
Ivan sudah menyelesaikan pendaftaran dan segala administrasi di University Of Toronto, Kanada. Ivan mengambil jurusan Bisnis dan Kebijakan Publik. Dan hari ini untuk pertama kalinya dia memulai kuliah.
Jika di bandingkan dengan mahasiswa domestik lainnya, wajah Ivan hampir sama seperti mereka. Dengan tinggi yang mencapai 180 cm bahkan lebih tampan dan kulit yang putih bersih tanpa Freckles.
Mahasiswi nya pun cantik-cantik. Membuat para pria yang melihatnya akan jatuh cinta. Tapi tidak dengan Ivan, dia tidak merasakan apapun melihat para mahasiswi cantik itu. Bahkan terkesan cuek dengan keberadaan wanita-wanita cantik itu.
Ivan masuk kelas dan di situ sudah ada sekitar 20 orang temannya, 10 pria dan 10 wanita. Mereka saling memperkenalkan diri masing-masing yang berasal dari berbagai negara.
Salah satu temannya ada yang berasal dari Indonesia juga, dia menyapa Ivan yang sedari tadi memandangi gantungan kunci warna biru. Tadi waktu perkenalan kalau nggak salah namanya Aldi, sepertinya bisa menjadi sahabat Ivan.
"Hey bro. Lagi mikirin pacar?" Ivan terkejut mendengar Aldi ngomong.
"Kenalin gue Aldi dari Bandung. Lu dari indo juga kan?"
"Ya, gue Ivan, Salam kenal ya."
"Keliatannya lu nggak semangat banget kuliahnya."
Ivan hanya diam saja, dia seperti tidak mood menjalani harinya sekarang karena tidak bisa mengetahui kabar dari Maria. Waktu itu Facebook belum terlalu booming dan orang-orang belum banyak yang tahu. Aldi mengajak Ivan main ke rumahnya dan menyarankan Ivan untuk membuat Facebook jika Ivan ingin mengetahui kabar orang-orang yang dia rindukan.
Ivan setuju, dia berpikir semoga aja Maria sudah mempunyai facebook.
***
Di kelas X1 IPS 2..
Suasana di kelas sangat gaduh sekali. Sudah biasa setelah jam istirahat selalu seperti itu. Anak laki-laki ada yang pukul-pukul meja sambil nyanyi-nyanyi, ada yang main gitar, ada yang bercanda nggak jelas. Sedangkan para perempuan asyik mengobrol ini dan itu dengan temannya.
"Indah, like status aku ya di FB." Ucap Rina yang dari tadi sibuk dengan ponsel blackberry nya.
"Siap, kamu juga like back ya status aku." Jawab Indah.
"Fikri, add aku dong. sombong banget sih kamu."
__ADS_1
"Oke siap Rin. Aku add sekarang ya."
Aku yang dari tadi duduk di depan sendirian mendengar percakapan mereka tidak mengerti apa yang di obrolkan oleh ketiga temanku itu di belakang. Lalu aku bertanya kepada teman di sampingku.
"Silvi, pada ngomongin apa sih mereka di belakang?"
"Oh.. Itu lagi ngomongin FB. Pada minta like terus minta temenan di FB"
"FB apaan? Aku nggak ngerti."
"Facebook. Kamu mau bikin? Biar aku bikinin nanti."
"Fungsinya apa? Kan kita emang udah temenan."
"Ya elah, kamu pinter nya dalam pelajaran doang. Coba kamu ke warnet, di FB kita bisa temenan sama semua orang di negara manapun, bukan cuma di satu sekolahan aja."
"Yang bener Vi."
"Ya bener lah, mau di bikinin nggak sama aku?"
"Di tukang matrial Mar.. Ya di warnet dong onta."
"Oh, oke-oke. Nanti pulang sekolah kita ke warnet samping sekolah ya."
"Siapp.."
Entah mengapa aku merasa sangat senang dengan ajakan Silvi. Bisa berteman dengan siapapun di berbagai negara dan tidak terbatas. Aku langsung kepikiran Kak Ivan pasti Kak Ivan sudah punya FB, pikir Maria. Dia kan tinggal di Luar negeri pasti lebih maju dari Maria pemikirannya.
"Mar, tumben senyum-senyum." Zain mengejutkan aku.
"Nggak apa-apa Zain. Eh, kamu punya FB?"
"Punya, kenapa?"
__ADS_1
"Nanya aja. Aku sekarang mau di bikinin sama Silvi."
Zain menawarkan dirinya untuk membantuku membuat FB, tapi aku menolak karena sudah janjian dengan Silvi. Aku sedikit risih dekat dengan Zain, dia selalu melihat wajahku lekat dan itu membuatku merasa tidak nyaman.
Sudah 6 bulan berlalu sejak perpisahan dengan Kak Ivan di bandara. Aku merasa ada yang kurang, aku kehilangan sosok Kak Ivan yang selalu ada untukku. Aku tidak tahu apa aku sudah mencintai Kak Ivan atau belum. Tapi yang aku rasa sekarang hati ini terasa hambar. Tidak ada yang bisa membuatku berdebar-debar selain Indra dan Kak Ivan.
Aku sangat berharap dengan adanya FB ini, aku bisa berkomunikasi lagi dengan Kak Ivan. Semoga saja Ya Allah. Aku rindu sekali kepadanya walaupun sebenarnya tidak ada status di antara kita, tapi cinta bukan hanya sekedar status bukan?
Bel pulang berbunyi, aku menghampiri Silvi untuk segera ke warnet. Kami berjalan ke arah gerbang dan di sana sudah ada Daffa yang menunggu ku.
"Mar, ayo naik."
"Maaf Daffa, hari ini aku mau ke warnet dulu sama Silvi. Mau ngerjain tugas iya kan Vi?" Aku menyikut lengan Silvi.
"I... Iya" Jawabnya gugup karena terkejut dengan sikapku tadi.
"Oh yaudah kalau gitu, aku duluan ya."
Aku menganggukkan kepalaku, Ya terpaksa aku berbohong karena dia suka kepo. Silvi mengatakan kalau Daffa ganteng, sepertinya dia menyukai Daffa. Aku akan membantunya kalau memang benar dia menyukainya.
Aku mulai menyalakan PC di warnet. Aku ketik Facebook di pencarian lalu muncul link Facebook di layar. Kata Silvi aku harus membuat email dulu sebelum daftar FB. Aku kurang mengerti kala itu, jadi aku serahkan saja semua sama Silvi.
Silvi bikin email aku di Yahoo.com, lalu dia klik daftar Facebook dan mulai mengisi namaku dan lainnya. Aku tinggal pasang profil, Silvi menyarankan agar mengosongkannya dulu saja dan dia mulai nge-add teman-teman sekelas ku semua yang sudah mempunyai Facebook.
Sekarang aku akan mencari nama Kak Ivan di Facebook. Aku mulai menuliskan nama Rivandi Nalendra, klik. Lalu muncul beberapa nama di layar. Aku melihat foto profilnya dan aku menemukan foto Kak Ivan ada di salah satu nama tersebut. Aku senang sekali dan langsung add nama itu.
Silvi yang pergi dari tadi untuk membeli minuman belum juga kembali, aku langsung mengirim inbox kepada Kak Ivan. Ternyata seru juga ya main Facebook.
'Hai.. Ini benar Kak Ivan bukan? Aku Maria.' Aku klik kirim. dan ku lihat Facebook nya terakhir aktif 19 jam yang lalu. Jadi aku berencana besok akan ke warnet lagi.
Silvi datang membawa dua botol minuman. Dia bertanya apa aku senang punya Facebook. Aku jawab iya, karena baru kali ini aku tahu ada aplikasi yang bisa berteman sama orang-orang di berbagai negara.
Tak terasa kami menghabiskan waktu 3 jam. Karena hari sudah hampir petang, aku segera pulang dengan Silvi. Takutnya nggak ada angkot yang lewat kalau lebih dari jam 5.
__ADS_1
Aku pun pulang dengan hati yang riang.
...****************...