
Setelah bel pulang berbunyi, aku segera membereskan buku-buku yang tergeletak di meja. Aku tidak menyadari kalau semua teman-temanku sudah pulang, hanya ada aku dan Zain di kelas.
Zain menghampiriku yang sedang membereskan buku-buku.
"Mar, mau pulang bareng bersamaku?" Zain menawarkan diri untuk mengantarku tapi aku menolaknya.
"Ah tidak Zain. Aku pulang naik angkot aja."
"Ya sudah, tapi kita jalan bareng ke depan gerbangnya ya."
"Oke..!!"
Setelah aku membereskan buku ke dalam tas, aku segera keluar bersama Zain. Tiba-tiba Zain bertanya tentang Kak Ivan.
"Mar," Panggil Zain.
"Iya, ada apa Zain?"
"Apa kamu bahagia sekarang?"
"Kenapa kamu tanya begitu?"
"Aku... Maaf sebelumnya, aku sudah tahu tentang Indra dari Daffa saat dulu aku membawamu ke rumah sakit. Aku tidak bisa melihatmu bersedih, walaupun sekarang aku sudah pacaran dengan Kia, tapi aku tidak bisa untuk tidak peduli padamu. Dan aku bertanya, apa Ivan bisa membahagiakanmu?"
"Zain, maafkan aku, tapi ini bukan urusanmu. Kak Ivan sudah memberikan yang terbaik agar aku bahagia. Dan walaupun Kak Ivan tidak bisa menggantikan Indra tapi aku sangat menyayanginya."
"Syukurlah.. Aku merasa lega setelah mendengarnya langsung darimu."
"Aku minta kepadamu Zain jangan pernah sakiti Kia. Dia gadis yang baik dan aku tidak mau sahabatku terluka."
"Iya, aku tidak akan membuatnya terluka. Aku janji." Zain tersenyum kepadaku.
Tak terasa kami telah sampai di depan gerbang. Zain pergi ke parkiran untuk mengambil motornya sedangkan aku menunggu angkot di depan gerbang. Di sebrang sana, aku melihat mobil yang waktu itu di pakai oleh Kak Ivan. Tapi aku cuek saja karena aku pikir itu tidak mungkin Kak Ivan.
Tapi saat aku sibuk mencari ponselku di dalam tas, terdengar suara yang aku kenal memanggil namaku dari arah samping.
"Sayangku, Maria Maharani.." Suaranya lembut dan aku melihat ke arah suara itu.
"Kak Ivan.." Aku terkejut melihat Kak Ivan sudah ada di depan mataku bersama temannya yang entah siapa namanya aku tidak tahu.
"Pulang bareng aku ayo!!" Ajak Kak Ivan yang sudah menarik tanganku untuk mengikutinya.
"Kenalin ini sahabatku, Aldi." Ucap Kak Ivan memperkenalkan temannya.
__ADS_1
"Maria." Aku mengulurkan tanganku untuk bersalaman dengannya.
"Aldi." Dia membalas uluran tanganku. Tapi, tatapan mata temannya itu membuatku malu. Dia menatapku dengan penuh keheranan dan aneh.
Kami pun pergi menyebrangi jalan, Kak Aldi berjalan didepan kami berdua dan ternyata dia yang mengemudikan mobil itu.
"Tapi Kak.. Kenapa kakak bisa ada di sini?" Aku bertanya kepadanya sambil berjalan mengikuti Kak Ivan.
"Kejutan!! Aku akan membawamu untuk menengok ibunya Aldi yang sedang di rumah sakit. Apa kamu mau?"
Saat aku hendak menjawab pertanyaan Kak Ivan, motor Zain melintas tepat di sampingku. Dia menyapaku, "Mar, aku duluan ya." Ucap Zain.
"Iya, hati-hati ya Zain." Dia menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepadaku dan Kak Ivan.
"Kamu mau nggak?" Tanya Kak Ivan lagi.
"Iya aku mau.. Memangnya di rawat dimana Kak?" Aku bertanya kepada Kak Ivan yang sudah membukakan pintu mobil agar aku masuk.
"Di RS kota."
"Tapi kalau aku pulang kemalaman gimana?"
"Nanti aku minta izin sama mamah ya. Kamu nggak usah khawatir."
Aku menganggukkan kepalaku.
"Kak," Aku memanggil nama Kak Ivan.
"Apa sayang??" Jawabnya lembut sambil tersenyum melihat wajahku.
"Aku mau ngomong penting sama Kakak." Aku menatap mata Kak Ivan.
"Masalah apa?" Tanyanya yang semakin mendekatkan tubuhnya ke arahku.
"Aku, aku tetap merasa nggak enak Kakak kasih uang sebanyak itu. Aku ingin mengembalikannya Kak, tapi Kakak jangan marah dan tersinggung. Aku cuma nggak mau di anggap kalau aku hanya memanfaatkan Kakak." Aku berbicara dengan jelas kepada Kak Ivan yang terus saja memandangi wajahku.
Kak Ivan menarik nafas panjang, dia menggenggam tanganku dan berkata,
"Sayang, kamu jangan merasa nggak enak kayak gini. Aku cuma mau buktikan kalau aku serius sama kamu." Kak Ivan mendekatkan wajahnya kepadaku yang membuatku menjadi gugup dan berdebar-debar.
"Ehem.. Bisa nggak yang di belakang jangan mesra-mesraan kayak gitu. Bikin iri aja.!!" Ucap Kak Aldi yang dari tadi seperti kesal melihat kami berdua yang bermesraan.
"Emm.. Maaf Kak Aldi." Aku menjauhkan wajah Kak Ivan dariku.
__ADS_1
Kak Ivan menoleh ke arahnya dan tertawa.
"Syirik aja Lu..!!" Jawab Kak Ivan yang seperti merasa terganggu dengan ucapan Kak Aldi.
"Iya lah gue syirik ama Lu. Cewek Lu di kasih duit malah mau di balikin lagi. Lah gue, tiap Minggu cewek gue minta duit buat ke salon. Puyeng lah gue!! Kerja juga belom." Gerutu Kak Aldi yang membicarakan tentang pacarnya.
"Makanya, cari cewek yang bener Lu. Jangan cari yang asal cantik doang.!!"
Kak Aldi tidak menyahuti ucapan Kak Ivan, sedangkan aku hanya memperhatikan mereka berdua dan tidak berbicara apapun..
"Sayang, kamu udah buka kado dari aku belum?" Tanya Kak Ivan tiba-tiba.
"Udah Kak, makasih ya.. Cincinnya bagus dan aku suka.. Tapi, kenapa Kakak bisa tau ukuran jari manis aku?" Tanyaku yang heran ketika membuka kotak hadiah ulang tahun dari Kak Ivan yang isinya ternyata cincin.
"Aku tahu semuanya tentang kamu." Kak Ivan semakin mendekati wajahku dan tidak peduli dengan keberadaan Kak Aldi yang sedang mengemudikan mobil di depan.
Tiba-tiba..
Cekittt..... Kak Aldi membelokkan mobilnya dan ngerem mendadak lalu...
Bruk..
Cuppp..
Kak Ivan memeluk tubuhku dan mencium bibirku (Lagi).. Aku tersentak kaget dan aku segera memalingkan wajahku karena malu. Sedangkan Kak Ivan malah tersenyum-senyum sendiri.
"Lu sengaja ya Al, ngerem ngedadak gitu? Mau ngerjain gue lu?" Tanya Kak Ivan sedikit tertawa.. (Padahal dalam hatinya mah seneng itu teh).
"Sorry Van.. Mobil depan ngerem mendadak juga.. Kayaknya di depan ada kecelakaan deh." Jawab Kak Aldi sambil melihat ke arah depan.
Aku dan Kak Ivan melihat ke arah depan apa yang terjadi, ternyata memang ada mobil polisi dan membuat jalanan menjadi macet.
Cukup lama kami berdiam di tempat itu karena macet. Aku berkeringat karena hawanya yang panas sekali. Aku mengambil buku untuk mengipasi wajahku yang berkeringat.
hareudang hareudang hareudang..
panas panas panas...
"Kepanasan ya? Sini biar aku yang kipasin kamu."
Kak Ivan yang melihat aku kepanasan mengambil buku itu dari tanganku, dan sekarang dia yang mengipasi wajahku dengan buku itu.
Beberapa kali aku menguap dan memejamkan mata karena mengantuk. Aku sudah tidak bisa menahan rasa kantukku lagi, di tambah dengan sentuhan tangan Kak Ivan di rambutku yang membuatku semakin mengantuk.
__ADS_1
Akhirnya aku tertidur di bahu Kak Ivan dan tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi karena aku sudah berada di alam mimpi.
...****************...