
Seminggu berlalu...
Setelah pertemuan itu, aku dan Kak Ivan menjadi lega karena semua sudah terbongkar dan tidak ada yang di tutupi lagi. Aku senang karena semua berjalan dengan baik dan tidak ada masalah besar yang selalu ku takutkan terjadi.
Di rumah, aku merasa kesepian setelah kepergian Kak Tiara dan Cantika. Dan aku tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Ingin sekali aku ke sana menemui Cantika dan menanyakan bagaimana kabarnya, tapi mamah belum mengizinkan aku untuk ke sana. Mamah masih sibuk dengan tokonya yang tidak bisa di tinggal.
Hari ini tanggal merah dan aku sangat bete sekali. Aku telpon Kak Ivan untuk datang ke rumahku, aku butuh teman ngobrol.
Selang 30 menit Kak Ivan sudah sampai di depan rumahku, Kami duduk di teras dan aku mengatakan padanya kalau aku ingin menemui Cantika di desa nenek. Kak Ivan mau saja mengantarku tapi masalahnya aku lupa jalan menuju ke sana.
Tring..
Ponselku berbunyi dan ku lihat ada satu pesan dari Cantika.
'Mar, bisa tolong aku? Aku butuh bantuan kamu.. Bisa nggak kamu ke rumah Kak Tiara alamatnya xxxxxx.'
Aku membaca pesan itu dan langsung menelpon Cantika.
"Halo assalamualaikum Tika."
"Waaalaikumsalam.. Mar, bisa nggak sekarang juga kamu kesini.. Aku nggak tahu harus minta tolong sama siapa lagi."
"Iya, tapi ada apa sebenarnya?"
"Aku nggak bisa jelasin sekarang Mar, aku akan jelasin setelah kita ketemu ya.. Aku sekarang diam di rumah Kak Tiara, dia udah baikan sama suaminya.."
"Oh, oke Tika.. alamatnya bener yang itu? Aku minta izin sama mamah dulu ya.."
"Iya Mar.. aku tunggu ya.."
Aku menutup sambungan telponnya dan mengatakan hal ini kepada Kak Ivan. Awalnya Kak Ivan malas untuk membantu Tika, tapi aku tidak tega kepada Tika dan penasaran juga apa yang sebenarnya terjadi.
Akhirnya Kak Ivan setuju untuk mengantarku menemui Tika di rumah Kak Tiara.
Kami berdua pamit kepada mamah dan segera meluncur ke TKP. Alamat yang di kasih oleh Tika merupakan perumahan elit kalangan atas, dan tentu saja Kak Ivan tahu tempatnya.
Tidak sulit menemukan alamat itu karena Kak Ivan sudah tahu jalannya. Satu jam kemudian kami sampai di alamat yang di tuju. Aku menelpon Tika dan menanyakan dimana rumahnya.
__ADS_1
Aku melihat ke kiri dan kanan untuk melihat keberadaan Tika. Tidak lama kemudian Tika keluar dari rumah yang paling bagus di antara rumah yang lain. Dia melambaikan tangan sambil memanggil namaku..
"Maria.. Sini.." Panggil Tika.
Aku dan Kak Ivan menghampirinya dan langsung di suruh masuk oleh Tika. Tika menarik tanganku agar masuk ke kamarnya, sedangkan Kak Ivan bingung harus bagaimana.
"Tika, Kak Ivan gimana?" Tanyaku pada Tika.
"Ajak aja.. kita kan bertiga di kamarku." Jawab Tika.
"Kak Tiara kemana?" Tanyaku.
"Lagi keluar sama Kak Kelvin." Jawabnya sambil menarik lenganku.
Kami bertiga masuk ke kamar Tika. Di situ dia memulai ceritanya mengenai kehamilannya itu.
"Mar, aku dan Kak Tiara belum menceritakan ini pada ibu. Aku takut ibu akan syok mendengar kabar ini." Ucap Tika.
"Lalu bagaimana dengan Dendi? Apa dia mau tanggung jawab?" Tanyaku.
"Dia tidak mau bertanggung jawab Mar.. Makanya itu aku minta tolong sama kamu, aku benar-benar butuh bantuan kamu." Jawab Tika mengiba.
"Kita harus bisa menemukan video itu yang di simpan di flashdisk Dendi. Kamu kan kenal sama Kak Sandra, bisa kan kamu tolongin aku dengan pura-pura bertamu ke sana dan diam-diam ke kamarnya Dendi?" Jelas Tika.
Aku bingung, aku melirik Kak Ivan yang ada di sampingku.
Tapi sepertinya Kak Ivan juga bingung harus bagaimana.
"Tapi Tika aku bingung harus bagaimana." Jawabku.
"Kalau aku tidak bisa menemukan video itu, Dendi akan terus lari dari tanggung jawab dan mengancam ku untuk menggugurkan bayi ini." Ucap Tika sambil menundukkan kepalanya.
"Ya sudah aku mau bantu kamu.. Tapi sepertinya kamu harus bersabar dulu ya.. Aku butuh waktu, mungkin setelah ujian nasional baru aku bisa ke rumah Kak Sandra." Jawabku.
"Iya Mar.. Aku juga tidak menyuruhmu untuk melakukannya dalam waktu dekat ini. Sebelumnya makasih banyak ya kamu udah setuju dengan ide ku. Aku nggak tahu harus minta tolong sama siapa lagi." Ucap Tika.
"Iya Tika, kamu itu kan sepupu aku, pasti aku bakalan nolong kamu. Tapi untuk saat ini, aku harus fokus menghadapi ujian nasional.. Setelah itu baru kita pikirkan jalan keluar masalah kamu."
__ADS_1
Tika memelukku dan mengucapkan terima kasih.
Aku tidak tega membiarkan Tika menghadapi masalahnya sendiri, dia sepupuku yang sangat baik.
Aku pun bertanya Masalah Kak Tiara padanya, dan syukur Alhamdulillah suami Kak Tiara sudah menyadari kesalahannya dan berjanji akan merubah sikap buruknya pada Kak Tiara, aku ikut bahagia.
Aku dan Kak Ivan pamit untuk pulang karena dari tadi mamah terus menelpon untuk segera pulang, entah ada apa mamah tidak biasanya seperti itu.
Kami pun pulang dan aku berjanji akan membantu Tika menghadapi masalahnya. Dia terlihat sangat senang mendengarnya, berkali-kali dia mengucapkan terima kasih padaku.
Aku naik motor bersama Kak Ivan, di jalan aku melihat seseorang mirip Dendi sedang berkumpul dengan teman-temannya. Dia tidak menyadari kalau aku melihatnya di motor. Tapi kenapa teman-temannya terlihat seperti preman dan juga usianya lebih tua dari Dendi.
Aku menepuk pundak Kak Ivan untuk berhenti di sebuah warung pinggir jalan dan pura-pura membeli minuman.. Aku ingin memastikan apa itu benar Dendi atau bukan, soalnya mataku kan sedikit bermasalah alias rabun jauh.
"Kak, itu bener Dendi bukan sih?" Tanyaku pada Kak Ivan yang sedang minum Aqua. Aku tidak menoleh sedikitpun ke arahnya, aku fokus melihat Dendi yang ada di depan sana.
Kak Ivan pun memperhatikan dengan seksama karena jarak kami yang lumayan agak jauh dari tempat Dendi.
"Iya sayang, itu emang Dendi.. Tapi kenapa dia kumpul sama preman-preman itu ya?" Gumam Kak Ivan.
"Makanya itu aku nyuruh Kakak berhenti di sini, aku heran sama Dendi, kok dia bergaulnya dengan orang yang lebih dewasa, apalagi itu terlihat seperti berandalan. Aku takut liatnya." Ucapku sambil menyembunyikan tubuhku di belakang tubuh Kak Ivan yang tinggi.
"Kayaknya ada yang nggak beres nih.. Aku harus cari tahu tentang Dendi, dan sepertinya Sandra nggak tahu kalau kelakuan adiknya seperti ini." Jawab Kak Ivan.
"Tapi kakak harus hati-hati.. Ini preman loh Kak, kayaknya mereka bahaya. Lihat wajahnya aja pada beringas gitu. Belum lagi tato dimana-mana, jumlah mereka ada 5 Kak.. banyak." Ucapku.
"Aku akan meminta bantuan Daffa dan Aldi untuk menyelidiki si Dendi ini. Aku juga penasaran, apa yang dilakukan dia sama preman itu." Jawab Kak Ivan.
"Kak.. liat deh, kok Dendi celingak-celinguk gitu di kasih plastik kecil sama preman itu. Apa ya isinya? Jangan-jangan itu.." Aku menutup mulutku, terkejut dengan dugaan ku sendiri.
Kak Ivan melihat ke arah Dendi yang menyembunyikan plastik kecil khusus tempat obat itu di kantong celananya. Dia masih tidak menyadari bahwa kami memperhatikan semua sikapnya dari jauh.
Mereka pun bubar dengan menaiki motor masing-masing yang knalpotnya bising. Sungguh mengganggu pendengaran setiap orang yang mendengarnya.
Begitupun dengan Dendi, dia sudah pergi dan tempat itu sudah kosong tidak ada orang.
Aku dan Kak Ivan melanjutkan perjalanan dengan perasaan yang tidak menentu. Kami berdua terhanyut dalam pikiran masing-masing mengenai Dendi. Dan sepertinya memang harus di selidiki dengan sikapnya yang mencurigakan itu.
__ADS_1
...****************...