INSECURE, Cinta Masa Lalu

INSECURE, Cinta Masa Lalu
Kenang-kenangan


__ADS_3

4 bulan kemudian..


Aku dan Kak Ivan benar-benar berpisah sekarang. Tapi aku sudah mengantisipasi hatiku agar tidak terlalu sakit Sampai waktunya tiba. Kak Ivan sudah berada di bandara, dia terus mengirim pesan kepadaku agar aku mau menemuinya di sana. Aku meminta bantuan Daffa untuk mengantarkan aku ke sana.


Sampai di bandara, aku melihat Kak Ivan sedang duduk di kursi tunggu. Ku panggil namanya dan dia menoleh kepadaku. Dia sangat senang sekali aku datang menemuinya. Aku berlari menghampiri Kak Ivan yang duduk seorang diri.


"Kak, mana orang tua Kak Ivan? Kenapa mendadak sekali ngasih kabarnya?"


"Orang tua ku sudah duluan pergi ke sana, jadi aku hanya sendiri berangkat sekarang. Iya, maaf mar. Ibu yang beli tiketnya, aku nggak tau kalau hari ini berangkatnya. Makasih ya udah mau datang."


"Iya Kak, aku mau kasih ini sama Kakak." Aku memberikan Kak Ivan sebuah gantungan kunci berbentuk hati berwarna biru. yang jika di malam hari akan berkelap-kelip seperti bintang.


"Makasih ya, aku suka. Aku juga ada sesuatu buat kamu."


Kak Ivan memberikan aku sebuah kotak berwarna merah muda yang di ikat dengan pita berwarna senada. Kak Ivan menyuruhku untuk membukanya. Saat aku buka, sebuah kalung dengan liontin love yang di dalamnya ada inisial M&I. Permata yang ada di liontin itu bersinar terang di lihat dari berbagai sudut. Seperti berlian yang di setiap sisinya terlihat memantulkan cahaya.


"Kak, ini pasti mahal banget. Aku nggak pantes buat Nerima ini."


"Karena kamu spesial dan mahal Mar."


Aku tersipu malu mendengar Kak Ivan bicara begitu.


"Suatu saat aku kembali lagi Mar, jaga baik-baik ya. Dan aku juga akan menjaga ini baik-baik." Ucap Kak Ivan sambil memegang terus gantungan kunci itu di tangannya.

__ADS_1


"Terima kasih Kak untuk semua. Aku berharap Kak Ivan benar-benar kembali suatu saat nanti. Tapi jika memang dalam waktu 5 tahun mendatang tidak ada kabar dari Kakak, aku berhak menentukan pilihanku."


"Iya, aku akan memegang janji ku. Dan aku tidak akan mengkhianatinya. Semoga kita bisa bersatu suatu saat nanti. Aku mencintaimu Maria."


Kak Ivan memelukku dengan erat sebagai salam perpisahan. Sedih rasanya harus berpisah seperti ini, tapi takdir memang tidak ada yang tahu. Aku memasukkan kotak itu ke dalam tas ku.


Saat kami sedang terhanyut dalam suasana, terdengar seorang memanggil namanya. "Van, Ivan."


Aku melihat ke arah suara itu, dan itu ternyata Kak Kayla dan Daffa.


"Van, kenapa kamu nggak bilang kalau hari ini berangkat? Walaupun kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, tapi aku harap kita masih bisa berteman seperti biasa. Maafkan aku yang selama ini sudah banyak salah sama kamu."


Kak Kayla menangis dan dia memberikan sebuah kotak kecil berwarna coklat kepada Kak Ivan. Entah apa itu isinya.


"Maaf Daffa.. Abisnya kamu lama banget di toilet. Masa aku harus nungguin kamu di depan pintu toilet? Malu lah."


"Iya, iya." Jawab Daffa kesal.


"Semuanya, aku sangat berterima kasih sudah mau kesini. Daffa, aku percaya kamu bisa jagain Maria. Kayla, makasih juga untuk hadiahnya. Aku tidak bisa memberimu apa-apa. Maaf."


"Iya nggak apa-apa. Ada satu lagi buat kamu dari teman-teman OSIS. ini."


Kak Kayla memberikan satu kotak berukuran sedang berwarna putih kepada Kak Ivan. "Buka setelah kamu sampai di sana ya. Mereka sangat kehilanganmu Van. Kami semua pasti merindukanmu."

__ADS_1


"Terima kasih semuanya." Mata Kak Ivan berkaca-kaca.


Pesawat Kak Ivan akan berangkat sebentar lagi, kami pun harus segera berpisah dengannya. Saat Kak Kayla sudah pergi, hanya ada aku, Daffa dan Kak Ivan. Daffa mengatakan kalau dia mau ke toilet lagi. perutnya mulas dan tidak bisa di kondisikan.


Tinggal lah kami berdua. Saat situasi mulai sepi, Kak Ivan menarik tanganku dan mencium bibirku. Aku terkejut mendapat serangan tiba-tiba.. Ah, ciuman pertamaku di ambil oleh Kak Ivan yang bukan suamiku.


Ya Allah, aku sudah berdosa. Kak Ivan memegang tanganku, hingga aku tidak bisa berontak. Kami memejamkan mata.


Beberapa saat kemudian Kak Ivan melepaskan bibirnya dan juga tangannya yang menahan tanganku. Dia meminta maaf.


"Maaf Maria, aku sudah mengambil ciuman pertama kamu. Aku tidak bisa menahannya karena aku mencintaimu dan harus pergi meninggalkanmu. Aku pasti akan menikahi mu saat aku kembali nanti. Aku tidak akan memiliki kekasih di sana dan aku bisa buktikan itu."


Aku menundukkan kepalaku tidak berkata apapun. Kak Ivan memegang daguku agar aku melihat matanya. Matanya mengatakan bahwa yang di katanya tidak ada kebohongan. Lalu dia berkata lagi, "Aku mau kamu jadi istriku Maria Maharani."


Satu kecupan lagi mendarat di bibirku. Aku hanya terpaku, kenapa Kak Ivan senang sekali menciumi aku? Status kita hanya sahabat, tapi seolah-olah kita adalah sepasang kekasih.


Daffa datang dan memintaku untuk segera kembali. Untuk terakhir kalinya sebelum Kak Ivan berangkat memberikan senyuman manisnya dan mengucapkan selamat tinggal.


"Selamat tinggal sayang, sampai jumpa lagi." Kak Ivan melambaikan tangannya kepadaku. Aku menatap kepergiannya, dan entah mengapa terlintas sesosok bayangan Indra yang tersenyum kepadaku.


Ah, aku jadi kangen Indra.. Tapi tak mungkin dia kembali lagi. Berbeda dengan Kak Ivan, walaupun dia pergi tapi ada kemungkinan dia akan kembali.


'Selamat tinggal Kak, semoga kita memang berjodoh.' Maria.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2