
Sepulang sekolah kami menunggu Irwan di depan kelasnya. Untung hari itu semua siswa pulang lebih awal, jadi masih ada waktu buat cari tau alamat Kia. Tidak lama kemudian Irwan keluar dan langsung mengajak kami naik angkot.
Sampai di rumah Irwan, kami menjelaskan maksud kedatangan kami dan langsung bertanya kepada ibunya Irwan dimana alamat nenek Kia. Setelah dapat alamatnya kami langsung meluncur ke TKP.
Lumayan jauh dari rumah Irwan, kami harus naik 2x angkot. Aku tanya pada orang-orang alamat yang ada di kertas tapi tak ada satu pun yang tau.
Ku lihat jam di ponselku, waktu sudah menunjukkan pukul setengah tiga. Kalau begini caranya bakalan gatot untuk bisa sampai ke sana.
Dulu belum ada smartphone sih, jadi tidak bisa cari di google map. Kalau ada kan enak tinggal search aja.
Dari kejauhan aku melihat seseorang yang aku kenal.
Eh, itu kan Bu Reni.. Aku ga salah liat kan? Wajahnya kok beda kalau lagi ga pakai jilbab.
Ku coba beritahu Indra, "Dra, sini deh. Itu Bu Reni kan? Kok ada di sini? Apa rumah Bu Reni di sini ya?" Aku menarik lengan Indra.
"Kayaknya iya. Kita ke sana aja yuk, kali aja Bu Reni tau alamat ini." Ajak Indra.
Kami langsung menghampiri Bu Reni yang sedang duduk di depan rumah itu.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Bu Reni kan?"
" Waalaikumsalam, iya betul. Kamu Maria dan Indra kan? Kenapa bisa ada di sini?"
"Kami sedang mencari alamat ini Bu."
Ku ambil kertas alamat itu di saku bajuku dan di serahkan kepada Bu Reni.
Bu Reni yang melihat alamat itu mengatakan bahwa dia tau alamat itu. "Loh, ini kan alamat neneknya Kia. Kenapa kalian mencari alamat ini?"
Aku menjelaskan kepada Bu Reni kenapa kita sibuk mencari alamat itu, mulai dari kejadian Kia yang di usir ayahnya sampai tidak masuk sekolah selama 2 hari. "Saya juga tau dari tetangganya Kia Bu kalau mereka pergi ke rumah neneknya."
"Terima kasih banyak Bu atas bantuannya. Oh iya ibu tadi kenapa tidak masuk?"
"Oh.. Tadi ibu ada urusan keluarga yang mendadak makanya izin ga masuk. Sekarang aja yuk berangkatnya nanti keburu sore."
Kami pun naik ojeg menuju alamat itu. Selang 10 menit kami sudah sampai di sebuah rumah yang sangat sederhana.
Kami bertemu dengan nenek, ibu dan Kia. Ternyata Bu Reni adalah teman masa kecilnya ibu.
__ADS_1
Aku langsung memeluk Kia dan kami langsung menangis bersama-sama. Belum bisa berkata apa-apa, Indra hanya melihat kami berdua yang sedang menangis sesenggukan.
Bu Reni terlihat sedang berbicara serius dengan ibunya Kia di dalam, sedangkan kami masih di luar. Indra menggenggam tanganku dan melihat ke arah kami.
Setelah di rasa tenang aku bertanya pada Kia apa yang sebenarnya terjadi ? Kenapa ponselnya tidak bisa di hubungi.
"Kenapa nomer kamu nggak aktif terus? Aku terus coba menghubungi kamu tapi nggak bisa-bisa.. Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu?"
"Maaf Mar, ponsel ku rusak di banting bapak. Jadi aku nggak bisa hubungin kamu lagi. Kamu sudah jadian sama Indra?" Tanya Kia yang melihat ke arah kami berdua yang sudah tidak ada jarak lagi.
"Iya, kami sudah jadian ya, aku mau cerita sama kamu, tapi tiba-tiba kamu hilang gitu aja."
"Selamat ya, akhirnya cinta Indra terbalaskan juga, tidak bertepuk sebelah tangan lagi. Aku doain semoga kalian langgeng ya."
"Amiiin. Insyaallah." Jawab kami berdua.
Kia mulai bercerita kejadian hari itu, hingga akhirnya memutuskan untuk pergi ke desa neneknya ketika bapak mengusir mereka semua.
...****************...
__ADS_1