!!" Dia menggeledah tas ku. Dia tidak menemukan flashdisk itu.


Karena sebenarnya flashdisk itu sudah aku serahkan ke Cantika sebagai bukti menuntut Dendi. karena di flashdisk itu pula terdapat data orang-orang yang tergabung dalam sindikat transaksi ilegal yang sudah menjadi buronan polisi.


"Bos, kita bawa dia kemana?" Tanya pria yang sedang mengemudikan mobilnya.


"Ke tempat biasa." Jawab pria yang ada di sebelahku ini. Dia terus saja menatapku dengan tatapan tajamnya. Aku hanya menundukkan kepalaku. Aku takut sangat takut.


Aku mencoba untuk mengambil ponselku ketika dia sedang menelpon seseorang, tapi tidak bisa. Sama sekali tidak ada celah untuk aku kabur atau meminta tolong kepada siapapun.


Setelah satu jam, aku sampai di tempat yang entah dimana itu. Aku di suruh turun di sebuah gedung tua peninggalan belanda, sensasi nya sangat menyeramkan. Aku sampai merinding saat turun dari mobil melihat ke arah gedung itu.


Tanganku terus di cengkeram oleh pria sangar itu.

__ADS_1


"Jalan. Jangan berteriak atau melakukan suatu hal yang bikin nyawa Lo terancam.. Ngerti?" Dengan ekspresi yang sangat menyeramkan seperti hantu.


Aku hanya mengikuti perintahnya dan tidak menjawab ancamannya itu.


Sampai di dalam, hawa nya terasa sangat dingin sekali. Ada beberapa kursi di tempat itu dan aku di ikat di salah satu kursi tersebut dengan tali yang ikatannya sangat kuat. Aku mencoba berontak tapi badanku yang mungil malah terpental.


Aku berusaha untuk lari tapi dua pria tadi sangatlah kuat. Dia menarik kaki ku dan aku terjatuh.. Aku di gendong paksa olehnya dan di duduki lagi di kursi itu. Aku terikat sangat kuat, kuat sekali sampai dadaku terasa sangat sesak. Aku tidak bisa bergerak sedikit pun, bahkan untuk menoleh saja leherku sangat sakit.


Tidak lama kemudian Dendi membawa cantika dalam keadaan pingsan, aku terkejut.


"Cantika?" Ucapku.


Dendi tidak menghiraukan ucapanku. Dia malah mengikat Cantika di kursi persis seperti yang aku alami ini.


"Dendi..Lepasin Cantika. Dia itu lagi hamil, apa kamu sudah tidak punya hati nurani?" Aku berteriak kepadanya.


"Hati nurani Lo bilang? Lo tau apa tentang gue sama dia? Hah? Justru hati nurani gue udah di rusak sama orang ini." Jawab Dendi.


"Mar, kita dimana ini? Kenapa kita di ikat gini?" Tanya Cantika keheranan.


"emm, emm," Aku tidak bisa menjawabnya karena mulutku di bungkam oleh kain.


Aku berusaha membuka nya dengan menggerakkan wajahku dan menggigit kainnya ke sana sini. Akhirnya setelah perjuangan yang begitu panjang, kain itu terlepas juga dan sekarang tersangkut di leherku.


"Tika, Dendi yang udah sekap kita, dia cari flashdisk itu." Ucap ku setengah berbisik ke arah Cantika takut ada yang mendengarnya.


"Hah? Gawat dong Mar, gimana kalau sampe mereka nemuin flashdisk itu?" Bisik Tika ketakutan.


"Emang kamu simpan di mana flashdisk nya?" Tanyaku

__ADS_1


"Aku kasih ke kak Kevin, dia yang akan urus semua sama pengacara nya biar semua kejahatannya terbongkar dan tidak bisa mengelak lagi." Jawab Tika.


"Tapi Tika, gimana dengan kita? Nyawa kita lagi terancam, kamu lagi hamil dan kita harus minta tolong sama siapa?" Aku sangat khawatir dan tidak berpikir sama sekali selain hanya ketakutan yang ku rasakan.


Tidak lama kemudian Dendi datang. Aku dan Cantika pura-pura pingsan agar dia tidak curiga kalau aku sudah berhasil membuka kain yang membungkam mulutku.


"Bos, gimana ni kita nggak nemuin flashdisk itu dimana pun." Ucap Dendi yang berbicara kepada pria sangar tadi. Aku membuka mataku sedikit untuk melihat keadaan sekitar. Untung saja fokus Dendi ke arah lain, bukan ke arahku atau Cantika.


"Kita nggak nemu petunjuk sedikit pun dari dua orang ini. Gimana kita mau melangkah kalau dia aja jawabnya hanya gak tau." Jawab pria sangar itu.


"Terus, buat apa kita sekap mereka kayak gini Bos?" Tanya Dendi.


"Lu b*g* atau O*n Sih Den? Otak lu ada dimana? Ya kita sekap mereka biar ngaku dan ngomong jujur dimana flashdisk itu." Bentak pria sangar.


"Tapi ini udah malem, mereka tetap tidak memberikan petunjuk. Harus gimana kita?" Tanya Dendi lagi.


"Oke, kalau mereka tetep nggak mau ngaku. Kita culik satu persatu orang yang dekat sama mereka, terutama orang yang paling mereka sayangi. Dengan begitu mereka bakalan ngaku kan?" Jawab bos sangar.


"Betul juga.." Jawab Dendi.


Mereka terus mengawasi kami berdua yang sedang pura-pura pingsan.


Hari sudah sangat gelap, ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 22.30 malam. Aku dan Tika tidak bisa memejamkan mata. Kami berdua tidak bicara sepatah katapun karena ada yang mengawasi kami.


Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang, aku takut sekali mereka akan mencelakakan Kak Ivan, aku takut mereka mencelakakan teman-teman yang sangat aku sayangi. Apalagi mamah, aku takut mamah juga terseret dalam masalah ini.


Aku merenungi nasibku yang seperti ini. Kenapa Tika harus terlibat dengan pria brengs*k seperti Dendi? Dan pada akhirnya melibatkan semua orang dalam masalahnya. Melibatkan orang-orang yang tidak tahu apa-apa. Tapi aku pun tidak bisa menyalahkan Tika, karena di sini dia pun korban yang paling menderita.


Ya walaupun tadi Dendi bilang ini gara-gara Tika, tapi tidak sampai harus seperti ini kan? Dan aku pun tidak tahu bagaimana sikap Tika sebenarnya kepada Dendi, sampai Dendi sebegitu bencinya kepada Tika dan seolah-olah ingin balas dendam.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2