INSECURE, Cinta Masa Lalu

INSECURE, Cinta Masa Lalu
Maria marah


__ADS_3

Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Kak Ivan, sampai-sampai dia terus saja menanyakan hal yang sama kepadaku. Apa yang harus aku lakukan agar Kak Ivan percaya kalau aku sudah benar-benar mencintainya? Aku menyayangi Kak Ivan walaupun memang harus aku akui kalau rasa sayang dan cintaku pada Kak Ivan tidak sebesar rasa sayang dan cintaku kepada Indra.


Dulu, Indra bisa bersikap sangat dewasa saat Kak Ivan menyatakan cintanya padaku. Padahal aku tahu Indra sangat marah saat itu, tapi dia tidak menunjukkannya padaku. Waktu itu Indra cemburu karena Kak Ivan berniat mengantarku pulang sekolah. Indra tidak pernah menanyakan hal-hal yang sudah pasti jawabannya.


Apa Kak Ivan ingin aku memberikan tubuhku padanya agar dia percaya kalau aku mencintainya? Ya allah Kak, kenapa Kakak seperti ini? Kenapa Kakak nggak percaya kalau aku tuh udah sayang dan cinta sama Kakak?


Aku berusaha untuk tidak menangis di hadapannya, tapi aku tidak bisa menahan air mataku yang sudah menumpuk. Aku sakit Kak Ivan tidak mempercayai aku seperti ini.


Aku memalingkan wajahku dari Kak Ivan dan sepertinya Kak Ivan merasa sangat bersalah padaku, aku tidak menjawab ucapan Kak Ivan. Aku hendak pergi dan turun dari mobil. Saat aku hendak membuka pintu mobil, Kak Ivan menahan tanganku. Kak Ivan memeluk tubuhku dari samping dan dia meminta maaf padaku.


"Maafkan aku sayang,, Aku begini karena aku sangat mencintaimu. Maafkan aku, aku tidak mungkin melakukan itu padamu Maria. Kamu wanita yang aku cintai, yang aku sayangi.." Ucap Kak Ivan dengan suara lirih.. Dan aku baru menyadari kalau ternyata Kak Ivan menangis..


Selama ini aku tidak pernah melihat Kak Ivan menangis seperti ini. Apa perasaan Kak Ivan sesakit itu sampai dia menangis dan aku merasakan kesedihannya yang teramat dalam.


Aku bergeming..


Aku melepaskan tangan Kak Ivan yang memeluk tubuh mungilku. Bulir air mata membasahi wajah tampannya, sebenarnya aku tidak tega melihat Kak Ivan seperti ini. Tapi aku sudah terlanjur kesal sama Kak Ivan, aku pun keluar dari mobil dan pergi meninggalkan Kak Ivan tanpa berbicara sepatah katapun.


Kak Ivan ikut keluar dari mobil dan mengejar ku.


"Sayang... Naik lagi, biar aku antar sampai rumah." Ucap Kak Ivan yang berjalan di sampingku..


Aku tidak menjawabnya, bahkan aku tidak menoleh kepada Kak Ivan.


"Sayang.." Kak Ivan menahan tanganku, membuat langkahku menjadi terhenti.


"Maafkan aku.." Kak Ivan berdiri di depanku dan melihat wajahku yang tertunduk..


"Maaf.." Ucapnya lagi.


Entah mengapa aku tidak bisa melihat Kak Ivan menangis seperti itu. Wajah tampannya terlihat sendu, kenapa hatiku jadi sakit sekali melihat Kak Ivan seperti ini? Aku seperti bisa merasakan apa yang di rasakan Kak Ivan sekarang.


Aku menggenggam tangan Kak Ivan..


"Aku mencintaimu Kak.. Jadi tolong, jangan pernah meragukan hal yang sudah pasti. Indra hanyalah kekasih masa lalu ku yang tidak mungkin akan kembali lagi. Sedangkan Kakak sekarang ada di sampingku, untuk apa kakak meragukan hal itu lagi?"


Kak Ivan menatapku dengan tatapan yang sangat sedih.. Aku tidak tega sekali melihatnya begitu.. Aku memeluk tubuh tinggi Kak Ivan, biasanya Kak Ivan yang selalu menenangkan aku yang sedang bersedih, sekarang aku yang akan menenangkannya.


Aku mengusap air mata di pipi Kak Ivan, dia tersenyum dan memelukku lagi dengan sangat erat.. Sampai-sampai aku harus berjinjit karena tubuh Kak Ivan yang tinggi. Kak Ivan terus saja mengatakan "Maaf" kepadaku. Entah sudah berapa ratus kali dia mengatakan itu.

__ADS_1


Aku melepaskan pelukan Kak Ivan.


Aku tidak bisa marah lama-lama kepada siapapun, apalagi kepada orang yang aku sayang.


"Jangan tinggalkan aku sayang, aku nggak mau kehilangan kamu. Jangan marah lagi ya." Ucap Kak Ivan sambil mengusap rambutku.


"Aku janji aku tidak akan meragukan cinta kamu lagi Maria. Maaf," Ucapnya lagi sambil menyentuh pipiku.


"Iya sayangku Kak Ivan yang ganteng.. Muachh.. Janji ya, Kakak jangan gitu lagi." jawabku sambil tersenyum agar Kak Ivan tidak meragukan aku lagi.


"Aku baru denger kamu panggil aku sayang secara langsung." Jawabnya sambil tersenyum dan menyentuh atas kepalaku, membuat rambutku jadi sedikit berantakan.


"Ihh Kakak.. Jangan gitu tangannya, nanti rambutku acak-acakan.. Aku jadi tambah jelek nanti." Ucapku memanyunkan bibirku.


"Gemes banget sih sama kamu.. Mau jelek atau gimana pun aku tetap cinta sama kamu sayangku yang mungil.." Kak Ivan mencubit gemas pipiku.


"Aku juga sangat menyayangimu Kak." Balasku.


Kak Ivan terlihat sangat senang mendengar ucapanku. Aku merasa kalau emosi Kak Ivan sudah lebih baik sekarang.


"Naik lagi sayang, biar aku antar pulang." Ajak Kak Ivan, sedangkan aku hanya menganggukkan kepalaku.


"Sayang, besok kita main ya.." Ajaknya.


"Kemana Kak?" Tanyaku.


"Ke Situ Patenggang, aku juga bakalan ajak Daffa sama pacarnya. Gimana? Mau nggak?"


"Mauuu.... Bareng-bareng kan ya.. Sama Kak Aldi juga nggak?"


"Iya, dia juga ikut.. Kan dia yang bakalan jadi supir kita.. hehe." Jawab Kak Ivan.


"Kak, sebenarnya ini mobil punya siapa? Kak Aldi atau Kakak?" Tanyaku yang dari kemarin-kemarin sudah sangat penasaran.


"Emhh.. Besok aku kasih tau jawabannya ya sayang, sekarang udah malem. Besok kita ngobrolnya ya." Jawabnya sambil mengemudikan mobil lagi.


"Oh yaudah Kak." Aku tidak meneruskan pertanyaan ku karena memang waktu sudah malam.


Sampai didepan, mamah sudah menunggu aku di teras depan. Aku jadi kasian sama mamah yang mengkhawatirkan aku.

__ADS_1


"Assalamualaikum mah." Ucap kami berdua.


"Waalaikumsalam, kenapa pulangnya larut malem neng?" Tanya mamah.


"Maaf mah, tadi dokternya visit jam 7, jadi baru keluar RS sekitar setengah 9 an." Jawab Kak Ivan, sedangkan aku hanya diam saja.


"Oh yaudah atuh masuk dulu Kak.." Ucap mamah.


"Maaf mah, nggak usah. Udah larut malem, saya pamit aja ya mah.. Mar, Kakak pulang dulu ya . Assalamualaikum." Kak Ivan pun pamit setelah kami menjawab salamnya.


"Waalaikumsalam." Jawab mamah dan aku.


Dan aku pun langsung masuk, bersih-bersih dan istirahat. Karena saat ini aku merasa lelah sekali, terlebih lagi hatiku yang sudah terjadi konflik batin. Saat ketemu Kak Sandra tadi, saat membicarakan tentang Indra, saat Kak Ivan yang meragukan aku.


Ahh, aku lelah.. Sangat lelah mengingat semua, dan sekarang aku ingin menenangkan hati dan pikiranku.


Sekarang hatiku telah menjadi milik Kak Ivan walaupun tidak sepenuhnya. Karena walau bagaimana pun Indra tetap ada di hatiku, Indra terus saja mengisi hati ini.


Padahal aku tahu Kak Ivan sudah memberikan hatinya kepadaku sepenuhnya, tapi kenapa aku tidak bisa melupakan semua kebaikan yang Indra lakukan kepadaku?


Andai aku tidak sekolah di SMA itu, mungkin Indra masih akan bersamaku sekarang. Karena kami tidak akan pernah bertemu dengan Kak kayla yang jahat. Tapi mungkin aku pun tidak akan mengenal Kak Ivan.


Kak, aku mencintaimu.. Sangat mencintaimu.. Sudah 10 bulan kita bersama, dan sifat Kakak sangat mirip dengan Indra.


Kakak tidak pernah membentak aku saat aku rewel, Kakak tidak pernah balik marah saat aku marah, Kakak tidak pernah memperlakukan aku dengan buruk. Kakak tidak pernah merasa kesal saat aku bersikap manja sama Kakak.


Aku akan selalu bersamamu sampai kapanpun Kak.. Karena hanya ada dua nama dalam hatiku..


Muhammad Ravindra Yudistira..


Dan


Rivandi Nalendra...


Dan sekarang yang berada di sampingku adalah Kakak..


I love you sayangku yang tampan..


...****************...

__ADS_1


__ADS_2