INSECURE, Cinta Masa Lalu

INSECURE, Cinta Masa Lalu
Bertemu Sandra


__ADS_3

"Sayang bangun.. Udah sampai" Suara Kak Ivan membangunkan ku yang tertidur di bahunya.


"Emhh maaf Kak, aku ketiduran.. Kakak pegel ya bahunya.?? Maaf." Aku menyentuh bahu Kak Ivan dan meminta maaf..


"Nggak apa-apa sayang.. Aku seneng kamu bisa nyaman tidur di sampingku, ayo kita turun.. Aldi udah nunggu di depan pintu masuk." Ajak Kak Ivan yang sudah menarik tanganku untuk turun.


Kami berdua mencari Kak Aldi yang ternyata tidak ada di depan pintu. Dari tadi Kak Ivan telepon tapi tidak di angkat-angkat. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggunya di tempat Abang baso karena aku sudah lapar. Sekalian Kak Ivan mau telpon minta izin sama mamah bawa aku jalan dan mamah tidak marah sama Kak Ivan.


Mamah sudah sangat percaya sama Kak Ivan, kalau Kak Ivan bisa menjagaku dengan baik. Mamah yakin Kak Ivan akan mencintai dan menyayangiku dengan tulus sama seperti Indra.


Aku dan Kak Ivan pun makan baso dulu sambil menunggu Kak Aldi yang sekarang entah ada dimana. Cukup lama kami menunggu, mungkin sekitar 30 menitan. Akhirnya Kak Aldi datang dan mengomel sendiri..


"Lama banget.. Kemana Lu? Dari tadi gue sama Maria nyariin Lu!!" Ucap Kak Ivan yang sudah selesai makan baso nya. Sedangkan aku masih tersisa sedikit.


"Kak Aldi mau makan dulu nggak?" Tanyaku padanya.


"Oh nggak Mar.. Makasih.. Perut aku sakit banget nih, mules-mules.." Jawab Kak Aldi sambil meringis kesakitan menahan perutnya.


"Jadi tadi Lu ke toilet?" Tanya Kak Ivan.


"Iya, makanya telpon dari Lu nggak gue angkat. Lagi boker gue tadi..!!" Jawabnya..


Aku mengambil minyak kayu putih di dalam tas. Aku selalu membawanya kemana pun karena aku selalu mual saat bepergian, dan minyak kayu putih adalah andalanku.


"Ini Kak, usapin ke perut ya.. Biar agak mendingan." Aku memberikan minyak kayu putih ke tangan Kak Aldi.


Kak Aldi cuma bengong aja dan menjawab saat Kak Ivan mengejutkannya.


"Woii..!! Pake cepetan. Terus kita langsung ke ruang ibu.."


"Oh oke oke, bentar.."

__ADS_1


Aku sudah beres makan baso dan menunggu Kak Aldi membalurkan minyak itu ke perutnya. Setelah selesai semua kami bertiga langsung menuju ruang rawat ibunya Kak Aldi.


Cukup capek aku berjalan menaiki anak tangga satu demi satu karena liftnya yang sedang dalam perbaikan sedangkan ruangan ibunya ada di lantai tiga.


"Kamu capek ya naek tangga gini? Aku gendong ya.." Ucap Kak Ivan.


"Ehemmm...." Kak Aldi mendelik ke arah Kak Ivan membuatku menjadi tidak enak kepadanya.


"Engga usah Kak, makasih.." Jawabku, menolak tawarannya.


Beberapa saat kemudian kami pun sampai di ruang kelas 1. Aku melihat keadaan ibunya Kak Aldi, kondisinya seperti sedikit membaik tapi tubuhnya terlihat kurus kering. Aku tersenyum dan hendak salam kepada ibunya.


Ibunya Kak Aldi sangat ramah.. Dia baik dan welcome dengan kedatanganku.. Katanya dia sakit diabetes dan kemarin tiba-tiba gula darahnya naik dan harus segera di rawat. Aku ikut prihatin dengan keadaan ibunya Kak Aldi.


Tidak terasa waktu sudah hampir Maghrib, Kak Aldi sedang mengurus administrasi agar ibunya bisa pulang. Sedangkan aku dan Kak Ivan yang menunggui ibunya. Saat suster akan memeriksa terakhir kondisi ibunya Kak Aldi, kami berdua terkejut bukan main karena ternyata suster itu adalah temannya Kak Kayla.


"Ivan, Maria, kok kalian ada di sini?" Tanya suster itu yang ternyata adalah Kak Sandra.


"Iya, sekarang aku lagi magang di rumah sakit ini Van. Baru 4 bulan yang lalu." Ucap Kak Sandra sambil memeriksa keadaan ibunya Kak Aldi.


"Semua normal Bu, kalau kondisi ibu stabil terus kayak gini kemungkinan besar dokter akan mengizinkan ibu pulang hari ini. Dokternya visit pukul 7 malam nanti." Ucap Kak Sandra sambil tersenyum kepada ibunya Kak Aldi.


"Terima kasih suster." Jawab ibunya Kak Aldi.


Kak Sandra tersenyum kepada ibu dan dia menoleh ke arah kami berdua.


"Van, Mar, bisa kita bicara sebentar.?" Tanya Kak Sandra. Kami berdua mengangguk dan mengikuti Kak Sandra di ruang tunggu pasien.


Sampai di ruang tunggu, Kak Ivan bertanya kepada Kak Sandra mengenai Kak Kayla.


"San, sekarang Kayla tinggal dimana.?" Tanya Kak Ivan tanpa basa basi.

__ADS_1


"Itu yang mau aku omongin sama kalian kalau Kayla udah nggak ada.."


"Hah!!" Kami berdua terkejut dengan ucapan Kak Sandra barusan.


"Maksud Kak Sandra apa?" Tanyaku. Sedangkan Kak Ivan hanya bengong saja.


"Kayla udah nggak ada.. Dia bunuh diri." Jelas Kak Sandra dengan raut wajah sedih.


"Apa? Kenapa dia melakukan itu?" Tanya Kak Ivan.. Ya aku pun sama terkejutnya.


"Aku yakin kalian udah tau mengenai Indra. Itulah yang menyebabkannya bunuh diri. Dia selalu curhat sama aku kalau dia udah nggak tahan lagi mengalami EHS, dia jadi seperti orang nggak waras yang suka berteriak-teriak memanggil nama Indra."


"Katanya dia selalu melihat bayangan kejadian saat itu, dia selalu melihat Indra mengikutinya kemana pun dia pergi. Sampai akhirnya dia tidak melanjutkan kuliahnya. Dan sekarang ibunya sudah ada di Indonesia lagi. Beliau minta kontak kamu dan juga Maria."


"Ibu mau minta maaf kepada kalian, terutama kepada Indra dan keluarganya. Aku sudah mengatakan bahwa Indra tidak selamat karena kecelakaan itu. Dan ibunya sangat terpukul mendengar ku mengatakan itu." Penjelasan Kak Sandra.


Aku menangis di depan Kak Ivan dan Kak Sandra. Kehadiran Kak Sandra seperti membuka kenangan buruk tentang Indra. Aku sudah mencoba untuk mengikhlaskannya, tapi hati ini terasa sangat sakit, sakit sekali saat aku melihat dengan mata ku sendiri saat Indra mendorongku dan mengorbankan dirinya demi aku.


Aku sakit saat aku melihat darah yang mengalir di kepalanya yang membasahi wajah tampan itu. Aku sakit melihat matanya yang terpejam dan tidak lagi menatapku dengan tatapan yang lembut. Aku sakit saat aku berdoa kepada Allah untuk menyelamatkan Indra, tapi Allah tidak mengabulkan doaku.


Hatiku terluka mengingat memori saat aku menunggunya di rumah sakit, saat aku memimpikannya, saat aku..... Berciuman dengan penuh kasih sayang di alam mimpi. Aku tidak terima Kak Kayla begitu jahatnya kepadaku, tapi aku juga tidak bisa menyalahkan ibunya atas kejadian ini. Karena aku yakin ibunya tidak mengetahui perbuatan yang di lakukan oleh Kak Kayla.


Kak Ivan melihatku yang sedang menangis memelukku di depan Kak Sandra. Sebenarnya aku tidak mau menangis depan Kak Ivan mengenai masalah ini. Aku takut Kak Ivan marah dan mengira kalau aku tidak mencintainya. Tapi hatiku terlalu sakit mengingat semuanya, luka yang masih basah ini seperti di siram air garam saat Kak Sandra mengingatkannya kembali.


"Sayang, jangan nangis lagi." Ucap Kak Ivan yang mengusap rambutku lembut dan membenamkan kepalaku di dadanya. Aku mendongakkan kepalaku dan menatap mata Kak Ivan, dia menghapus air mataku dan berkata,


"Ada aku di sini sayang.. Udah ya, jangan nangis lagi." Ucap Kak Ivan.


Sedangkan Kak Sandra yang melihat kami berdua terheran-heran dengan sikap Kak Ivan yang sangat lembut kepadaku. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Kak Sandra saat ini yang melihat perubahan sikap Kak Ivan yang sangat signifikan.


Aku yakin Kak Sandra terkejut dengan perlakuan Kak Ivan kepadaku. Wajah Kak Sandra mengekspresikan bahwa dia tidak menyangka kalau Kak Ivan akan bersikap lembut seperti itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2