
Hari ini adalah hari terakhir aku melaksanakan MOS, kita harus bisa mendapatkan tanda tangan dari semua Panitia OSIS tanpa terkecuali. Kita harus tau nama-nama semua OSIS padahal kan OSIS itu di bagi-bagi untuk mengawas tiap kelas pasti nggak akan hapal kan.
Aku sibuk mikir, gimana caranya agar tau itu nama-nama OSIS. Memang sih OSIS ada tanda khusus di seragamnya, tapi yang jadi masalah bagian namanya di tutup oleh double tape, jadi tidak bisa melihat di name tag nya.
Seperti biasa sehabis shalat subuh aku di antar oleh Indra ke sekolah, seperti biasa pula gerbang belum di buka dan aku menunggu pak satpam buka gerbang tapi yang aku lihat di pos sepertinya tidak ada orang.
Aku pun di temani Indra sampai gerbang di buka. Seperti Dejavu, kejadian tempo hari terulang lagi. Bedanya hari ini Kak Ivan mengatakan kalau dia akan melaporkan aku kepada Pak kepsek kalau terus-terusan pacaran pagi-pagi depan gerbang.
Bukannya takut, Indra malah menantangnya. "Silahkan saja jika mau melaporkan ke kepala sekolah. Atas dasar apa anda melakukan itu?"
"Kalian memberikan dampak yang buruk untuk siswa sekolah ini." Jawabnya ketus.
Aku pun menjawab ucapan Kak Ivan yang menyinggung perasaan ku. Aku tidak melakukan apapun dengan Indra, tapi mengapa seolah-olah dia ingin sekali aku di hadapkan pada permasalahan yang besar.
"Maaf Kak, apa ada peraturan tertulis di sekolah ini yang tidak boleh di antar pacar ke sekolah? Bagaimana dengan Kakak dan teman-teman Kakak yang jelas-jelas punya pacar di sekolah ini? Bukankah itu lebih berdampak buruk ya? Kakak juga selaku ketua OSIS kenapa hanya kepada saya bersikap seperti ini?"
Aku tidak peduli dia mau marah atau melaporkanku kepada pak kepsek. Dia juga punya pacar dan setiap pagi selalu pacaran dengan pacarnya itu. Aku lihat sendiri dia sedang berciuman di belakang kantin ketika aku hendak membeli minuman waktu itu.
Sedangkan aku tidak pernah berciuman seperti itu, aku hanya memeluknya waktu tempo hari. Tapi mungkin dia berpikiran negatif pada kami waktu itu. Kak Ivan hanya diam tidak menjawab sambil bersandar di tembok menunggu gerbang di buka.
Dia melihatku yang sedang berpegangan tangan dan sepertinya dia kesal melihatku yang mesra-mesraan bersama Indra. Apa masalahnya buat dia? Syirik atau iri dengki dengan kebahagiaan orang lain?
__ADS_1
Setelah 15 menit Pak satpam datang dan membuka gerbang. Aku berpamitan kepada Indra untuk masuk.. Indra berkata, "Kalau dia cari masalah sama kamu, telpon aku ya. Daffa juga bakalan jagain kamu di sini. Jangan khawatir, aku dan Daffa akan terus melindungi kamu. Walaupun aku jauh tapi aku percaya sama kamu dan Daffa."
Aku menganggukkan kepalaku dan berlalu masuk ke area sekolah..
Di kelas Daffa sudah datang, dan aku segera duduk di bangku. Daffa langsung menghampiriku. "Udah tau kan sekarang siapa aku?"
"Iya udah tau kok. Sepupunya Indra kan?"
"Pinter,,!! Oke, karena kamu udah tau, sekarang saat kamu di sekolah aku yang jagain kamu. Karena Indra nyuruh aku untuk ngejaga kamu di sini dari cowok-cowok yang naksir sama kamu."
"Lebay banget kamu!! Siapa juga yang mau sama aku selain Indra? Udah ah sana.. Jangan ganggu aku dulu, lagi bete banget.!"
***
* POV Ivan
Aku tidak tau ada apa dengan perasaanku yang sebenarnya, kenapa aku bertindak konyol seperti tadi kepada gadis mungil itu. Aku benar-benar sudah tidak waras.
Apalagi tadi dengan jelas pacarnya membuat aku panas melihat kemesraan mereka. Jadi makin sebal aku di buatnya. Aku jadi nggak bersemangat menjalani kegiatan MOS terakhir ini.
Saat aku sedang sendirian di belakang kantin, Kayla datang seorang diri dan hendak mencium bibirku.. Dia sangat agresif dan memang biasa melakukan itu setiap pagi, tapi kali ini aku akan menolaknya. "Sana kamu, jangan melakukan ini lagi di sekolah." aku mundur menjauhinya dan melepaskan tangannya yang melingkar di leherku.
__ADS_1
Aku sudah risih dengan kelakuannya itu, aku sudah berkali-kali mengatakan jangan pernah berciuman di sekolah. Tapi dia tidak mendengarkan aku dan selalu memaksaku melakukannya. Sekarang aku harus tegas karena aku tidak mau suatu saat kepergok sama siswa lain.
Dia menatapku heran, "Kenapa? Kok sekarang kamu kasar sama aku? Apa ada cewek lain yang sekarang ada di hati kamu?"
"Tidak, aku hanya sedang tidak bersemangat hari ini, dan jangan pernah berbuat itu lagi di sekolah.!"
Bel tanda masuk berbunyi, Kayla pergi meninggalkan aku yang masih berdiri di belakang kantin. Ku lihat raut kecewa dan marah di wajahnya.
Aku tidak peduli, malah aku ingin segera putus darinya. Dia sangat egois, semua yang dia inginkan harus aku turuti. Aku harus selalu ini dan itu, semua yang di perintahkan nya bak titah seorang ratu yang tak boleh di bantah.
Sekali aku mengatakan tidak padanya, dia akan langsung memberitahukan ayahnya untuk mengambil semua saham yang ada di perusahaan ayahku. Sungguh gadis menyebalkan.!!
Tapi mulai hari ini aku akan mengatakan pada ayah agar tidak memaksaku untuk mengikuti perjodohan tanpa cinta ini. Aku benar-benar muak dengannya. Dia memang cantik dan kaya, tapi tidak dengan hatinya yang selalu saja bertindak semaunya.
Apapun nanti yang ayah katakan, aku tidak akan meneruskan perjodohan ini. Karena hati tidak pernah bisa di paksakan untuk mencintai seseorang yang tidak kita inginkan.
Aku akan mencari cara agar perusahaan ayah tetap berjalan walaupun tanpa bantuan orang tua Kayla. Aku harus meyakinkan ayah perihal itu. Agar tidak pernah memaksakan kehendak orang lain sesuai perintahnya, yang belum tentu itu dapat membahagiakan kehidupanku nanti.
* POV Ivan End
...****************...
__ADS_1