INSECURE, Cinta Masa Lalu

INSECURE, Cinta Masa Lalu
Cinta Dalam Hati


__ADS_3

* POV Indra


Aku menarik tangan Maria untuk mengajaknya ke kelas. Di kelas terlihat sepi sekali, mungkin teman-teman sedang istirahat. Biasanya kalau ulangan di jam pertama itu langsung jam istirahat jadi bisa refresh otak yang sudah panas kebanyakan mikir pas ulangan.


Aku duduk di samping Maria. Kami saling diam dan tak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut kami berdua, hening.


Aku suka sama Maria, bukan hanya sekedar suka tapi aku benar-benar menyayanginya. Tapi sepertinya dia tidak menyadari semua perlakuanku kepadanya.


Entah apa yang selalu ada di pikirannya, dia selalu menganggap pernyataan cintaku itu hanya sebuah candaan. Entah bagaimana aku bisa meyakinkannya bahwa aku benar-benar mencintainya.


Maria memang pintar, semua pelajaran selalu mendapatkan nilai yang hampir sempurna. Tidak pernah ada pelajaran yang di remedial, tapi dia selalu insecure. Selalu merasa wanita paling jelek di dunia. Tapi bagiku dia wanita paling cantik di dunia ini dan aku sangat menyayanginya.


Meyakinkan Maria untuk selalu menerima apa adanya sangat sulit sekali. Aku sudah dekat dengannya selama 2 tahun. Dan selama itu pula aku berjuang meyakinkan Maria untuk bisa percaya diri. Aku selalu memperhatikan setiap sikapnya.


Aku merasa seperti ada trauma masa lalu yang membuatnya minder dan tidak percaya diri. Entah apa itu, dia tidak pernah menceritakan apapun kepadaku. Dan aku pun tidak pernah menyinggungnya untuk menceritakan apa yang terjadi padanya karena aku merasa tidak punya hak untuk mencari tahu penyebabnya.


Walaupun aku juga penasaran apa yang sebenarnya terjadi kepada Maria yang membuatnya selalu merasa menjadi wanita paling jelek. Tapi ku pikir aku harus mencari waktu yang tepat untuk bertanya tentang hal ini, karena ini masalah sensitif untuknya.


Aku ingin menyatakan rasa sayang ini kepadanya sekarang, tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk itu. Sudah sejak lama aku menyukainya bahkan dari pertama aku sekelas dengannya aku selalu memperhatikannya. Tapi Maria tidak pernah merespon sikap ku yang abnormal Karena cinta ini.


Dua tahun aku memendam perasaan ini tidak ada wanita seperti Maria. Di kelas 9 ini aku sekelas lagi dengannya, ya 3 tahun aku sekelas dengannya. Aku senang sekali dan aku selalu nyaman berada di dekat Maria. Dia orangnya baik, supel, dan tidak pernah pelit apapun itu.


Di kelas ini dia mulai merespon sikap ku. Aku semakin dekat dengannya, sedikit banyak aku mulai tau sifat dari Maria. Mulai mengerti bagaimana cara mengatasinya saat dia sedang marah, sedih, dan galau. Aku sudah sedikit demi sedikit tau dan tanpa aku sadari, aku bisa merasakan apa yang dia rasakan walaupun dia tidak mengatakan apapun padaku.


Saat dia sedang marah atau kesal, aku tidak boleh bicara padanya dulu. Biarkan dia tenang dan setelah itu bicara lah baik-baik dengannya. Bicara dengan lembut dan tenangkan dia. Walaupun emosinya labil tapi kalau Maria marah tidak pernah lama. Beberapa jam kemudian dia sudah lupa dan kembali bersikap seperti biasa.

__ADS_1


Itulah yang membuatnya unik, dia bukanlah orang yang pendendam. Sekalipun ada yang menyakitinya dengan mudah dia memaafkannya. Walaupun dia selalu mengomel sebelumnya tapi itu hanya di mulutnya saja. Hatinya sangat baik dan dia tidak pernah sombong karena kepintarannya.


Saat dia sedang sedih, aku harus selalu ada di sampingnya, mendengarkan semua keluhannya dan ocehannya yang kadang membuatku ingin tertawa karena ekspresinya yang berlebihan itu. Aku selalu mengusap rambutnya saat dia sedang bersedih dan aku juga selalu memeluknya saat dia sedang menangis. Aku ingin dia selalu merasa nyaman berada di dekatku.


Aku siap menjadi sandarannya setiap saat. Menjadi orang yang selalu di cari saat dia merasa sedih dan kesepian. Meskipun aku hanya sahabatnya tapi aku sangat bahagia sudah bisa dekat dengannya selama hampir satu tahun ini. Karena dari kelas 1 aku sudah mengharapkan untuk bisa dekatnya. Tapi baru bisa dekat dengannya saat kelas 2 semester 2.


Aku tidak tahu apa Maria bisa merasakan cinta dan perhatianku padanya atau tidak. Karena selama ini dia menganggap status kami hanyalah sebagai sahabat saja.


Aku terus memandangi wajah Maria. Jujur, Maria memang nggak cantik-cantik amat. Tapi wajahnya sangat imut yang semakin di lihat semakin manis dan tidak membosankan. Yang tadinya tidak suka setelah terus melihatnya pasti langsung suka apalagi kepribadiannya yang sangat baik.


Maria selalu berkata kalau dia jelek. Padahal tidak sama sekali, wajahnya bisa di bilang di atas standar. Hanya saja tubuhnya memang mungil, jadi kalau aku memeluknya hanya sebatas dada dan aku merasa bahagia kalau aku bisa membuatnya tersenyum. Karena senyumannya itu membuatku semakin menyukainya.


Maria sadar saat aku terus memandanginya dan dia terlihat gugup. Aku suka, hehe.


"Kamu kenapa liatin aku terus kayak gitu? Aku jelek banget ya?" Tanya Maria dengan ekspresi yang datar. Manis sekali aku melihatnya.


"Masa? Nggak mungkin.!! Aku kan jelek sedangkan kamu ganteng banget kayak artis korea." Maria memalingkan wajahnya dariku. Dan aku tau dia merasa tidak percaya diri untuk melihatku.


"Serius!! Nggak ada yang nggak mungkin kalau Allah sudah berkehendak, iya kan?"


"Iya sih.. Aku juga seneng kamu selalu ada buat aku." Ucapan Maria barusan membuatku merasa sangat berarti untuknya.


"Aku akan selalu ada buat kamu apapun yang terjadi." Aku melihatnya sedikit terkejut dengan jawaban yang aku berikan barusan.


"Hah?"

__ADS_1


Dan seketika suasana menjadi hening kembali.


Krik, Krik, Krik,.


"Nanti hari minggu kamu jemput aku pake apa?" Tanya Maria memecah keheningan.


"Pake motor lah masa jalan kaki. Kalau mobil, aku kan nggak punya."


"Tapi kamu nggak pernah bawa motor ke sekolah." Tanyanya heran.


"Nggak boleh sama ibu, belum punya SIM."


"Lah terus nanti kalo ada polisi di tilang gimana? Kan kita masih sama-sama di bawah umur nggak punya KTP dan SIM. Nanti naik angkot aja."


"Iya juga ya malah tambah bahaya kalau main bawa motor nggak punya KTP sama SIM. Beneran kamu mau naik angkot? Nggak apa-apa nih?"


"Iyaa nggak apa-apa kok. Aku juga sering kali naik angkot."


"Oke deh. Mar, nanti pulang aku anterin kamu ya."


"Kenapa?"


"Pengen tau rumah kamu aja. Kan aku belum tau rumah kamu gimana entar mau jemput?"


"Iya ya. Oke deh kalo gitu."

__ADS_1


Bel tanda masuk berbunyi, sekarang pelajaran bahasa inggris dan aku pergi ke tempat duduk ku. Semua teman-temanku sudah datang dan duduk di bangku masing-masing.


...****************...


__ADS_2